Penantian Allura

Penantian Allura
Bab31. Sama Saja Kamu Memberi Harapan.


__ADS_3

Bab31. Sama Saja Kamu Memberi Harapan.


***


Erlangga mengembuskan napas kasar dengan apa yang didengarnya dari dua wanita di hadapannya. Apakah benar semuanya akan sepatal itu? Jika iya Erlangga benar-benar harus bersikap seperti awal mula agar Allura tidak berharap lebih padanya.


Jujur dia tiidak menyukai Allura, akan tetapi kini dia mulai nyaman hari-harinya di ganggu oleh Allura. Bahkan baginya saat Nina dan Allura berselih paham dia merasa menjadi obat penenang. Lalu, apakah Nina mulai bergesar dari dalam lubuk hatinya?


Entahlah, Erlangga belum bisa menyelami maksud Nina yang belum ingin membina rumah tangga. Padahal mereka sudah menjalin kasih cukup lama.


"Ngerti gak, Mas?!" tanya Dinda saat Erlangga malah melamun tanpa menjawabnya.


"Memang bisa menjadi seperti itu?"


"Lah, kamu tidak tahu bagaimana dia bangganya menjadi istrimu," ucap Dinda.


"Ya, bagus itu tandanya dia tidak malu memiliki Mas-mu ini, Nda," jawab Erlangga yang seketika membuat Nina melotot tajam kearahnya.


"Maksud kamu apa? Memang aku tidak bangga begitu memiliki kamu?" tanya Nina dengan berapi-api. Dinda dengan cepat mengelus pundak Nina agar dia merasa tenang mengingat ini masih di tempat umum.


"Cepat bayar aja, Mas bil-nya. Kamu malah mancing-mancing harusnya menenangkan. Kalo mau mancing di kolam harusnya," ketus Dinda mengambil kunci mobil dan membawa Nina keparkiran.


"Kamu ini kenapa sih, Nda. Malah kayak gini aku belum puas nanya sama Mas-mu," gerutu Nina sedikit kesal pada Dinda.


"Sudah-sudah, jalan saja kaliam berdua. Selesaikan masalah kalian, aku itu pusing dengar kalian berantem terus," titah Dinda, dia memilih pulang naik taxi agar Nina dan Erlangga mempunyai waktu untuk menyelesaikan masalahnya.


Erlangga pun datang membuka pintu mobil, dia menoleh kearah belakang namun tidak menemukan adiknya.


"Kemana Dinda?" tanya Erlangga pada Nina, dia mendudukkan bokongnya di kursi serta memakai sabuk pengaman.


"Pulang duluan," ketus Nina menghadap kearah jendela.


"Kenapa pulangnya tidak sama-sama?"

__ADS_1


"Pikir saja sendiri!"


Tidak ingin berdebat yang hal tidak dia pahami, Erlangga pun memilih diam dan lebih focus menyetir. Namun, Nina yang melihat Erlangga seperti itu gemas sendiri akhrinya dia dengan kasar berbalik menghadap Erlangga dengan tatapan geramnya.


"Kamu mau diam terus, dan tidak berusaha membujukku!"


"Ya, lalu aku harus bagaimana? Aku sudah mencoba menjelaskan, itu semua ada di kamu tinggal kamu mau percaya atau tidak,"


"Tapi setidaknya kamu berusaha lagi meyakinkan aku, kalau perhatian kamu itu hanya sebatas karena terikat Mama mu bukan karena kamu tertarik padanya," gerutu Nina dengan gemas dengan jawaban Erlangga.


Namun, bukannya menjawab, Erlangga malah mengirimkan sejumlah uang ke rekening Nina. Ponsel Nina yang berdering dia pun membukanya dan melihat transferan itu.


"Ini bukan soal uang, Mas. Ini tentang kamu yang harus berusaha meyakinkan aku dengan sikapmu. Bukan apa-apa kamu main transfer terus,"


"Kamu harusnya paham dan sadar dengan berjalannya hubungan kita yang tanpa kepastian ini aku tetap bertahan dan tidak memedulikan dia yang sudah berstatus istriku. Sedangkan kamu yang sudah mengenal aku lebih lama tidak ingin aku nikahi juga, lalu dia yang baru saja bertemu denganku dengan percayanya menikah denganku meski dia tahu aku tidak mencintainya," ucap Erlangga panjang lebar.


Emosi Nina semakin terbakar karena ucapan Erlangga baginya bagai kompor yang membuatnya membara.


"Oh, kamu mulai membandingkan aku dengan dia! Aku tidak murahan seperti dia,"


"Ya sudah kalau kamu sudah bisa menerima dia, kita tidak usah bertemu lagi!" ucap Nina yang merasa dirinya sudah tidak diharapkan lagi.


Erlangga lagi-lagi mengembuskan napas kasarnya berulang-ulang kali. Sungguh dia sudah bingung harus menjelaskannya lagi bagaimana.


"Aku harus apa?"


"Kamu masih bertanya kamu harus apa? Harus apa, sedangkan aku cuma minta kamu berhenti untuk memperhatikan dia. Dengan cara kamu memberikan ongkos padanya itu kamu perhatian padanya, Mas," teriak Nina yang mengomentari sikap Erlangga terhadap Allura.


"Ok, aku salah, aku minta maaf. Kamu sudah mendingan sekarang?" tanya Erlangga, Nina pun menganggukkan kepalanya karena Erlangga telah meminta maaf padanya. Tangannya sebelah mengelus puncak kepala Nina dengan lembut.


"Jangan marah-marah terus," lontar Erlangga. Nina kembali menganggukkan kepalanya.


***

__ADS_1


"Ngapain sih aku diajak kalau gak dipesankan makan juga!" gerutu Allura saat dia sudah mendapatkan taxi.


Sepanjang perjalanan dia mengerutu dalam hati karena kesalnya pada Erlangga apalagi dengan dua srigala yang telah hampir membuatnya menjadi bahan bulyan di kamar mandi.


Apalagi lawan yang tidak seimbang membuatnya semakin kesal. Beberapa kali dia menghentakkan kakinya membuat sang supir melihat Allura di spion dalam.


Supir separuh baya itu hanya tersenyum samar menanggapi, dia tahu pasti anak muda itu tengah kesal dengan kekasihnya. Terlihat dari ekspresinya sebelum naik sudah tidak bersahabat.


Beberapa menit berlalu akhirnya taxi telah mengantarkan Allura sampai di depan rumah, dia membayar taxi sesuai argo yang tertera. Namun, sebelum taxi itu pergi sang supir berpesan.


"Semangat Nona, ingat jika sedang berantem diamkan dia juga agar dia merasa bersalah," ucap sang supir, setelah mengatakan itu sang supir pergi dan melajukan mobilnya.


Allura termenung dengan perkataan supir barusan, ada benarnya juga. Mungkin dia harus mencoba menerapkan saran dari supir taxi tadi.


Baru saja kakinya melangkah untuk masuk kedalam, seseorang dari dalam mobil dan buru-buru membayar untuk mengejar Allura.


"Hey kamu tunggu!" teriak Dinda. Allura berbalik dan memicingkan alisnya sebelah dengan melipat tangan di dada.


"Kasihan sih tadi, gak dipesankan ya sama suaminya. Hmm, sepertinya kamu memnag tidak berarti apa-apa," ledek Dinda saat dia tahu jika Allura memilih pergi.


"Panas ya, karena suaminya lebih perhatian pada pacarnya ketimbang sama istrinya." Tawa Dinda semakin kencang.


Allura menghirup napas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.


"Siapa yang panas? Bukankah temanmu tadi yang panas karena suamiku membelaku di depan pacarnya," jawab Allura dengan santainya. Dinda yang gemas pun hanya melototi Allura yang selalu menjawabnya namun, Dinda tidak bisa membalasnya.


Dinda memilih meninggalkan Allura yang masih berdiri di halaman depan. Sedangkan Allura tertawa karena dia berhasil membuat adik iparnya merasa kesal. Memang pantas dia dijuluki miss menyebalkan.


Namun, saat di depan pintu Allura merasa heran ketika Septian ada di rumah, sedangkan Erlangga tidak berada di rumah.


"Kamu kok di sini?" tanya Allura saat mereka berpapasan. Dahi Allura mengkerut saking herannya.


"Ada sesuatu yang mendesak jadi saya kemari," jawab Septian dengan senyum yang dipaksakan. Agak mencurigakan bagi Allura. Tetapi apa yang bisa dia cari toh, Septian tidak berperan penting dalam skenario menghadapi pacar suaminya.

__ADS_1


***


Bersambung ...


__ADS_2