Penantian Allura

Penantian Allura
Bab25. Gara-Gara Dia.


__ADS_3

Bab25. Gara-Gara Dia.


***


Belum Allura menanyakan apa yang berada dalam benaknya, pintu depan rumah terbuka. Allura tahu jika yang datang pasti Erlangga. Namun, dia berusaha tetap diam agar harga dirinya tidak turun di hadapan suaminya.


Tetapi Ella penasaran kenapa dengan Erlangga yang tidak biasanya pulang malam. Ella pun memaksa Allura untuk mengikutinya kedepan. Dengan terpaksa pula Allura mengikuti mertuanya.


Ella tampak geram ketika melihat Erlangga, Nina, dan Dinda pulang bersamaan. Pasti Erlangga pulang telat karena bertemu di luar bersama Nina.


Dinda menarik Nina keatas agar menghindari amukan Ella. Dia sudah tahu melihat ekspresi Ella yang sudah murka. Biarkan saja Erlangga yang menjadi amukan Mamanya.


"Pulang malam karena main sama wanita begitu Elang," kelakar Ella. Erlangga hanya mengembuskan napas kasar, dia sudah lelah karena Nina belum juga bersikap seperti biasa meski Erlangga sudah menemaninya tadi sore.


"Aku, Ma. Bisa besok saja marahnya ditunda dulu," jawab Erlangga datar. Dia pun perlahan memutar badan untuk naik keatas.


"Beritahu Dinda, dari mulai malam besok tidak boleh dia membawa tamu untuk menginap lagi!" seru Ella yang mulai geram. Dia takut jika tengah malam Erlangga bisa berbuat tidak senonoh dengan wanita itu.


"Apa hubungannya, Ma?" tanya Erlangga, dia berjalan mendekati Ella yang tengah memeluk tangan di dada.


Sedangkan Allura hanya menjadi pendengar saja. Dia tidak berani berkata apapun. Akhirnya Ella menyuruh Allura untuk kedapur dan makan malam. Karena semula Ella dan Allura menunggu kedatangan adek dan kakak yang belum datang juga.


Tanpa menjawab Allura hanya membungkuk dan berbalik badan untuk kedapur makan malam. Di sana masih ada Mbak Inah yang masih heran karena makanan masih tampak belum di sentuh oleh tuan rumahnya.


"Kenapa Mbak?" tanya Allura yang melihat Mbak Inah kebingungan.


"Tidak makan, apa masakan Mbak malam ini kurang enak, ya, Non?" tanya Inah. Allura menggeser kursi dan mendudukinya.


Dia tersenyum srmbari tangannya membalikkan piring dan membawa nasi beserta lauk pauk yang sudah tersaji.

__ADS_1


"Mending Mbak temani aku saja makan, yang lain pasti gak makan. Kalau Ibu gak tahu kapan makannya," ucap Allura, Mbak Inah yang paham pun mengangguk dan mulai mendudukan bokongnya di kursi.


***


"Kamu masih menjalin hubungan dengan wanita itu?" tanya Ella penuh penekanan. Erlangga menatap tidak suka dengan pertanyaan sang Mama.


"Tidak tahu d*ri kamu ya, sudah beristri masih berani main-main dengan wanita lain!" seru Ella yang murka.


"Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan dia. Kami sudah selesai setelah Mama menjodohkan aku dengan wanita itu," jawab Erlangga terpaksa berbohong pada Ella. Semua dia lakukan agar Ella tidak berprasangka buruk pada Nina. Sedangkan di sini yang salah baginya bukan dirinya ataupun Nina, bahkan Allura. Yang salah adalah Ella karena memaksakan kehendaknya.


"Bagus kalau kamu sadar akan hal itu,"


"Ya, sudah selesai bukan. Aku mau istirahat," Pamit Erlangga.


Nina yang awalnya akan pulang pun mengurungkan niatnya dan mendengar samar-samar perdebatan di antara mereka. Hatinya hancur ketika Erlangga mengatakan pada Mamanya jika hubungan mereka telah berakhir. Secara tidak langsung Erlangga tidak mengakui lagi hubungan mereka. Mungkin benar apa kata Erlangga jika hatinya sudah mulai menerima wanita lain.


Dengan tertunduk sedih Nina memikirkannya. Saat Erlangga sudah berada di atas dia tekejut melihat Nina yang merasa sedih dan tertunduk di depan kamar Dinda. Dia yakin jika wanitanya telah mendengarkan perbincangan mereka.


"Tidak usah meminta maaf, aku mengerti Mamamu tidak menyukaiku wajar dia berusaha memisahkan kita dan menikahkan kamu secara paksa dengan wanita lain," potong Nina yang mendengar Erlangga akan memanggilnya. Dia menengadah dan mengusap air matanya dengan punggung tangannya.


Tidak tahan melihat kekasih hatinya menangis Erlangga berusaha menarik tangan Nina agar masuk kedalam kamar Dinda. Dia ingin memberikan penjelasan pada kekasihnya itu. Namun, Nina menangkisnya dan berkata.


"Masuk kamarmu saja, jangan hiraukan aku lagi, Mas. Bukankah kita sudah selesai." Matanya mengeluarkan air mata tetapi mulutnya terkekeh.


Erlangga yang tidak bisa berbuat banyak pun akhirnya mencoba memeluknya sebentar. Dan ternyata bisa meluluhkan sejenak hati Nina, dia menurut untuk masuk kedalam kamar Dinda.


Dinda yang baru saja selesai mandi dan melihat keadaan Nina yang memprihatinkan pun menyipitkan matanya.


"Kenapa lagi, Mas? kok Nina nangis begitu?" tanya Dinda yang mulai cemas. Dia langsung menarik tangan Nina agar berada dalam dekapannya.

__ADS_1


Menatap tajam kearah Erlangga yang sellalu membuat masalah. Apalagi saat mereka tadi makan di restorant membuat Dinda ingin mengumpat pada sang kakak.


"Maafin aku ya, Nin. Aku harus bilang seperti itu pada Mama agar dia percaya. Kalau tidak nanti kamu tidak bisa lagi menginap di sini," terang Erlangga menjelaskan.


Dahi Dinda mengkerut karena heran, "kenapa dia nggak bisa nginap lagi di sini? Apa karena wanita itu?" tanya Dinda. "Kenapa harus bawa-bawa teman aku sih, Mas. Heran!" seru Dinda yang tidak terima.


"Pantas saja Nina sampai menangis sudah aku bilang kan, jangan ngajak jalan kami. Akhrinya begini kan, dia yang kena imbasnya padahal kamu yang memaksa untuk mengajaknya. Bukan dia loh, Mas." Tunjuk Dinda pada Nina. Bahwa semua kesalahan bermula dari Erlangga.


"Diam dulu Din, Mas, mau ngomong dulu sama Nina," lontar Erlangga yang meminta Dinda untuk berhenti menyalahkannya.


Dinda memutar bola matanya jengah. Ternyata ucapannya dianggap angin lalu oleh sang kakak.


Erlangga memegang jemari tangan Nina agar wanitanya itu bisa mengerti dan mulai memaafkannya. Jika saja Nina tidak mendiamkannya sedari pagi hingga sore dia tidak akan memaksa Nina untuk berjalan-jalan.


"Renungkan lagi, ya, semua aku lakukan agar kamu masih bebas keluar masuk rumah ini. Dan kamu bisa bebas juga untuk menginap," terang Erlangga mengulang lagi.


"Meski aku mengatakan seperti itu pada Mama, bukan berarti aku tidak menganggapmu lagi. Hanya saja ... Keadaannya sekarang berbeda sayang, mengertilah," mohon Erlangga. Tetapi Nina bergeming, seolah dia tidak mendengar Erlangga tengah berbicara.


Dinda yang mulai khawatir Ella datang ke kamarnya pun mengusir Erlangga untuk keluar dari kamarnya. Jangan sampai keadaan semakin rumit karena Ella melihat pemandangan ini.


"Sudah kekamarmu dulu sana, Mas. Jangan sampai Mama kemari melihat kamu yang seperti ini. Tahukan akan seperti apa nantinya," usir Dinda.


"Tapi ... Nina belum juga memaafkan Mas, Dinda bagaimana, Mas bisa tenang," tolak Erlangga yang tidak mengindahkan perkataan adiknya.


"Sudah pergi, nanti kubantu bujuk." Tangan Dinda mendorong-dorong tubuh Erlangga agar keluar dari kamarnya.


Sebenarnya dia ingin memprotes tentang perkataan Erlangga yang tadi. Hubungannya dengan pernikahan mereka apa sampai membuat Nina tidak bisa lagi menginap jika mereka ketahuan masih berhubungan. Bukankah wajar sebab mereka dipisahkan secara paksa dan masih memiliki perasaan yang sama?


"Semua ini gara-gara wanita itu, " geram Dinda.

__ADS_1


***


Bersambung ...


__ADS_2