
Bab6.. Diterima
***
Hari ini Ella berniat berkunjung kembali untuk menemui Allura. Dia berniat untuk membicarakan ini semua dengan Sinta dan juga Allura. Sepanjang perjalanan Ella terus memanjatkan doa semoga saja Allura bisa menerima lamarannya.
Dia sudah muak melihat tingkah Nina yang tidak disukainya selama ini. Selama itu pula dia telah bersabar menunggu perpisahan mereka. Akan tetapi bukannya berpisah hubungan mereka seakan semakin terikat, Ella tidak mau itu semua terjadi.
Dari kaca spion dalam mobil mang Daud melihat keresahan majikannya itu. Dia tahu betul bagaimana Ella tidak menyukai Nina sahabat dari anaknya itu.
Ingin memberi solusi tetapi Mang Daud merasa segan. Akhirnya dia simpan kembali kata-kata yang telah dia rangkai.
"Mang," panggil Ella, Mang Daud pun tersenyum samar akhirnya dia memiliki kesempatan untuk mengutarakan yang ada dalam benaknya.
"Iya, Bu," jawab Daud dengan hati riang.
"Menurutmu Allura yang kemarin kubawa ke rumah cocok tidak dengan Erlangga?" tanya Ella meminta pendapat. Daud tampak berpikir sejenak.
"Dia gadis baik, ramah, dan juga rajin Bu. Menurut saya cocok untuk Tuan Erlangga, bukankah Ibu tidak begitu menyukai kekasih Tuan," sahut Daud dengan fakta yang dia ketahui.
"Hmmm." Ella tertawa lepas ketika mendengar perkataan Daud yang memang benar kebenarannya seperti itu.
Tidak lama dari perbincangan itu mereka telah sampai di pelataran panti. Ella membuka pintu mobil dan mulai berjalan untuk menuju ruangan Sinta. Setelah dia sampai dia langsung mengetuk pintu dan Sinta mempersilakannya masuk.
__ADS_1
"Sin," Panggil Ella sembari melenggang masuk. Sinta terkejut hingga langsung berdiri, padahal baru kemarin dia berkunjung sekarang Ella sudah berkunjung lagi. Sinta sudah bingung harus menjawab apalagi pada Ella.
Sebab dirinya belum bisa memberikan keputusan karena Allura pun masih memikirkannya dengan matang. Ini masalah pernikahan dia ingin pernikahan anaknya terjadi hanya satu kali dalam hidupnya. Dia tidak ingin membuat Allura tersiksa karena perjodohan ini.
Karena bagi Sinta dirinyalah yang mempunyai jasa kepada Ella. Dan Seharusnya dia yang harus membayarnya bukan Allura.
"Jangan tegang begitu, Sin, aku tidak akan memaksa jika Allura tidak mau," ucap Ella ketika dirinya sudah tiba di hadapan Sinta. Apalagi ekspresi dari Sinta yang ketakutan akan kehadirannya membuatnya merasa bersalah.
"Tapi, bolehkah aku berbicara dengannya Sin? Aku hanya ingin bertanya saja. Tidak apa-apa jika dia menolak, kamu tidak usah khawatir persahabatan kita tidak akan merenggang juga," kekeh Ella yang merasa perubahan Sinta begitu kontras.
Sinta berdehem untuk menghilangkan rasa canggungnya, "bukan masksud begitu La, aku hanya tidak enak hati padamu saja. Kamu sudah berjasa dalam hidupku tapi aku tidak bisa membantumu. Maafkan aku, aku juga tidak bisa memaksa anakku untuk mau menikah dengan anakmu," jawab Sinta sembari menundukkan kepala merasa bersalah.
Ella langsung merangkul sahabatnya itu dengan cepat. Mungkin jawaban Allura sudah tidak mau makanya Sinta bisa berkata seperti itu. Namun, Ella pun tidak bisa memaksa tidak baik jika dilaksanakan pun. Akan tetapi jika memaksa anaknya dia akan melakukannya. Karena dia ingin anaknya mendapatkan pendamping yang terbaik.
"Aku menerima lamaran, Ibu," ucapnya dengan berjalan menghampiri keduanya. Sinta menatap anaknya dengan ragu. Ini bukan karena Ella menjadi salah satu orang terpenting di pantinya kan? Hatinya bertanya-tanya, bahkan dia ingin menegur buah hatinya itu agar memikirkan ulang kembali keputusannya.
Akan tetapi ada Ella di sana, Sinta tidak mungkin secara gamlang mengatakannya. Sedangkan Ella tersenyum sumringah ketika mendengar perkataan Allura.
"Ini beneran sayang? Ibu tidak sedang bermimpi kan, kamu menerima lamaran Ibu meski kamu dan anak Ibu belum saling mengenal?" tanya Ella melepaskan rangkulan dari Sinta. Meski Sinta enggan melepaskan, dia masih tidak percaya dengan keputusan anaknya itu.
Akhirnya Sinta melepaskannya meski sangat berat. Dengan penuh rasa haru Ella langsung memeluk Allura dengan sayang dan penuh kelegaan di dalam hatinya.
"Iya, Bu. Aku menerimanya," sahut Allura dengan senyuman, ia juga mengelus pundak Ella dengan lembut.
__ADS_1
"Ibu sungguh bahagia, sayang. Ibu sudah suka dari dulu padamu. Ibu yakin kamu yang terbaik untuk anak Ibu, Ibu harap kamu bisa menerima dan mencintainya lambat laun ya," ucap Ella mengungkapkan rasa sukanya pada Allura.
Ella pun melepaskan pelukannya dan berjalan mendekati Sinta yang masih belum bisa menerima ini dengan cepat. Namun, Ella berusaha meyakinkan bahwa anaknya akan bahagia meskipun menikah tanpa cinta.
"Lebih cepat, lebih bagus bukan. Beberapa hari lagi kamu akan menikah, ya Al. Besok kita akan melakukan fitting baju." Ella mengusap lengan Allura dengan lembut.
"Karena ini sudah jelas, aku pamit dulu ya Sin, Al. Kamu jaga diri baik-baik ya, sebentar lagi kamu akan menjadi menantu Ibu, menantu yang Ibu inginkan sedari dulu." Tidak henti-hentinya Ella mengungkapkan rasa harunya.
Setelah berpamitan Ella pun langsung pergi meninggalkan panti. Namun, berbeda dengan Sinta yang mulai menyeret agak kasar lengan anaknya agar duduk di kursi. Wajahnya menggambarkan kekecewaan yang mendalam. Tanpa memberitahukan apa dan mencari solusinya terlebih dahulu.
Namun, Allura sudah mantap untuk menerimanya, "ini keputusan Al, Ma. Mama yakin saja kalau keputusan Al ini yang terbaik dan akan menjadi jalan menuju kebahagiaan Al nantinya," ucap Allura saat Sinta masih memperlihatkan kekecewaan.
"Apa kami tidak memikirkannya dengan ulang? Buka masalah kamu tidak akan bahagianya bagi Mama. Mama hanya takut kamu tersakiti, ini pernikahan tanpa cinta sayang, pernikahan yang adanya cinta pun bisa tersakiti apalagi kamu yang tidak memiliki cinta secuilpun," lontar Sinta panjang lebar menjelaskan. Dia masih tidak menerima keputusan anaknya.
"Pokoknya Mama tidak mau tahu, kamu harus membatalkannya sebelum menyesal, Al!" sentak Sinta masih tidak mau mengalah dengan keputusan Allura.
"Mama harus menerima keputasan Al, Allura sudah besar. Allura sudah tahu mana yang baik dan tidak, Mama doakan saja Al, supaya semuanya berjalan sesuai yang Allura harapkan," jawab Allura dengan lembut meyakinkan Mamanya. Namun, bukan seorang Mama jika hatinya masih ragu, apalagi ini masalah pernikahan.
"Ini bukan masalah sepele Allura, ini pernikahan. Pernikahan itu bukan kamu tidak sanggup kamu bisa menyerah. Jika pernikahanmu baru seumur jagung dan kamu memilih bercerai kamu mau menjadi janda di usia muda!" sentak Sinta menyadarkan anaknya.
Tetapi Allura hanya membalas Mamanya dengan senyuman manis khasnya. Sudah biasanya baginya ketika Sinta meninggikan suaranya saat pendapat keduanya bertolak belakang. Allura tahu kekhawatiran sang Mama pada dirinya. Itu menandakan jika Sinta terlalu menyayanginya dan tidak ingin Allura salah memilih jalan, apalagi masalah pasangan hidup.
***
__ADS_1
Bersambung ...