Penantian Allura

Penantian Allura
Bab13. Pulang


__ADS_3

Bab13. Pulang


***


Setelah semalam Allura telah melakukan kesalahan keesokan harinya Erlangga memintanya untuk bersiap pulang. Meski Mamanya meminta mereka tetap di sana selama beberapa hari. Rasanya Erlangga sudah pusing dengan tingkah Nina dan juga Allura.


Allura telah berkemas dan siap untuk pulang tinggal menunggu Erlangga memintanya untuk mengikuti. Namun, belum juga berucap Nina dan juga Dinda datang menghampiri Allura yang masih menunggu Erlangga di kamar mandi. Keduanya melipat tangan di dada dengan meledek Allura karena masalah semalam.


"Kasian yang dimarahin semalam, makanya jadi orang itu punya sopan santun," kelakar Dinda dengan meledek Allura yang baginya sungguh merasa tidak layak menjadi pendamping kakaknya, apalagi menjadi kakak iparnya.


"Jangan begitu Dinda, dia ini kakak iparmu," sahut Nina menimpali dengan kekehan kecil meledek Allura juga. Tangannya terangkat sebelah menutupi mulut.


Allura mengembuskan napas kasarnya berulang-ulang karena kedapatan tamu yang tidak diundang. Sungguh malas Allura melihat mereka berdua. Andai mereka tahu jika Erlangga berhenti memarahinya ketika Nina pergi. Dia pun bahkan menyuruh Allura untuk tidur sama seperti apa yang dilakukannya pada Nina.


Belum puas keduanya meledek Allura, Erlangga datang sudah siap untuk keluar dari hotel.


"Kalian sudah di sini, yasudah pulangnya bareng saja," ucap Erlangga pada Nina dan juga Dinda. Namun keduanya saling memandang dan berucap.


"Nggak usah, Mas. Kita naik taxi aja. Mas berdua saja sama dia." Tunjuk Dinda kearah Allura dengan tidak suka. Erlangga menoleh kearah Nina dengan sorot mata yang menggambarkan seolah dia meminta izin pada kekasihnya itu. Nina hanya tersenyum samar dan menganggukkan kepalanya, memberikan izin pada Erlangga agar di mata Ella dia tidak begitu buruk karena pulang bersamaan dengan pengantin baru.


"Yasudah kami duluan, Mas," pamit Dinda pada Erlangga, tetapi dia tidak berpamitan pada Allura yang baginya sungguh tidak menginginkan Allura menjadi kakak iparnya. Dinda tidak menginginkan pernikahan mereka terjadi. Karena baginya hanya Nina lah yang pantas.


"Sabar, Al," batin Allura sembari mengusap dada. Apalagi saat dia melihat sorot mata suaminya dan juga Nina.


***


Kini keduanya tengah berada di mobil yang sama. Namun, tidak ada percakapan di anatara keduanya. Erlangga malas membahas perihal gadis itu yang menerima perjodohan ini. Sedangkan Allura masih merasa bersalah karena tidak sopan membawa ponsel Erlangga tanpa meminta izin.

__ADS_1


Apalagi semalam dia belum sempat meminta maaf karena takutnya akan sorotan tajam Erlangga.


"Tuan," panggil Allura yang menundukkan kepalanya tanpa berani menatap Erlangga. Lelaki itu hanya menjawab.


"Hmmm,"


"Maaf untuk semalam, karena aku tidak sopan." Terasa pecah telur itu ketika Allura mengucapkan permintaan maaf pada Erlangga.


"Iya," jawab Erlangga singkat. Namun, Allura semakin bersalah karena Erlangga menjawab dengan singkatnya. Pemikirannya jika Erlangga memaafkannya karena tidak ikhlas.


"Kita baru bertemu dua kali, tapi kamu sudah berani mengotak-atik privasi saya, melalui ponsel," sindir Erlangga, mata elangnya masih focus kearah kedepan karena menyetir mobil.


Allura tidak bisa menjawab, sebab apa yang di katakan Erlangga adalah kebenaran. Untuk mengalihkan rasa bersalahnya Allura terus *******-***** ujung bajunya.


Tidak terasa mereka telah sampai di rumah. Erlangga menurunkan koper Allura dan juga dirinya. Akan tetapi dia tidak membawakannya masuk kedalam. Wajahnya semakin tidak bersahabat apalagi setelah kejadian semalam yang membuat Erlangga marah padanya.


Sebelum kaki keduanya naik ke anak tangga, Ella menyapa keduanya yang akhirnya keduanya berbalik dan menghampiri Ella.


"Kok sudah pulang? Mama kan beri kalian waktu tiga hari lalu setelah itu terserah kalian mau bulan madu kemana," tanya Ella.


"Dia yang mau pulang, Ma. Katanya tidak betah kalau lama-lama tinggal di hotel. Lebih baik tinggal di rumah saja. Aku mau keatas dulu, Ma," pamit Erlangga yang malas untuk berbasa-basi, dan melempar masalah itu kepada Allura.


Erlangga langsung naik ke atas tanpa menghiraukan Allura. Anggap saja itu sebagai hukumam karena semalam telah lancang.


Ella langsung merangkul Allura ketika dia melihat Erlangga telah masuk kedalam kamarmya. Meminta Mbak Inah untuk membawakan koper Allura ke kamar Erlangga.


Ella membawa Allura kedalam kamarnya untuk memberikan sesuatu. Allura hanya menurut tanpa protes, kemana pun Ella mengajaknya. Setelah masuk kedalam kamar Ella, Allura begitu takjub dengan dekorasi kamar Ella yang elegan.

__ADS_1


Figura yang indah poto Ella bersama mendiang suaminya. Yang terpajang begitu cantik hasil goresan tangan seseorang. Meski dia tidak begitu mengetahui tentang seni dia yakin jika sang pelukis sungguh pelukis yang berbakat.


"Itu buatan Papa nya suamimu," celetuk Ella sembari berjalan menuju kearah Allura dan memboyongnya untuk duduk ditepi ranjang. Di sana Ella membuka kotak perhiasan yang di dalamnya berisi gelang indah nan cantik. Yang pastinya Allura tafsirkan jika harganya pasti mahal. Apalagi desainnya yang indah dengan balutan permata.


Kening Allura mengkerut ketika Ella memberilan padanya.


"Ini terlalu mewah untuk aku, Bu." Allura menolaknya dengan lembut. Dia sadar diri karena begitu indah gelang itu yang baginya tidak pantas untuk ia pakai.


"Ini pemberian dari suami, Mama. Dan Mama sudah berjanji akan memberikannya padamu, karena kamu adalah orang yang tepat untuk memakainya. Mau di simpan atau dipakai juga tidak apa-apa yang penting diterima." Allura pun menerimanya tanpa menolak lagi, selagi masih bisa di simpan tanpa perlu ia pakai.


Setelah berbincang-bincang cukup lama, Allura pun meminta izin untuk ke kamarnya beristirahat. Awalnya Ella menolak dan menahan Allura untuk tetap di kamarnya. Namun, Ella teringat saat dirinya menjadi pengantin baru akhirnya dia mengizinkan Allura pergi.


Allura pun segera pergi kelantai atas untuk merebahkan tubuhnya lagi. Rasanya dia masih mengantuk karena semalam terbangun. Saat membuka pintu dia melihat Erlangga yang tengah duduk di kursi di depan ranjang.


"Kamu tidak mengadukan masalah kita semalam kan?" tanya Erlangga masih menatap layar laptopnya.


"Tidak," jawab Allura cepat dan singkat.


"Kamu kalau mau tidur di ranjang saja, biar saya yang di sofa. Tidak mungkin juga saya satu ranjang dengan orang yang tidak saya cintai," ucap Erlangga memberitahukan pada Allura. Allura mengembuskan napas kasar tanpa menjawab.


Dia langsung berjalan cepat untuk menuju almari pakaian untuk membereskan pakaiannya. Tanpa berucap sepatah katapun dia terus bergelut dengan pakiannya yang sedang ia simpan.


"Ingat setiap kamu masuk langsung kunci kamar, saya tidak mau Mama langsung masuk saat kita sedang di kamar. Karena kebiasaannya jarang mengetuk pintu dan langsung masuk," ucap Erlangga lagi memberitahukan.


"Biarkan saja dia masuk, kalo perlu sama Mbak masuk juga. Biar mereka tahu kalau kita tidak seperti pasangan pengantin pada umumnya," batin Allura merutuki Erlangga yang tidak mau semuanya diketahui Ella.


***

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2