
Bab14. Dua Srigala.
***
"Saya ingin pernikahan ini hanya berjalan sampai kekasih saya mau menikah dengan saya," ucap Erlangga lagi saat Allura masih diam tanpa menjawab semua ucapannya.
Allura yang semula sibuk membereskan pakaian seketika terdiam menjadi patung. Dadanya kian sesak mendengar perkataan Erlangga. Apakah pernikahan yang tengah mereka jalani kini sungguh tidak ada harganya bagi suaminya sendiri?
Ironis memang, pantas saja Sinta tidak mengizinkan Allura untuk menikah dengan putra Ella. Ternyata semuanya tidak seperti apa yang Allura bayangkan. Allura pikir suaminya akan menerima dirinya dan mulai menjauhi kekasihnya meski mereka menikah tanpa di dasari cinta.
Mata Allura berkaca-kaca tidak sanggup memikirkan hal buruk nantinya yang akan terjadi pada dirinya. Menjadi janda di usia muda? Apakah itu semua akan terjadi? Tanpa terasa air mata itu pun menetes tanpa di minta. Air mata yang terjadi karena naluriah seorang manusia yang tersakiti.
"Kamu mengerti kan?" tanya Erlangga, kini kepalanya menoleh kearah Allura yang tengah membelakanginya. Bahu gadis itu sedikit bergetar ketika Erlangga melihatnya. Dia yakin jika Allura tengah menangis. Tetapi apa boleh buat cintanya hanya untuk Nina, apalagi dia sudah berjanji akan menceraikan Allura saat Nina telah siap untuk menikah dengannya.
"Tenang saja, saya akan menafkahimu seperti layaknya suami pada istri. Tapi untuk nafkah batin, jangan berharap saya akan memberikannya," ucap Erlangga menekankan.
Allura berjalan mundur untuk ke kamar mandi. Dia tidak memperlihatkan mimik wajahnya karena Allura malu dirinya menangis. Dia tidak ingin di cap lagi wanita mura**n karena ingin di sentuh oleh Erlangga. Dia hanya menangis karena kata setelah kekasihnya siap menikah dia akan di ceraikan.
Allura mengguyur tubuhnya dengan air dingin, dia juga menangis tanpa bersuara di sana. Meluapkan rasa sakit yang mendera hatinya. Dia tidak mencintai Erlangga akan tetapi status lelaki itu adalah suaminya. Bukankah amat sangat wajar jika Allura merasa sakit hati?
"Apakah aku harus bertahan?" tanya Allura pada dirinya sendiri. Memori saat Erlangga bermesraan dengan Nina pun memutar lagi di pikirannya.
"Mama, maafkan Al yang tidak menuruti semua ucapanmu. Karena aku yakin suatu saat nanti suamiku pasti bisa menerimaku," gumam Allura meyakinkan dirinya. Dia bisa melewati ini semua dan pasti kedepannya akan ada jalan di mana Erlangga bisa menerima dirinya dan meninggalakan kekasihnya.
__ADS_1
Beberapa menit di dalam dan di guyur air membuat pakaiannya kebasahan. Dia mulai mencari handuk, untung saja di sana sudah tersedia. Dia pun menanggalkan pakaiannya dan mulai berjalan untuk keluar dari kamar mandi.
Sebelum keluar dia menyembulkan terlebih dahulu kepalanya, takut jika Erlangga masih ada dan dia dituduh memggodanya. Allura bernapas lega karena suaminya tidak ada di kamar. Untuk menghindari Erlangga yang datang kembali ke kamar tiba-tiba Allura berlari lagi menuju kamar mandi saat sudah membawa pakaian gantinya.
***
Seharian Allura hanya berdiam diri di dalam kamar. Rasanya malas jika harus keluar, tenaganya seolah terkuras saat lelaki itu berkata yang menyakitkan hatinya.
Ketukan dari luar membuyarkan lamunannya. Allura perlahan turun dari ranjang dan menuju pintu untuk membukanya. Di sana sudah berdiri Mbak Inah dengan senyuman khasnya.
"Ibu menyuruh saya, buat Non turun. Katanya temani Ibu di bawah," ucap Mbak Inah, memberitahukan apa maksud kedatangannya. Allura pun mengangguk dan menutup pintu kamarnya.
"Sebenanrya saya ragu pas Ibu menyuruh saya untuk ke kamar Non. Soalnya waktu saya pengantin baru pun bawaannya pengen di kamar saja," kata Mbak Inah lagi mengingat-ingat masa pengantin barunya.
Allura hanya mendengarkankan saja tanpa berani menyela. Toh, jalan kehidupan Mbak Inah tidak seperti dirinya.
"Aku kesana ya, Mbak," pamit Allura menuju Ella. Mbak Inah mengangguk dan menuju kedapur lagi.
"Duduk sini, Nak," ucap Ella sembari menepuk samping kursinya. Dengan penuh kasih sayang Ella menyentuh jemari tangan Allura seolah dia tahu apa yang terjadi di antara mereka.
"Sabar ya, nanti juga dia akan bisa menerima kamu sayang." Ella memberikan semangat pada menantunya tercinta. Allura menghirup napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan lalu menganggukan kepalanya. Sesaknya masih terasa, bahkan dia ingin sekali menumpahkan air matanya di depan Ella. Tetapi dia tidak mau sampai Erlangga dan Ella bertengkar hanya karena dirinya.
"Untuk mengisi waktu luang bagaimana kalau kita belanja?" ajak Ella memberikan saran agar suntuk tidak menyelimuti Allura. Wanita itu tampak berpikir dan memilih menggelengkan kepalanya. Ella pun mengerti.
__ADS_1
"Coba buatkan kopi untuk Elang, sayang. Dia di ruang kerjanya," ucap Ella dia juga menunjuk arah pintu di mana ruang kerja Erlangga yang tidak jauh dari ruang tamu.
Dengan semangat Allura pun langsung berpamitan pada Ella dan membuatkan Erlangga kopi. Setelah membuatkannya dia langsung menuju ruang kerja Erlangga. Namun, saat dia masuk dia terkejut karena di sana sudah ada Dinda dan juga Nina yang menemani Erlangga untuk bekerja.
Allura ingin kembali lagi, namun dia sudah kepalang basah masuk dan tinggal menyuguhkannya pada Erlangga. Apalagi ketiganya langsung menoleh kearah Allura dengan tatapan datar. Membuat Allura malu, dia pikir Erlangga di sana seorang diri. Ternyata sudah ada yang menemani.
"Mau cari perhatian ya, sama pacar orang sampai rela bawakan kopi kemari," sindir Nina yang mulai beralih menatap ponselnya daripada menatap Allura yang masih berdiri di depan pintu.
Cukup lama Allura di sana membuat Dinda gemas. Dia menarik Allura dan menutup pintu untuk menguncinya.
"Masuk ya masuk aja sih, ngapain cosplay jadi patung begitu? Mau dibilang jadi istri yang berbakti ya, sampai sebegitunya nyari perhatian," ledek Dinda dengan tawa renyahnya.
Andai tidak ada Erlangga ingin sekali Allura menumpahkan kopinya itu pada adik ipar yang tidak tahu sopan santun itu dan juga wanita yang berdalih dicintai suaminya hingga dia merasa bangga masih menjalin hubungan dengan suami orang.
Allura pun berjalan menghampiri meja Erlangga. Berniat akan menyimpan kopinya di sana untuk di cicipi Erlangga. Namun, baru saja disimpan, Nina langsung membawanya dan menumpahkannya dipinggir meja.
"Ow, sory. Tidak sengaja, sepertinya kamu harus membuatnya lagi dan membawa minuman untuk kami berdua," celetuk Nina dengan tanpa dosa.
Allura masih sabar menanggapi. Hatinya tetap teguh tidak boleh melawan ketika berada di dekat Erlangga. Suaminya sama sekali tidak menegur Nina dan juga Dinda yang sudah keterlaluan terhadapnya. Dia masih setia dengan layar laptop yang tengah di otak-atiknya.
"Bisa-bisanya dia tidak membantuku dari dua wanita srigala ini," batin Allura menggerutu.
Allura keluar dari ruangan kerja Erlangga untuk membawa sesuatu supaya bisa membersihkan ruangan kerja Erlangga. Dia tidak ingin jika Erlangga tidak nyaman dengan ruang kerjanya karena kecerobohan selingkuhannya.
__ADS_1
***
Bersambung ...