Penantian Allura

Penantian Allura
Bab38. Aneh.


__ADS_3

Bab38. Aneh.


***


Allura yang merasa kesakitan pun akhirnya mencoba melepaskan jambakan tangan adik iparnya. Jika masalah hinaan dia masih bisa menahan tetapi jika soal fisik dia pun akan melawannya meski itu adik iparnya sendiri.


Setelah beberapa menit tangan Dinda menjambak rambut Allura akhirnya tangannya terlepas juga dari rambut Allura. Allura mencoba membereskan rambutnya yang acak-acakan. Sedangkan Dinda menatap nyalang kearah Allura.


"Apa sih Nin, kamu malah bantuin dia," ucap Dinda sembari menunjuk kearah Allura. Dia tidak terima jika dilerai.


"Tapi dengan kamu begini itu salah," jawab Nina mencoba memberi pengertian.


"Salah katamu? Aku begini karena muak dengan ucapannya yang percaya diri seolah Mas Elang tidak akan menceraikan dia,"


"Iya tapi tidak usah main kekerasan juga Dinda, kamu tetap salah," ucap Nina masih memberikan pengertian agar Dinda menyadari jika tindakannya salah.


"Tidak habis pikir aku sama pikiran kamu." Dinda menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya pada Nina.


Nina duduk di sebelah Allura, lalu membantu Allura untuk membersihkan rambutnya yang kusut. Dinda yang melihat tingkah Nina pun langsung menariknya.


"Apa-apaan sih kamu, Nina!"


"Kenapa Nda? Aku hanya membantu kakak iparmu saja," ungkap Nina yang membuat Dinda semakin emosi.


"Apa katamu kakak ipar? Jadi kamu sudah ikhlas begitu Mas Elang sama dia dan tidak mau jadi kakak iparku?" teriak Dinda sudah naik vitam.


"Kamu sudah mulai berpihak pada dia? Apa kamu sudah tidak ingin lagi menjadi istri Mas Elang, dan menjadi kakak iparku?" tanya Dinda.


"Sudah ah, kamu makin ngaco bicaranya Nda. Sekarang kamu ambil minum untuk kakak iparmu Nda," titah Nina pada Dinda memberikan perhatian kecil pada Allura membuat Allura mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Tidak salah dengar aku, dia membelaku," batin Allura. Sempat tidak percaya Allura melihat tingkah Nina yang berusaha melerai bahkan membelanya.


Bukankah kemarin gadis itu mati-matian ingin menunggu jawaban suami Allura tentang pernikahan mereka dan ingin mendengar jika Allura di ceraikan oleh Erlangga.


"Apa yang mereka rencanakan," ucap Allura dalam hatinya bertanya-tanya. Andai dia bisa membaca pikiran orang, mungkin akan dengan mudah baginya untuk mengetahui semuanya.


Tetapi jika semua itu rencana apakah terlihat natural seperti ini? Marahnya Dinda pada Nina bukanlah sebuah ekting. Itu terlihat jelas ketidak sukaan Dinda terhadap Nina karena membela Allura.


"Sudahlah, mulai sekarang kamu tidak perlu lagi kesini, Nin!" teriak Dinda yang masih tidak terima.


"Ambil minum dulu Dinda, nanti marahnya dilanjutkan," ucap Nina masih bersikap lembut dan menyuruh Dinda untuk membawakan minum.


Dengan tatapan tidak suka Dinda menatap keduanya secara bergantian. Tak ayal Dinda masih menuruti perintah Nina, namun dengan kesal dan amarahnya. Dia membuka pintu dan membantingnya dengan keras. Memberikan isyarat pada Nina dan juga Allura bahwa dia tidak menyukainya.


Kaduanya mengelus dada, lalu Nina menghampiri Allura lagi dan duduk bersebelahan dengannya.


"Jangan dihiraukan ya," ucap Nina dengan ramah. Namun, respon Allura begitu terheran-heran bahkan dia terlihat aneh melihat tingkah Nina yang seperti ini padanya.


Allura menggeser tubuhnya seolah risih akan apa yang dilakukan Nina terhadapnya.


"Loh kamu kenapa? Aku hanya bertanya,"


"Agak aneh bagiku, karena kamu biasanya tidak begini," ucap Allura dengan kening mengkerut. Nina hanya tertawa kecil mendengar ucapan Allura itu.


"Memang salah ya, orang yang tadinya suka bikin rusuh sekarang sedang mencoba jadi baik?" seloroh Nina sembari matanya menatap Allura dengan serius. Allura membalas tatapannya namun dia tidak bisa menyimpulkan bahwa tatapan itu ketulusan ataupun kebohongan. Dia terlalu bod*h dalam membaca ekspresi orang.


Allura terdiam tanpa menjawab lontaran Nina, baginya ini masih sangat mencurigakan. Di sisi lain dia terlihat tenang karena Nina mungkin sudah mulai mengikhlaskan suaminya. Tetapi dia masih merasa janggal pasalnya dia tidak percaya jika itu semua cepat berubah.


Padahal dia masih meminta penjelasan pada Erlangga tentang penceraian mereka. Apakah Allura harus percaya pada wanita di hadapannya?

__ADS_1


Nina yang merasa diabaikan pun menepuk pundak Allura dengan sedikit kencang hingga membuat Allura terhenyak dan memporak porandakan pikirannya yang mengarah pada Nina.


Allura menoleh dengan tatapan tidak percaya, "kamu masih ragu padaku?" tanya Nina pada Allura dengan kekehan kecil.


"Tidak masalah dan memang pastinya tidak akan semudah itu kamu percaya padaku. Tapi aku akan mencoba meyakinkan kamu, kamu lihat saja," ucap Nina sembari mengedipkan matanya sebelah, raut wajah Allura hanya datar meskipun Nina kini mulai ramah padanya.


Allura beranjak dari tepi ranjang untuk pergi. Namun, Nina menahannya dan memintanya untuk tetap di kamar Dinda dan menunggunya sampai Nina datang untuk membawakan minum. Baru saja selesai berbicara Dinda datang membawa segelas air, lalu dengan sengaja menumpahkannya ke badannya Allura.


"Uppss, maaf ya aku tidak sengaja!" seru Dinda dengan wajah tanpa dosanya. Allura terhenyak karena tumpahan air membasahi tubuhnya. Nina pun tidak kalah terhenyak dengan sikap Dinda yang dibuat-buat.


"Nda!" protes Nina yang tidak suka melihat tingkah Dinda seperti itu.


"Apa sih, mending kamu keluar dan kamu juga pergi," usir Dinda pada keduanya dan mendorong keduanya untuk keluar dari kamarnya.


Tidak ingin berdebat lagi dengan Dinda, Nina pun menarik tangan Allura agar keluar dari kamarnya. Setelah keluar dari kamarnya Dinda menatap keduanya dengan sinis lalu membanting pintu dengan keras.


Nina lantas menggandeng Allura dan menuntunnya untuk masuk kedalam kamarnya. Kamar kekasihnya juga, tetapi tidak ada rasa cemburu yang terlihat kala itu ketika Allura mengamati raut wajah Nina.


"Kamu istirahat ya, aku mau pulang dulu," ucap Nina setelah mendudukan Allura di tepi ranjang. Namun, sedikit pun Allura tidak merasa tersentuh bahkan mengucapkan kata terima kasih. Dia yakin jika Nina pasti sedang ada maunya atau tengah merencanakan sesuatu.


Nina pun keluar kamar, sedangkan Allura membersihkan tubuhnya dan menunggu suaminya pulang. Beberapa jam dia menunggu tiba saatnya Erlangga pulang, dia tidak menyambutnya kali ini membiarkan lelaki itu menikmati dunianya sendiri.


Ketika mengamati Erlangga, Allura merasa ada yang aneh pada suaminya itu. Erlangga tampak cemas dan berulang kali menelepon seseorang namun sepertinya tidak di angkat oleh orang itu. Erlangga pun membanting ponselnya dan berjalan menuju kamar mandi. Allura yang penasaran mencoba mencari tahu siapa orang yang telah mengabaikan suaminya hingga membuat lelaki itu frustrasi.


Dengan ragu Allura mencoba menggapai ponsel suaminya namun dia urungkan kali ini.


"Sepertinya aku tidak perlu tahu, jika aku tahu aku akan merasa sakit hati lagi," gumam Allura.


***

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2