
Bab20. Sia-Sia.
***
Selesai membersihkan diri Erlangga mencari pakaiannya. Namun, tidak memakai yang sudah disediakan oleh Allura. Dia tidak ingin membuat wanita itu semakin berharap padanya. Padahal dia sama sekali tidak memberikan harapan sedikit pun.
Setelah selesai memakai pakaiannya Erlangga turun kebawah untuk makan malam. Di sana sudah ada Allura dan juga Ella yang menunggu Erlangga. Sedangkan Dinda gadis itu jarang makan bersama setelah keberadaan Allura di rumahnya.
Allura menoleh kearah Erlangga dengan tatapan sedih, ternyata pakaian yang telah ia siapkan sama sekali tidak disentuhnya. Padahal dia sudah memilih baju itu cukup lama agar Erlangga bisa menggunakannya.
Tertunduk menahan air mata, namun Ella meyadari sikap Allura yang berubah saat kedatangan Erlangga.
"Apalagi yang dia lakukan pada menantuku," batin Ella menatap anaknya dengan tajam. Erlangga yang mendapat tatapan itu pun mengerutkan dahinya merasa aneh dengan tingkah Mamanya.
Meski istrinya pun tingkahnya cukup aneh tetapi Erlangga tidak menyadarinya. Sebab sedikitpun dia tidak memikirkan Allura di benaknya.
Ketika Erlangga dan Ella sudah membawa makanan dan mulai menyantap makan malamnya. Allura mulai berani mengangkat wajahnya dan mengembangkan senyumannya, meski hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Selesai makan malam, Erlangga menuju ruangan kerjanya. Tanpa berpamitan dan meminta maaf pada Allura karena dia tidak memakai pakaian yang telah disediakan Allura.
"Sayang," panggil Ella yang mengerti. Dia mendekati Allura dan memintanya untuk naik keatas saja tanpa membantu membersihkan sisa makan barusan.
Allura pun naik keatas. Di saat dia memasuki kamar dia menatap nanar pakaian yang telah dia siapkan masih utuh di sana tanpa berpindah tempat. Dengan gontai pula Allura berjalan menuju kamar mandi, di sana pun dia menatap bathtub yang masih terisi tidak terpakai.
Ternyata Erlangga memilih mengguyur tubuhnya, ketimbang harus berendam. Dengan sesak Allura berjalan menuju ranjang dan duduk di tepi ranjang dengan perasaan sedih.
__ADS_1
Di saat lamunan yang sedang dirasakan, ponselnya berdering. Sinta menghubungi Allura yang merasa tidak enak hati selama beberapa hari ini, setelah menikah hatinya seolah tidak memberikan Allura untuk tinggal di rumah Ella. Tetapi, apa yang bisa Sinta lakukan sekarang? Anaknya telah berkeluarga, dia berhak mengikuti kemana suaminya pergi.
"Nak, apa kamu tidak apa-apa?" tanya Sinta saat Allura mengangkat teleponnya. Seketika mata Allura berkaca-kaca mendengar pertanyaan itu. Feeling seorang ibu tidaklah akan melesat.
Allura tertawa kecil demi menutupi suara seraknya yang terharu karena tetesan air mata yang tadi di tahan kini luruh lantah tanpa diminta.
"Aku baik-baik saja," jawabnya dengan mencoba tertawa lepas agar sang Mama tidak khawatir padanya.
Sinta cukup merasa lega, namun hatinya masih merasa janggal. Sepertinya dia harus menjenguk anaknya di sana.
"Benarkah, Nak? Jangan berbohong pada Mama? Mama bisa merasakannya apa suamimu tidak bisa bersikap baik padamu?" tanya Sinta lagi mencoba menebak. Keresahan hatinya tidak bisa membendung rasa tidak enak hatinya.
"Mama tenang saja, Ibu Ella sangat baik pada Al. Untuk suamiku juga dia baik, Ma. Meski dia belum menerima aku sepenuhnya sebagai istri," ungkap Allura memberitahukan.
Tanpa Allura sadari ada seseorang yang berada di pintu luar kamarnya tengah menguping. Erlangga, ya lelaki itu mendengarkan pembicaraan Allura dia ingin tahu apakah Allura akan menjelekkan dirinya pada orang lain, termasuk mamanya.
"Hmmm, benarkah? Mama besok mau menjenguk kamu ya," ucap Sinta.
"Iya, Mama kemari saja. Aku jemput ya?" tanya Allura memberi penawaran.
"Tidak usah Mama sendiri saja, Mama sudah terbiasa kemana-mana sendiri," tolak Sinta, dia sudah terbiasa dengan kemandiriannya, apalagi setelah kepergian suaminya. Dan entah mengapa takdir hidupnya hampir mirip dengan sahabatnya itu. Mereka hanya berbeda di finansial, Ella ditinggalkan warisan yang cukup untuk menghidupi dirinya dan kedua anaknya. Sedangkan Sinta harus berjuang seorang diri untuk membesarkan Allura.
"Ya sudah," jawab Allura pasrah, dia sudah tahu bagaimana sifat Mamanya. Jika sudah berkata tidak meskipun ia menawarkan dengan paksa tidak akan membuahkan hasil.
Telepon pu di matikan, Erlangga yang dari luar tidak mendengar percakapan mereka lagi pun mulai membuka pintu dan berjalan menuju sofa tanpa menoleh kearah Allura.
__ADS_1
Meski dia melihat sekilas Allura tengah tertunduk seperti tengah bersedih. Dipikiran Erlangga pasti wanita itu bersedih karena apa yang di siapakannya tidak terpakai oleh Erlangga.
Setelah tenang Allura mengangkat kepalamya dan melihat Erlangga yang seperti biasa tengah sibuk dengan ponselnya. Seperti biasa memang lelaki itu akan menyibukkan diri untuk berbalas pesan dengan selingkuhannya.
Allura berjalan menuju wall in closet untuk menyimpan pakaian Erlangga. Di sana dia hanya bisa mengembuskan napas kasar karena apa yang dia lakukan sia-sia. Tetapi dia tidak mau menyerah.
Kakinya terasa lemas, Allura pun mencoba menggapai sofa kecil yang berada di sana untuk ia duduki. Menatap dengan kosong dan meratapi kehidupannya. Finansialnya tercukupi bahkan lebih, akan tetapi hatinya tersiksa karena belum diterima, dan bahkan tidak ada ruang di dalam hati suaminya.
Erlangga yang heran karena Allura cukup lama di dalam pun mulai menyusul. Dia takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Bukan berarti dia menyukainya Erlangga hanya tidak ingin menjadi orang yang bertanggungjawab jika terjadi hal buruk padanya.
Ketika Erlangga masuk dia melihat Allura yang tengah melamun di sana.
"Kamu ngapain?" tanya Erlangga, tetapi Allura tidak merespon. Dia masih asyik dengan lamunannya.
Dua, sampai tiga pertanyaan yang sama membuat Erlangga mau tidak mau harus berjalan mendekat dan menyentuh pundak Allura. Seketika Allura terperanjat dan langsung berdiri menghadap Erlangga.
"Eh, kenapa Tuan." Bingung Allura saat Erlangga sudah berada didekatnya.
"Harusnya saya yang bertanya, kamu kenapa di dalam sini lama-lama. Melamun tidak jelas seperti orang susah, kamu itu harusnya bersyukur sekarang kamu tidak perlu bekerja untuk keperluan kamu," ucap Erlangga mengingatkan. Allura hanya menunduk karena apa yang di katakan Erlangga benar adanya.
"Iya, yasudah aku keluar dulu," pamit Allura tanpa membantah ucapan Erlangga. Padahal dia ingin sekali Allura menentangnya. Agar dia bisa mempunyai alasan pada Mama nya agar mereka bisa secepatnya bercerai. Makanya Erlangga selalu melakukan panggilan video di depan Allura.
Agar wanita itu tidak tahan dan menggugat cerai dirinya. "Bisa-bisanya dia masih bersikap biasa saat aku mencoba membuatnya lelah," resah Erlangga sembari memijit pelipisnya dengan memutar.
Dia pun berjalan keluar dan duduk kembali di sofa. Dia melihat Allura di sana sudah menyelimuti tubuhnya dengan selimut hingga menutupi kepala.
__ADS_1
***
Bersambung ...