
Bab22. Kemarahan Dinda.
***
Setelah sarapan telah selesai Allura membawa nampan itu untuk kebawah, Sinta pun mengikutinya. Ketika mereka keluar kamar mereka melihat Nina dan juga Dinda yang berada di depan mereka. Sinta tidak banyak bertanya pada Allura gadis yang tidak dikenalinya itu. Namun, keduanya bisa mendengar jelas perbincangan keduanya.
"Kemarin males banget aku sama Mas-mu," ucap Nina dengan perasaan kesalnya. Namun dengan spontan Allura langsung menggesekkan piring dan gelas hingga terdengar menggema di sana membuat Nina dan Dinda seketika berhenti dan menoleh kearah belakang.
Nina dan juga Dinda menyipitkan matanya, "apaan sih gak jelas," kata Nina, dia langsung berlalu untuk segera menuruni tangga. Untuk hari ini dia malas beradu mulut dengan Allura.
Allura bernapas lega, setidaknya Nina tidak melanjutkan perbincangannya ketika Sinta masih berada di sekitaran mereka.
"Siapa tadi yang bahas suamimu, Al? kamu tidak menegurnya? gimana kalau dia jadi bibit pelakor di dalam rumah tanggamu?" tanya Sinta mulai curiga dengan pembahasan mereka yang belum selesai.
"Kenapa mereka harus bahas dia saat ada Mama sih," gerutu Allura saat pertanyaan itu tidak bisa ia jawab.
***
"Tumben kamu gak ngomong sama wanita itu? Padahal itu kesempatan kamu supaya Ibunya tahu siapa kamu sebenarnya," ucap Dinda saat dia merasa Nina tidak membuat suasana panas.
"Kamu gak mikir kalau dia tahu bagaimana dengan hubungan kami? Aku pasti dilarang keras masuk kedalam rumah ini sama Mamamu, jadi biarkan saja Ibu wanita itu tidak tahu aku siapa," jawab Nina memikirkan konsikuensinya. Jika wanita itu adalah Ibu dari Allura, yang pasti dia adalah mertua Erlangga. Dan Nina tidak ingin citra kekasihnya rusak di mata orang lain.
Dinda mengangguk-ngangguk dan mengerti, "benar juga apa yang kamu pikirkan. Aku kira kamu tidak berpikir sejauh itu," celetuk Dinda dengan tawanya meledek Nina.
Namun, Nina hanya mengerucutkan bibirnya karena diledek oleh Dinda. Keduanya pun sudah sampai di dapur mereka langsung makan apa yang tersaji di sana. Sedangkan Ella yang baru dari taman belakang melihat mereka dengan menggelengkan kepala. Seperti biasanya memakai piyama.
__ADS_1
"Kamu ini anak gadis harusnya sebelum makan sudah mandi ganti baju," tegur Ella yang berdiri di samping Dinda. Dinda tidak menghiraukan perkataan Ella dia terus menyantap sarapannya meski Nina sudah menyikutnya berulang kali agar dia memberikan penjelasan.
"Sudah lah, Ma. Jangan dibahas, lagian ini cuma di rumah bukan restorant," jawab Dinda, dia mulai menggeser kursinya dan meninggalkan sarapannya tanpa di habiskan. Nina yang melihat Dinda langsung pergi mengikuti Dinda.
Namun, sebelum dia menuju keatas dia barkata, "memang sekarang anak Mama itu wanita itu. Bukan aku, aku cuma anak tiri yang apa-apa selalu dibandingkan dengan dia!" Seusai mengucapakan itu bertepatan dengan kedatangan Allura dan Sinta yang akan ke dapur.
Allura, Sinta hanya diam dan mendengarkan keluh kesah Dinda yang merasa tersaingi di rumahnya sendiri. Dinda berbalik dan melihat mereka, tetapi dia tidak merasa bersalah. Dia menatap tajam kearah Allura seolah begitu membencinya dia terhadap Allura.
Allura yang ditatap seperti itu pun memutar badan dan melihat punggung Dinda dengan nanar. Sebegitu membencinyakah adik iparnya itu pada Allura? Sedangkan Nina dia meledek Allura dengan menjulurkan lidahnya.
Sinta menarik tangan Allura agar dia tidak terus memerhatikan kepergian mereka. Keduanya berjalan beriringan, Sinta duduk di kursi meja makan sedangkan Allura membersihkan sisa makannya dan membersihkan sisa makan Nina dan juga Sinta.
"Maaf ya Sin, Dinda susah di atur. Kamu tenang saja nanti aku akan mengajarinya bagaimana menghargai kakak iparnya," ucap Ella merasa bersalah, dia pun ikut mendudukan bokongnya di kursi. Sinta hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum samar.
"Tidak apa-apa La, aku mengerti dengan perasaan anakmu. Mungkin dia merasa tersaingi karena kamu terlihat begitu menyayangi Allura. Sedangkan kamu selalu memarahinya, niat kamu baik aku tahu, hanya saja caranya yang salah," jawab Sinta memaklumi kecemburuan Dinda.
"Bicarakan baik-baik, La. Kalian kurang komunikasi saja," saran Sinta.
Selesai membereskan cucian piringnya, Allura pun ikut duduk di antara mereka, "iya benar itu, Bu. Ibu harus lebih sabar lagi untuk menasihati Dinda. Wajar juga sih dia begitu padaku, kecemburuannya wajar,"
"Iya jika dia seperti kamu, Al. Nah, ini apa kebiasaan yang aku ajarkan dia hilangkan. Sudah tidak punya etika dia," gerutu Ella.
Sinta mencoba menenangkan sahabatnya itu dengan mengusap lembut lengan Ella. Mereka berdua pun memilih untuk ketaman belakang dan menikmati teh pagi hari. Sedangkan Allura berpamitan untuk naik keatas kembali karena dia akan membersihkan diri.
***
__ADS_1
Allura akan memasuki kamarnya untuk membersihkan diri. Di saat itu juga Nina dan juga Dinda keluar kamar dan berseru.
"Tunggu kamu!" Allura menoleh kearah samping kearah keduanya.
Dinda menatap tajam penuh kebencian terhadap Allura.
"Kamu kebawah belum mandi dan juga masih memakai piyama. Tapi Mama ku biasa saja, lah sedangkan aku keluar dengan berpakaian seperti ini selalu di marahi," kelakar Dinda sembari mendorong tubuh Allura.
"Apa sih istimewanya wanita seperti kamu," cecar Dinda dengan nada meremehkan kearah Allura.
"Mmm, mungkin karena saya terlalu mahal dan tidak menggoda suami orang," jawab Allura yang secara tidak langsung menyindir Nina.
Nina yang semula hanya diam mendengarkan langsung menatap tajam kearah Allura.
"Maksud anda apa? aku dan dia sudah lebih dulu menjalin kasih, lalu kamu datang merusak segalanya. Yang tidak punya harga diri di sini kamu atau saya!" tunjuk Nina kearah wajah Allura. Allura langsung menangkap telunjuk Nina dan melemparkannya dengan kasar. Tidak terima dirinya ditunjuk-tunjuk seperti itu.
"Ya, ini sudah takdir Nona. Bukankah anda tahu cinta tidak harus memiliki, dan saatnya anda harus merelakan dan mengikhlaskan bahwa takdir berkata jika anda tidak bisa bersama lagi dengan suami saya,"
Nina yang mendengar peerkataan Allura seketika tertawa renyah. Bisa-bisanya Allura masih membanggakan pernikahannya yang sudah jelas-jelas jika Erlangga tidak menganggapnya sama sekali.
"Mimpi anda!" sentak Nina sudah mulai terbawa emosi. Dinda langsung mengusap punggung Nina seolah meminta dirinya untuk tidak terbawa emosi. Namun, sayang Nina sudah terbawa emosi, napasnya sudah ngos-ngosan bahkan wajahnya sudah memerah.
"Sudah Nin, nanti kita lanjutin lagi. Ayok kita kuliah dulu," saran Dinda agar pertengkaran mereka tidak terlalu jauh. Apalagi sampai main jambak, memikirkannya saja membuat Dinda pusing kepala apalagi harus memsahkan keduanya yang sama-sama sedang mempertahankan satu lak-laki.
Mau bagaimanapun Nina berkata, apa yang di katakan Allura adalah kebenaran, seorang istri tetaplah menjadi tahta tertinggi.
__ADS_1
***
Bersambung ...