
Bab35. Bimbang.
***
"Cepat makannya, kasian Mas Elang sudah tidak sabar," bisik Dinda pada Nina. Nina mengerucutkan bibirnya dan malah memainkan makanannya seolah apa yang dilakukannya sengaja agar makannya lebih lama.
"Kamu gak tahu sih, aku gugupnya bagaimana?" jawab Nina.
"Ngapain harus gugup, harusnya percaya diri," ucap Dinda menyemangati.
Erlangga hanya memantau tanpa berani meminta penjelasan pada keduanya. Membiarkan keduanya berbisik-bisik meskipun di hadapannya.
Lima belas menit makanan Nina baru saja habis. Sebelum mengungkapkan apa yang akan dia katakan, Nina terlebih dulu menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Dia menatap kekasihnya dengan penuh cinta.
Erlangga pun menatapnya dengan lembut dan tersirat cinta yang dalam di sorot matanya. Dinda yang melihat Nina malah bersisi tatap akhirnya menghalangi pandangan Nina.
"Sudah sih, cepat bicara malah saling tatap. Mau sampai kapan begitu," titah Dinda.
"A-aku ...," ucapan Nina belum juga selesai membuat Erlangga penasaran. Dia memandang kekasihnya dengan penuh rasa penasaran.
"Aku ... Mau menikah dengan kamu," lontar Nina dengan satu tarikan napas. Dia langsung minum untuk mengusir rasa gugupnya. Seketika Erlangga menegang. Bagaimana dengan Allura? Bukannya senang dia malah bingung memikirkan istrinya.
Dia pikir Nina masih memikirkan tentang pernikahan mereka. Apalagi kuliahnya yang belum wisuda, Erlangga mengira jika Nina siap nanti jika dia telah wisuda.
"Kamu tidak senang?" tanya Nina ketika melihat ekspresi Erlangga.
"Aku senang kok, senang sekali. Saking tidak percayanya karena kamu telah siap menikah denganku,"
"Kamu harus segera menceraikan wanita itu, Mas," titah Dinda, namun belum juga menjawab Septian menghubungi Erlangga agar dia cepat pulang ke kantor.
Erlangga pun berpamitan pada keduanya tanpa menjawab lontaran Dinda. Saat Erlangga sudah tidak berada di sana Nina merasa ada sesuatu yang mengganjal.
"Aku merasa Mas Elang menghindari pertanyaanmu Nda. Apa dia mulai berat menceraikan wanita itu? Atau Mas mu sudah mulai mencintainya?" tanya Nina dengan risau. Jika benar itu terjadi sungguh dia menyesali ajakan Erlangga dulu.
__ADS_1
"Sudah jangan terlalu dipikirkan, habiskan saja dulu makananmu," titah Dinda pada Nina.
***
Saat di perjalanan menuju kantor, Erlangga terus-menerus memikirkan pernikahannya yang baru seumur jagung. Dia harus memberikan alasan apa pada Mama nya, bukankah tidak akan mudah untuk membuat Ella menyetujuinya.
Mamanya lebih menyayangi Allura dari apapun. Bahkan dia rela berdebat dengan Dinda hanya demi Allura.
Setelah perjalanan yang cukup lama menuritnya akhirnya dia telah sampai di kantor. Sebelum keluar dari mobil dia menghirup napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.
Setelah cukup tenang Erlangga keluar dan berjalan menuju ruangannya. Setelah di atas Erlangga masuk keruangannya dan menyuruh Septian untuk datang memberikan dokumen-dokumen untuk meeting hari ini.
Di dalam ruangan Septian ...
"Dia sudah datang?" tanya Allura pada Septian saat lelaki itu menjawab telepon.
Septian mengangguk dan mulai berdiri untuk keluar dari ruangannya. Namun, sebelum Septian keluar Allura berucap.
"Aku minta nomormu, dan tolong kabari aku saat meetingnya telah selesai,"
"Kalau ada yang melarang kamu bisa adukan pada Nyonya Ella," ucap Septian lalu keluar dari ruangannya.
Allura hanya mengerutkan dahinya dengan heran. Sejak kapan lelaki itu tahu segalanya? Lalu apa hubungannya dengan mertuanya? Sepertinya keduanya cukup akrab sampai Septian bisa mengetahui masalah itu.
Memang pusing jika dipikirkan, apalagi Allura tidak pernah melihat mereka berbincang dengan serius. Pernah satu kali pun ia memergoki Septian dari rumahnya, akan tetapi dia tidak tahu apa yang mereka bahas.
Memikirkan masalah yang tidak ada pakar masalahnya membuat Allura memutuskan untuk keluar dari ruangan Septian dan berjalan untuk masuk kedalam ruangan Erlangga.
Setelah sampai di depan ruangan Erlangga dia berjalan menuju meja kebesaran suaminya. Dia penasaran dengan beberapa figura di depan meja suaminya itu. Meski yakin jika potret Nina pasti ada di sana. Tetapi Alllura tetap saja penasaran.
Perlahan-lahan tangannya mulai menggapai figura itu, sebelum membalikannya Allura mengembuskan napas kasar terlebih dulu. Menutup matanya lalu melihat poto itu.
Allura bernapas lega, sebab poto pertama adalah Ella, Dinda dan juga Erlangga. Di figura kedua Allura langsung melihatnya, dan betapa sakit hatinya ketika dia melihat poto kedua adalah potret Nina dan juga Erlangga yang tengah saling merangkul di suatu tempat yang indah. Allura melihatnya seperti prewedding.
__ADS_1
Figura terakhir, tangannya mulai ragu untuk menyentuh sebab pasti di sana juga poto kemesraan Nina dan Erlangga. Tetapi rasa penasarannya menuntun Allura untuk membuka kembali bingkai poto itu.
Setelah dilihat hatinya terbakar kembali sebab dugaannya benar, jika poto terakhir pun Nina dan Erlangga.
"Poto pernikahan tidak kamu pajang, Mas. Sedangkan wanita yang bukan istrimu masih kamu pajang," ucap Allura dengan sendu. Dia pun berbalik badan untuk duduk di sofa.
"Iya tidak akanlah, potoku belum terpajang berarti aku belum ada di hatinya?" Allura tertawa kecil menertawakan dirinya sendiri.
"Lah, memang dia tidak mencintaiku," racau Allura tangannya menghapus sisa air mata yang sempat terjatuh.
Namun, di saat dia tengah sedih. Dia ingin ke kamar mandi. Dengan cepat Allura masuk dan buang air kecil.
Saat berada di dalam dia mendengar pintu ruangan Erlangga terbuka dan mendengar percakapan kedua orang wanita yang dia yakini Nina dan juga Dinda.
"Tunggu saja dulu, Nin. Mas Elang sedang meeting," titah Dinda sembari menepuk kursi sofa. Awalnya Allura akan keluar, tetapi ia urungkan setelah mendengar percakapan Nina dan juga Dinda.
"Kenapa kamu tidak dari dulu sih, mau menikah dengan Masku? Kalau dari dulu dia tidak akan pusing-pusing kan untuk mencari cara agar menceraikan wanita itu," gerutu Dinda, Allura yang di dalam kamar mandi seakan dunianya hancur.
Hancur, sehancur-hancurnya hati Allura saat ini. Semudah itu, dan secepat ini kah dia akan menjadi janda? Dia tidak mau jika pernikahannya kandas karena masa lalu suaminya. Sepertinya Allura harus mulai lebih a*resif dan perhatian terhadap Erlangga supaya lelaki itu tidak menceraikannya. Dia tidak ingin pernikahan ini kacau seperti ini.
"Semangat Al," ucap Allura di dalam kamar mandi menguatkan dirinya. Lalu melanjutkan mendengarkan perkataan mereka.
"Ya, aku tidak tahu jika belum siapnya aku bisa membuat Mama mu nekat untuk menjodohkan orang lain dengan Mas Elang." Nina berubah sendu saat mengingat perjodohan Allura dan juga Erlangga.
"Ya, sepertinya kamu harus mulai sabar. Sebab Mamaku pasti menolak perceraian mereka,"
"Nah, itu dia Nda. Pasti Mamamu menolaknya mentah-mentah,"
"Sudah tenang saja, yang penting Masku mau menceraikan dia,"
"Tapi ...,"
***
__ADS_1
Bersambung ...