Penantian Allura

Penantian Allura
Bab23. Aku Atau Kamu Yang Kalah?!


__ADS_3

Bab23. Aku Atau Kamu Yang Kalah?!


***


Ella berpamitan pada Allura jika dirinya akan pergi untuk mengunjungi panti. Dia sudah lama tidak menengok panti setelah pernikahan Allura dan Erlangga di gelar. Allura hanya mengangguk saja, dia pun lebih memilih menghabiskan banyak waktu di dalam kamarnya.


Pukul tiga Dinda dan Nina pulang, sebelum masuk kedalam kamarnya Dinda menyuruh Nina untuk masuk kedalam kamarnya terlebih dulu, sedangkan dia berjalan-jalan mengelilingi rumahnya mencari Ella sang Mama.


Di saat dia tengah mencari namun tidak menemukan sosok Ella, Mbak Inah memberitahunya jika Ella sedang tidak berada di rumah. Dengan senyuman mengembang Dinda langsung berbalik dan berlari menaiki tangga. Itu artinya dia bisa bebas melakukan hal apapun terhadap Allura karena Mama nya tidak berada di rumah.


Sebelum masuk kedalam kamar Allura Dinda masuk kedalam kamarnya untuk membawa Nina. Nina yang tengah selonjoran di ranjang pun heran melihat raut wajah Dinda yang kegirangan.


"Kenapa sih, Nda?" tanya Nina memicingkan alisnya. Dia masih marah pada Erlangga. Meski semalam dia berpura-pura tidak terjadi apa-apa karena untuk membuat Allura cemburu dan menyerah.


"Mamaku tidak ada, Nin," jawab Dinda sembari melompat-lompat kecil saking terlalu bahagianya.


"Lah, masalahnya apa kalau Mamamu enggak ada?" tanya Nina lagi yang belum mengerti dengan ucapan Dinda.


"Yasudahlah, kamu ikut aku saja. Supaya kamu tahu maksudku apa." Dinda menarik tangan Nina yang semula selonjoran. Bahkan Nina belum sempat memakai alas kaki. Nina pasrah dan mulai mengerti saat mereka berdua memaksa masuk kedalam kamar Allura tanpa mengetuk atau menunggu penghuni dari dalam mengizinkan masuk.


Mereka sudah berdiri di samping ranjang, sedangkan Allura tidak menyadari keberadaan mereka mengingat dia tengah mendengarkan lagu melalui ---earphone. Dinda dengan kasarnya membuka dan membuangnya.


Allura terkejut ketika --aerphone nya dicabut dengan paksa. Dia menoleh kearah Dinda dan juga Nina dengan datar.


"Mau ngapain sih, dua srigala ini," batin Allura.


Dinda ikut mendudukan bokongnya di tepi ranjang dan membisikan sesuatu. Dia bahkan menekan lengan Allura dengan kuat. Saking dia cemburu dan sakit hatinya karena perlakuan Ella padanya.

__ADS_1


"Apa yang telah kamu bicarakan pada Mamaku sampai dia selalu melihatku salah, sedangkan kamu yang melakukannya selalu nampak biasa!" cerca Dinda.


Allura mencoba bersabar saat lengannya ditekan. Ingin sekali dia menangkisnya. Akan tetapi dia masih menghargai Dinda yang adik iparnya.


"Menurutmu, aku bicara apa? Menjelekkan kamu pada Mamamu?! Untuk apa? Aku tidak bermuka dua, ya," bantah Allura sembari menghempaskan jemari Dinda yang masih menggantung di lengannya.


Tangan Dinda terhempas hingga badannya terhuyung hampir terjatuh dari ranjang. Untung saja ada Nina sehingga dia berhasil ditopang olehnya.


"Heh, kurang *jar ya, kamu mentang-mentang jadi anak emasnya Tante. Mau berbangga hati sudah jadi nyonya di sini? Ingat ya, saya yang akan secepatnya menggantikan kamu," geram Nina yang melihat sikap Allura yang mulai kasar.


"Memang bisa? Silakan jika bisa! Saya menunggu hari itu." Allura tertawa meledek mereka. Dinda yang semakin geram pun menjambak rambut Allura.


Nina yang melihat Dinda sudah kalap pun mencoba memisahkan mereka. Dia takut saat pertengkaran itu masih terjadi Ella datang dan melihat pertengkaran mereka. Nina tidak ingin namanya semakin jelek, dan ketakutan terbesarnya adalah jika dia di tuduh menjadi orang yang menjadi provokator atas kebenciannya Dinda terhadap Allura.


Padahal kebencian itu hadir dengan sendirinya karena Dinda tidak menyutujui pernikahan Erlangga dan Allura yang begitu cepat.


"Apa sih, Nin kamu malah misahin aku begini. Aku belum puas membuatnya tersiksa," geram Dinda yang tidak terima.


"Tidak usah seperti itu, cukup dengan perilaku dan kata-kata menyakitkan untuk membuatnya menyerah. Jika sudah begini aku tidak setuju," bisik Nina mendekatkan mulutnya di dekat telinga Dinda. Namun, matanya menatap tajam kearah Allura.


Allura yang di tatap hanya mencebikkan bibirnya. Dia tengah sibuk membereskan rambutnya yang berantakan karena jambakan dari Dinda. Sebenarnya dia penasaran apa yang di katakan Nina hingga berbisik-bisik seperti itu.


Rasanya dirinya ingin mendekat kearah keduanya agar dapat mendengar bisikan itu. Namun, itu cukup mustahil yang ada dia kalah karena satu lawan dua.


Dinda mengangguk-ngangguk dan menatap Allura dengan tajam lagi. Dia sungguh muak terhadap Allura.


"Wanita yang numpang hidup!" hina Dinda yang mengetahui jika Allura cukup susah dalam hal ekonomi.

__ADS_1


Namun, bukan Allura jika dia tidak bisa menutupi sakit hatinya. Dia hanya mengangkat tangannya dan meniup-niup kukunya seolah tengah menunggu kukunya kering karena memakai kutek.


"Kamu punya malu gak sih? Kamu tuh tidak sebanding dengan Mas saya, dan lihat gayamu sungguh kampungan," ucap Dinda lagi yang ingin memancing Allura agar memakinya. Atau bahkan menjambaknya seperti tadi agar dia bisa mengusir Allura dari rumah ini. Namun, Allura masih santai mendengarkan.


"Dasar wanita tidak laku, bisa-bisanya menerima perjodohan padahal baru satu kali bertemu. Murah sekali harga dirinya." Dinda lagi-lagi melontarkan kata-kata pedasnya. Namun, Allura tidak bereaksi apa-apa lagi. Dia bahkan kini hanya menggulung-gulung ujung rambutnya seolah apa yang di katakan Dinda hanya angin lalu.


Niat Dinda ingin membuat Allura marah padanya, namun ternyata dirinya sendiri yang malah dibuat kesal, emosi. Akhirnya dia pergi dari kamar Allura dengan menghentakkan kakinya dengan keras. Dinda sampai lupa mengajak Nina yang masih berada di dalam.


Saat Dinda sudah keluar dia masih betah di sana melihati Allura dengan tajam.


"Apa kamu lihat-lihat begitu? Gak takut matanya jatuh," ledek Allura dengan tertawa kecil. Tangannya terangkat menutupi mulut.


"Aku heran sama kamu, tidak punya rasa malu meski sudah diperlakukan seperti tadi oleh adik iparmu." Kini tawa renyah keluar dari mulut Nina.


Allura benar-benar gemas pada Nina. Tangannya sudah gatal ingin menggaruk wanita yang kini sedang membelakanginya itu. Harusnya Allura yang berkata tidak punya malu pada Nina. Karena sudah mengetahui lelakinya sudah menikah tetapi dia masih menjalin hubungan dengannya.


"Cepatlah berpisah dengannya, agar aku tidak perlu tepot-repot mendengar kekasihku selalu membahas pernikahan. Kami masih ingin berpacaran saja," pinta Nina.


"Yang pacaran akan kalah dengan yang sudah menikah," jawab Allura dengan entengnya. Nina berbalik dan menatap Allura dengan gemas.


"Meski kami masih pacaran dan kamu sudah menikah, tetapi dia mencintai saya. Bukankah setiap malam kami selalu melakukan video call agar kamu sadar kalau kamu itu tidak diinginkan oleh pacarku!" Tunjuk Nina dengan wajah bengisnya.


"Tidak masalah bagiku. Aku anggap itu semua cobaan. Karena tidak ada pernikahan yang mulus tanpa ujian, kita lihat saja nanti siapa yang kalah. Kamu atau aku!"


***


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2