Penantian Allura

Penantian Allura
Bab26. Perjanjian.


__ADS_3

Bab26. Perjanjian.


***


Dinda rasanya ingin menemui Mama nya malam ini juga. Dia ingin memprotes atas apa yang telah dia katakan pada Erlangga tadi. Dia tidak punya teman dekat lagi selain Nina jika dia tidak boleh lagi berkunjung kesini.


Meski Erlangga telah menikah dan dia mempunyai kakak ipar sedikit pun dia tidak manganggap Allura sebagai bagian dari keluarganya.


Terdengar dari luar kamarnya jika sang Mama mengantarkan Allura hingga masuk kedalam kamar.


"Anak sendiri di musuhi, orang baru dijadikan anak kandung!" geram Dinda.


Nina yang mendengar lontaran Dinda hanya terdiam dengan posisi semula, dia tidak bersemangat untuk menimpali, akhirnya Nina memilih melepaskan pelukan Dinda dan mulai berjalan menuju kasur untuk merebahkam tubuhnya.


Dinda yang melihat Nina pun akhirnya memilih untuk tidur daripada harus menemui Ella malam ini, dia memilih besok hari akan menemui sang Mama.


***


Allura ragu-ragu untuk masuk kedalam. Dia takut jika dirinya akan menjadi amukan Erlangga karena perdebatan di antara Ella dan juga suaminya karena dirinya. Jika saja pernikahan tidak terjadi mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya.


Namun, Allura pun memaksakan untuk masuk kedalam. Kemana lagi dia jika bukan ke kamar Erlangga. Perlahan-lahan Allura berjalan untuk tidak menimbulkan suara. Erlangga yang tengah sibuk dengan laptopnya pun langsung memandang Allura dengan datar.


"Ngapain kamu jalan begitu?" tanya Erlangga ketika dia melihat tingkah Allura. Wanita itu berbalik badan menghadap Erlangga sembari menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Dengan tawa yang malu.


"Kamu pikir saya tidak bisa melihat? Memang kamu pikir saya tunanetra?" cerca Erlangga yang merasa dirinya sedang diledek oleh Allura. Tangan Allura melambai seolah dia tidak membenarkan ucapan Erlangga.


"Lalu kamu anggap saya apa!" seru Erlangga yang dari tadi hanya melihat jawaban Allura dengan bahasa isyarat.


Jarang sekali dia mendengar Allura membatahnya. Meski yang telah disediakan Erlangga tidak pernah dipakainya. Erlangga hanya ingin tahu sejauh mana Allura bisa tahan dengan itu semua.

__ADS_1


Erlangga berjalan mendekati Allura sedangkam Allura perlahan mundur untuk menghindari suaminya. Entah apa yang akan suaminya lakukan padanya. Tidak biasanya Erlangga berbuat seperti ini.


"Kenapa maju terus, sih. Satu jengkal lagi tub*h kami bisa saling menyentuh jika dia terus berjalan. Mana dibelakang mentok karena ada ranjang. Rasanya ingin kupatahkan ranjang ini," ucap Allura membatin.


Tinggal satu langkah lagi, jika Erlangga masih melangkahkan kakinya Allura akan jatuh terlentang di ranjang. Tetapi untungnya Erlangga tidak melanjutkan langkahnya, dia melihati Allura dengan ekspresi datarnya.


Tangan dia masukan kedalam saku, Allura sekilas melihat kearah Erlangga. Dia semakin jatuh hati melihatnya kali ini, rahangnya yang kokoh, hidungnya mancung, matanya yang indah. Pantaslah Nina tergila-gila padanya. Allura pun sama hal nya dengan Nina mulai mengagumi sosok orang yang sama, tetapi itu tidak salah bagi Allura sebab Erlangga adalah suaminya.


Cukup lama Erlangga menatap Allura, namun tanpa sengaja tatapan mereka bertemu. Erlangga terkesima melihat istrinya itu. Tidak disangka jika Allura pun tidak kalah menarik dibanding Nina yang telah lama bersama dirinya.


Wanita itu punya daya tarik sendiri, dan keunikannya yang selalu masa bodo ketika di hina oleh Nina dan Dinda. Ada perasaan yang sedikit berbeda kala memandang bola mata Allura yang indah itu. Tidak ingin menyia-nyiakan keindahan itu Erlangga terus menatapnya. Namun, Allura yang mulai tidak nyaman memutuskan kontak tatapan mereka.


"Lah tadi saya ngapain, mandang dia lama-lama!" batin Erlangga, dia berusaha menyembunyikan kecanggungan.


"Haduh, ngapain juga aku natap dia lama-lama," batin Allura sembari menepuk dahinya dengan kasar.


Allura hanya bisa diam sembari menautkan kedua tangannya dengan perasaan yang amat sakit. Kenapa timbal baliknya harus seberat itu?


"Bagaimana kalau kita membuat perjanjian," saran Erlangga pada Allura. Seketika Allura menengadah menatap suaminya dengan dahi yang mengkerut dalam.


"Sebentar ya, saya pikir-pikir dulu. Sepertinya harus dibuat secara tertulis agar kamu dan saya tidak bisa melanggarnya, dan punya sanksi khusus jika salah satu di antara kita melanggarnya." Allura bergeming tidak menjawab apapun.


Erlangga pun melupakan masalahnya dengan Nina, bahkan dia sampai melupakan Nina yang saat ini tengah merajuk padanya. Hatinya cukup tenang, dan rileks saat bersama Allura entah perasaan apa yang menghampirinya menjadi seperti itu.


Sifat Nina dan Allura berbeda yang membuatnya menjadi sedikit nyaman ketika bersamaa Allura. Ya, Allura tidak pernah menentangnya.


Setelah beberapa menit berlalu akhirnya Erlangga telah selesai membuat perjanjian untuk mereka berdua. Erlangga menghampiri Allura dan menyuruh Allura untuk membacanya.


Isi perjanjian :

__ADS_1



Dilarang keras pihak wanita mencampuri urusan pihak lelaki mau itu masalah pribadi atau keluarga.


Tidak berhak melarang pihak lelaki jika dia mempunyai hubungan dengan wanita lain.


Dan pihak lelaki pun tidak akan mencampuri urusan pihak wanita.


Di luar pihak wanita ataupun lelaki berpura-pura tidak kenal. Sedangkan di dalam rumah saat bersama keluarga sebisa mungkin harus bersikap seperti layaknya suami istri pada umumnya.



Hanya beberapa saja, namun bagi Allura itu cukuplah sulit dan juga berat. Mungkin jika nomor empat tidak masalah baginya. Tetapi dari satu sampai tiga rasanya dia berat untuk mengatakan setuju. Haruskah dia berpura-pura tidak kenal saat suaminya berpapasan dengannya dan tengah bersama wanita lain.


Rasanya Allura ingin menjadi selingkuhannya saja agar menjadi wanita yang diutamakan. Daripada menajdi istri tetapi tidak diharapakan dan juga diakui. Apalagi harus dicintai, lalu mengapa dirinya cepat sekali untuk melabuhkan hatinya pada Erlangga sedangkan suaminya sama sekali tidak menaruh hati pada Allura.


Selesai membaca Allura meminta bolpoin dan surat itu di tanda tanganinya. Allura tidak mengajukan keberatannya atau bahkan meminta tambahan agar menguntungkannya. Benar-benar membuat Erlangga heran, tetapi dia merasa bahagia karena Allura tidak memperumitnya, setidaknya cukup Nina saja kekasihnya yang selalu membuat dirinya kerepotan.


"Kenapa masih berdiri di sana Tuan? Ada yang salah dengan tanda tangan saya?" tanya Allura saat Erlangga masih berdiri di samping ranjang.


Erlangga lagi-lagi menatap Allura dengan dalam, membuat Allura terbuai dan menatapnya dengan penuh cinta. Saat Erlangga memutuskan tatapan mereka dia bertanya.


"Hmmm, saya heran saja kamu tidak ada mengajukan tambahan?" tanya Erlangga memastikan. Namun, Allura hanya menggelengkan kepalanya seolah apa yang menjdi keputusannya tidak akan berubah.


"Syukurlah, sepertinya kurang satu yang harus saya tambahkan,"


***


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2