Penantian Allura

Penantian Allura
Bab29. Pura-Pura Polos.


__ADS_3

Bab29. Pura-Pura Polos.


***


Allura masih memakai jas yang dipakaikan oleh Erlangga. Dia bahkan berselfie ria dengan pakaian Erlangga yang menurutnya sungguh romantis itu. Padahal Erlangga memakaikannya karena dia merasa pakaian Allura akan terbuka jika dia tidak menutupinya.


Bukan berarti Erlangga mulai membuka hati dan harapan untuk Allura. Namun, berbeda dengan Allura dia semakin yakin jika Erlangga sudah mulai bisa menerimanya di dalam hatinya.


Tiga puluh menit Allura menunggu sampai-sampai bibirnya tidak berhenti tersenyum karena bahagia. Erlangga masuk dan heran melihat Allura yang senyum-senyum sendirian.


"Sampai kapan kamu mau di sini, saya mau pulang sekarang juga," ucap Erlangga membereskan meja kerjanya lalu membawa tas kerja untuk dibawa pulang.


Seketika Allura berdiri dan memberikan jas itu pada Erlangga. Agar suaminya bisa memakainya lagi. Erlangga membawanya dan hanya menyampaikannya di lengannya.


Erlangga pun pergi dan Allura mengikutinya dengan refleks. Diperjalanan menuju keluar karyawan kebingungan melihat bosnya yang di ikuti oleh wanita, mereka berpikiran jika bosnya itu tengah beraselingkuh atau telah putus dengan Nina. Karena yang mereka ketahui bosnya telah lama menjalin hubungan dengan Nina.


"Itu pacarnya Pak Elang bukan sih?" tanya karyawan 1 pada temannya. Karyawan 2 menggedikkan bahu karena tidak mengetahuinya.


"Tadi ku lihat juga Mbak Nina seperti marah-marah di ruangan Pak Elang. Kayaknya pak Elang ketahuan selingkuh deh, soalnya kan wanita itu sudah dua kali juga membawakan makan siang kesini," ucap Karyawan 1.


"Ya udah sih, tidak apa-apa. Toh, juga mereka masih pacaran kan, kalo sudah menikah baru tidak boleh," jawab Karyawan 2 sambil tertawa kecil.


***


Erlangga memijit pelipisnya ketika Allura masih mengikutinya sampai keparkiran. Jika tidak mengajaknya dia akan di marahi lagi oleh Ella. Sedangkan jika dibawa urusannya akan lebih rumit lagi mengingat dirinya akan menjemput Nina dan Dinda.


"Kamu mau saya antarkan?" tanya Erlangga, Allura hanya menganggukkan kepalanya. Erlangga pun menyuruh Allura untuk masuk.


Di perjalanan tidak ada perbincangan di antara keduanya. Erlangga focus menyetir sedangkan Allura tengah memandangi jalanan. Tidak apa baginya meski tidak ada percakapan seperti layaknya suami istri, yang terpenting hubungannya sudah ada kemajuan ketahap seperti ini.

__ADS_1


Allura ingin membuka percakapan dengan memberitahu Erlangga tentang tambahan keinginannya itu, akan tetapi dia malu mengatakannya. Dia takut jika Erlangga tidak menyutujuinya dan dia diturunkan di tengah jalan seperti ini. Yang ada nanti dia menjadi sasaran amukan dari Ella.


Seketika Allura mengernyit ketika jalan yang mereka lewati bukankah menuju kearah rumahnya. Melainkan kearah kampus, Allura yakin jika Erlangga akan menjemput dua srigala itu. Bisa pecah telinganya jika mendengaran ocehan mereka berdua. Apalagi mengungkit masalah pernikahannya. Rasanya Allura ingin sekali pergi dari mobil Erlangga atau bahkan jika bisa dia ingin menghilang saat itu juga dari sana.


Tiba di sana Erlangga menunggu di depan, beberapa menit berlalu akhirnya yang ditunggu datang. Nina dengan tawa kecilnya membuka pintu depan sedangkan Dinda membuka pintu belakang.


Begitu tercengangnya Nina ketika membuka pintu mobil sudah ada wanita yang sangat dibencinya, begitupun dengan Dinda dia juga geram karena Erlangga membawanya.


"Mas!"


"Masuk saja dulu, nanti kita bicarakan. Jangan marah-marah, redam emosimu malu ini sedang ada di mana," ucap Erlangga mengingatkan.


"Turun kamu, saya yang harusnya duduk di sini." Nina menarik tangan Allura agar Allura keluar dari depan dan berpindah duduk. Akan tetapi Allura tetap mempertahankan duduknya agar dia masih duduk di sana.


Dengan tatapan tajam Nina melihat Allura, tetapi dengan bahasa isyarat Allura menyilangkan lengannya seolah menolak keinginan Nina. Emosinya sudah sampai di ubun-ubun, ketika Nina melihat penolakan Allura. Akan tetapi dia berusaha meredam emosinya dan mengalah untuk duduk dibelakang.


"Ya, seharusnya begitu. Aku istri sah," batin Allura berbangga hati karena kali ini Nina mengalah padanya.


Erlangga tidak menegur keduanya. Dia hanya mengamati saja. Membiarkan dua wanita itu memperebutkan hal yang tidak penting. Ketika mobil telah melaju Dinda berucap.


"Kamu ini ngapain sih, Mas bawa-bawa dia. Masalah kamu saja karena dia, eh si pembawa masalahnya malah dibawa," cerocos Dinda yang tidak suka.


"Kamu kan tahu Nda, kalau dia pulang sendiri nanti Mama marah lagi," jawab Erlangga.


"Ya, terus ... Atau, dia datang ke kantor kamu lagi gitu?" tanya Nina pada Erlangga. Lalu bertanya juga pada Nina


"Kamu kok gak bilang sih Nin. Biar aku jambak nih wanita tidak tahu malu ini." Tangan Dinda mencoba meraih rambut Allura, akan tetapi Allura dengan cepat memajukan badannya kedepan agar tidak tergapai oleh Dinda.


"Bisa-bisanya wanita ini di ajak!" seru Dinda menendang kursi Erlangga.

__ADS_1


Allura tidak menjawab perkataan mereka seperti biasa jika di depan Erlangga. Dia harus menjadi wanita polos yang teraniaya oleh kedua srigala itu agar Erlangga tidak akan percaya jika Allura mengerjai mereka.


"Kebiasaan dia kalau depan, Mas Erlangga pura-pura tidak melawan. Padahal aslinya mulutnya tajam lebih dari kita," cerca Dinda lagi yang terus memojokkan Allura.


"Mas," panggil Nina ketika sesaat Dinda tidak bersuara.


"Iya," jawab Erlangga dengan lembutnya.


"Kamu sayang gak sih sama aku? Kayaknya aku ngerasa kasih sayang kamu mulai berkurang," lirih Nina yang merasa dirinya akan mulai tergeser oleh Allura, mengingat wanita itu selalu bersama Erlangga. Apalagi mereka kini satu kamar.


Kecemasannya sungguh berkali-kali lipat kali ini, apalagi melihat Erlangga yang tidak membelanya saat tengah merebutkan kursi duduk. Baru kali ini dia duduk dibelakang seperti orang asing.


"Kenapa bertanya begitu?" Erlangga berbalik bertanya.


"Ya iyalah aku juga akan berpikiran begitu. Mana ada masalah karena wanita itu, eh, malah dibiarin duduk di depan," potong Dinda menimpali.


"Nanti pas makan kita bicarakan ya, sayang." Erlangga berusaha menenangkan kekasih hatinya.


"Heh, kamu turun sana!" usir Dinda sembari menendang kursi yang di duduki Allura. Allura hanya diam saja, dia menundukkan kepalanya seolah merasa takut.


"huft, jikasedang bertiga saja aku ingin membalik-balikkan kata-kata kalian itu. Tapi karena di depan suamiku aku harus bersikap seperti ini," ucap Allura membatin.


Erlangga menoleh sekilas kearah Allura, dia merasa kasihan akan tetapi dia juga tidak bisa membelanya. Akan menjadi masalah lagi jika dia membela Allura.


"Jangan pura-pura takut kamu," gemas Dinda.


Nina hanya diam tanpa ikut menimpali Dinda yang tengah memakinya terus-menerus. Meski hatinya dongkol dan sudah gatal ingin juga memaki Allura. Tetapi dia harus membatasi ucapannya ketika di depan Erlangga.


Jika nanti ada waktu saat Erlangga tidak ada Nina akan memakinya habis-habisan.

__ADS_1


***


Bersambung ...


__ADS_2