
Bab32. Satu Ran*ang.
***
Allura tidak bertanya lagi apa kepentingannya dengan sang mertua. Tetapi Allura terus menatap Septian yang keluar dari rumah hingga taxi datang menjemputnya.
Menurutnya ini sedikit aneh, dan membuatnya heran. Tetapi dirinya tidak bisa membaca pikiran orang jadi dia hanya menjadi orang yang penasaran saat ini. Lalu apakah dia harus bertanya pada Ella?
Allura pun masuk kedalam menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Namun, saat setelah selesai mandi dia lupa membawa kotak bekalnya di kantor Erlangga. Tetapi itu membuatnya senang sebab dia mempunyai alasan untuk datang lagi ke kantor Erlangga.
Sekitar pukul sembilan malam Erlangga baru pulang. Allura yang baru akan turun kebawah pun berpapasan dengan Erlangga. Lelaki itu tampak biasa saja tanpa memedulikan Allura dan tidak merasa bersalah meski telah memperlakukannya dengan tidak baik tadi siang.
"Tidak ada untaian kata maaf kah, meski telah membuat orang sakit hati," gerutu Allura dalam hatinya.
Seharian ini Allura tidak bertemu dengan Ella. Bahkan saat makan malam pun Allura sampai memasak nasi goreng untuk dirinya sendiri. Allura sempat bertanya pada Mbak Inah namun, jawaban Mbak Inah hanya mengatakan jika Nyonya sedang sibuk.
"Apa sibuk arisan ya?" tanya Allura dalam hatinya.
"Jangan heran kalau di sini Non, kadang kalanya makan bersama kadang juga makannya masing-masing ya karena sibuk dengan urusannya masing-masing. Apalagi beberapa tahun ini Non Dinda sudah jarang mengajak Nyonya Ella bercerita setelah berteman dengan gadis itu," ucap Mbak Inah memberitahu.
Allura menganggukkan kepalanya, setelah selesai menyantap makan malamnya seorang diri Allura membersihkan terlebih dulu bekas makannya lalu pergi ke atas lagi. Sebelum membuka pintu kamar Allura menghirup udara sebanyak-banyaknya seolah di dalam akan sulit di hirupnya.
Dia masuk sama sekali tidak menghiraukan Erlangga. Begitu pun dengan Erlangga dia juga tidak memedulikan Allura. Toh, dia harus menjaga jarak demi Nina agar wanitanya tidak selalu marah-marah padanya.
Akan tetapi Erlangga mengingat jika Allura belum juga membicarakan apa tambahkan perjanjian yang dia mau. Jadi mau tidak mau Erlangga pun mengajak Allura untuk berbincang.
"Kamu sudah tidur?" tanya Erlangga, dia masih berada di sofanya tidak beranjak.
__ADS_1
Allura kegirangan karena berpikiran jika Erlangga merasa bersalah. Ternyata benar apa yang disarankan supir taxi tadi. Allura berpura-pura tidak mendengar apakah Erlangga akan meminta maaf padanya?
Allura sudah berbunga-bunha mengira Erlangga sudah bisa menerima dirinya. Dan dia pasti akan mendapatkan hati suaminya.
"Yes, ternyata sedikit berhasil. Semoga hubungan kami semakin berkembang," gumam Allura dalam hatinya.
"Kamu sudah tidur apa belum? Kalau belum bangun, kalau sudah tidur ya lanjutkan saja tidurmu." Ulang Erlangga lagi dengan mulai berjalan menghampiri ranjang.
Allura beringsut dan mengucek matanya seolah dia tengah terbangun.
"Kenapa?" tanya Allura. Erlangga menatap Allura dengan intens.
"Kamu pura-pura tidur?" tanya Erlangga yang tahu jika Allura berpura-pura tidak mendengarnya. Allura yang ketahuan tidak bisa menjawab, dia menyempilkan anakan rambut ke daun telinganya mencoba mengalihkan rasa malunya. Meski Erlangga sudah tahu kebohongannya.
"Saya hanya ingin bertanya?" tanya lagi Erlangga, namun sebelum Erlangga mengatakannya Allura menepuk tepi ranjang agar Erlangga duduk di sana. Tidak sopan baginya berbicara dengan berdiri, dan yang satu duduk.
Bukannya mengatakan apa yang ingin di sampaikan Erlangga malah menatap Allura dengan intens. Allura pun sama hal nya dengan Erlangga, menatap penuh damba pada suaminya. Siapa yang tidak akan jatuh cinta padanya?
Cukup lama mereka saling memandang satu sama lain. Hingga dering ponsel Erlangga memutus kontak tatapan mereka karena bola mata Erlangga langsung mengarah kearah sofa di mana tempat ponselnya di simpan.
"Mengganggu saja itu orang," gerutu Allura yang tahu kalau si penelepon adalah Nina.
Erlangga keluar terlebih dulu untuk mengangkatnya. Membuat Allura memicingkan alisnya. Tidak biasanya suaminya itu pergi, biasanya dia akan sengaja meloadspeaker percakapan mereka agar Allura bisa mendengarkannya.
Cukup lama Allura menunggu hingga ia tertidur sambil duduk. Badannya bergoyang-goyang hampir terjatuh. Namun, Erlangga yang baru selesai menelepon dan datang tepat waktu langsung menopang kepala Allura agar istrinya tidak terjatuh.
Tidak bisa dibayangkan jika Erlangga datang tidak di waktu yang tepat. Istrinya itu pasti akan terluka. Dan dia akan menjadi amukan Mama nya karena telah lalai menjaga Allura.
__ADS_1
"Wanita ini," gerutu Erlangga sembari tangannya perlahan membawa kepala Allura untuk diletakkan di bantal.
Namun, baru saja Erlangga akan pergi Allura memegang jemari Erlangga.
"Ini dia pura-pura, atau ngigau?" tanya Erlangga yang berusaha melepaskan tangan Allura dari jemarinya. Namun, cekalan dari Allura begitu kuat hingga akhirnya Erlangga memutuskan untuk menyerah dan membiarkan Allura yang kini memeluk lengannya begitu nyaman, membuat Erlangga tidak tega untuk melepaskannya.
Ponsel yang berada di sakunya pun berdering lagi, Nina menghubungi. Tetapi Erlangga tidak menjawabnya mengingat dia berada di ranjang yang sama dengan Allura. Akan menjadi rumit lagi jika Nina tahu apa yang dilakukan Erlangga.
Dari luar terdengar ketukan dari Dinda, dia berusaha memberitahu Erlangga agar menjawab teleponnya. Namun, Erlangga lagi-lagi bergeming agar Dinda menganggap dirinya telah tertidur.
"Mungkin sudah tidur Nin, soalnya gak ada sahutan dari dalam," ucap Dinda yang di dengar oleh Erlangga.
"Enggak mungkin Nda, biasanya dia tidak tidur di jam segini. Apa jangan-jangan mereka ...." Pikiran Nina sudah melanglang kemana-mana memikirkan Erlangga yang tengah menc*mbu istrinya. Meski mereka berstatus istri tetapi Nina tidak ingin itu terjadi.
"Sudahlah jangan berpikir macam-macam tidur saja, tidak mungkin Mas Elang begitu," sanggah Dinda, Erlangga yang dari dalam mendengarkan hanya memicingkan alisnya. Dia tahu pikiran Nina menuduhnya. Karena dia tahu apa yang dipikirkan pacarnya.
Perlahan Erlangga melepaskan tangan Allura, sekarang Erlangga bisa terbebas dari pelukan Allura. Namun, baru saja beberapa langkah dia berjalan Allura mengigau.
"Tuan, tambahan saya hanya ingin anda tidur di ranjang yang sama dengan saya, hanya itu saja," ucap Allura, Erlangga pun berbalik dan melihat Allura yang masih menutup mata. Erlangga pun mendekati Allura kembali dan menepuk pipi Allura perlahan-lahan.
"Dia mengigau, apa yang dia mimpikan? Apakah sampai terbawa mimpi saking dia ingin mengatakannya,"
"Oh, hanya itu saja. Menurut saya tidak sulit jadi saya akan mengabulkan apa yang kamu mau," ucap Erlangga. Perlahan dia menaiki ranjang dan menyimpan dua guling di tengah-tengah mereka agar tidak terjadi sentuhan kulit di antara keduanya.
Erlangga merebahkan tubuhnya dengan terlentang lalu menopang kedua tangannya di simpan di belakang kepala. Dia menatap langit-langit kamarnya membayangkan jika saat ini yang berada di sampingnya adalah Nina pacarnya.
***
__ADS_1
Bersambung ...