
Bab21. Kedatangan Mertua.
***
Erlangga sudah terbangun lebih dulu sebelum Allura. Seperti kemarin Allura hari ini pun bangun kesiangan. Mungkin karena lelahnya hati jadi membuat dirinya enggan untuk terbangun dan melihat kenyataan bahwa suaminya belum juga menerima kehadirannya.
Erlangga tidak berani membangunkan, toh dia senang jika Allura kesiangan jadi dia tidak perlu merasa kesal lagi saat wanita itu selalu mencoba melayaninya layaknya seorang istri. Erlangga menuruni tangga lalu berjalan menuju meja makan.
Namun, di sana dia sudah di suguhi dengan pemandangan yang tidak mengenakan. Ya, pagi buta begini mertuanya sudah ada di rumahnya bahkan Ella dan mertuanya tengah bercanda gurau. Mereka berdua belum memyadari jika Erlangga telah turun. Namun, saat Erlangga duduk baru keduanya mulai sadar.
"Istrimu mana mana Lang?" tanya Ella sembari menuntun Sinta untuk duduk dan membiarkan Mbak Inah yang menyelesaikan pekerjaan akhirnya untuk menghidangkan. Setelah mereka berdua berkutat dalam memasak dan Inah hanya menjadi penonton.
Setelah Mbak Inah selesai menyiapkannya dia berpamitan kebelakang meski Ella memintanya untuk sarapan bersama.
"Dia masih tidur," jawab Erlangga dengan tersenyum ramah. Meski dia kesal tetapi dia tidak menonjolkan rasa itu. Sebab dia masih menghargai Sinta sebagai mertuanya dan juga sahabat dari Mamanya.
Keduanya pun mengangguk dan mulai bersarapan bersama. Setelah sarapan selesai Sinta mengantarkan Erlangga kedepan. Dia ingin mengetahui bagaimana sikapnya terhadap Allura.
"Apakah anak saya sudah melayani kamu dengan benar?" tanya Sinta. Erlangga seketika menghentikkan langkahnya dan mulai mencondongkan tubuhnya kearah Sinta dengan bibir yang ia tarik membentuk senyuman.
Begitu meneduhkan dan menyejukkan di mata Sinta. Itu berarti Allura setelah menjadi istrinya telah melayani Erlangga dengan benar.
"Ibu tidak perlu khawatir lagi masalah itu, dia sudah memberikan yang terbaik untuk saya suaminya," jawab Erlangga. Rasanya dia ingin sekali pergi dari Sinta, dan malas untuk berbasa-basi akan tetapi untuk menutupi pernikahannya yang tidak harmonis tentu saja dia tidak bisa mengabaikan itu.
"Bagus lah kalau begitu." Sinta bernapas lega, "lalu apakah kamu sudah menjadi suami yang baik untuk anakku?" tanya Sinta lagi dengan menilisik wajah Erlangga dengan serius.
__ADS_1
Dia ingin melihat bagaimana dia berkata jujur tentang perlakuannya terhadap Allura, namun Erlangga masih bisa santai meski dia sudah mulai malas berbasa-basi.
"Aku sedang berusaha menjadi suami yang baik," jawab Erlangga lagi dengan ramahnya. Sinta bernapas lega kembali, mungkin firasatnya kemarin hanyalah sebuah kekhawatiran yang mengingat anaknya tidak bisa ia lihat lagi kesehariannya.
"Ibu percaya sama saya, saya akan mencoba yang terbaik untuk anak ibu. Doakan kami." Kata-kata itu spontan saja keluar dari mulut Erlangga.
Meski dalam hatinya dia begitu merutuki mulutnya sendiri. Hanya karena ingin terlihat baik di mata mertuanya. Bagaimana jika itu akan terkabul? Bagaimana adengan Nina wanita yang dicintainya? Andai dia bisa tarik kembali kata-kata itu.
Sinta memandang Erlangga dengan haru, ternyata benar ucapan yang Allura sempat lontarkan sebelum menikah, sedikit demi sedikit lelaki yang terlihat garang itu melunak pada anaknya. Mungkin Sinta tidak salah jika dia memberikan izin pada anaknya untuk menikah dengan anak Ella. Selain anak itu terlihat baik, juga dapat mempererat ikatan persahabatan mereka.
"Yasudah, Ibu sudah lega sekarang. Kamu boleh pergi dan bekerja. Semoga kamu bisa menjaga hati untuk istrimu,"
Erlangga mengangguk dan berpamitan pada Sinta. Sedangkan Sinta dia melihati Erlangga yang masuk kedalam mobil hingga tidak terlihat lagi oleh pandangannya. Dia pun memutat badan dan melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam lagi menuju meja makan.
Ella yang melihat aura Sinta yang berbinar bahagia pun ikut merasakannya. Sepertinya Erlangga memperlakukan Sinta dengan baik hingga senyuman itu terus mengembang sampai Sinta duduk di kursi lagi.
"Kamu terlihat bahagia?" tanya Ella. Sinta memandang Ella dengan senyuman.
"Iya, awalnya aku khawatir jika perjodohan ini tidak baik untuk anakku. Ternyata anakmu bisa menempatkan dirinya," jawab Sinta. Ella ingin bertanya apa yang telah mereka bicarakan. Tetapi syukurlah jika Erlangga bisa berbuat baik pada mertuanya untuk menutupi kebobrokannya. Padahal yang sesungguhnya tidaklah begitu. Ella sempat teriris hati mendengar ucapan Sinta, bagaimana jika Sinta tahu kebenarannya mungkin dia akan sangat kecewa pada Ella.
Ella terdiam dan melamun, sampai Sinta menggebrak meja agar Ella tersadar. Ella pun sadar dan melihat Sinta sudah membawa nampan berisi sarapan untuk Allura.
"Malah melamun kamu La, aku keatas dulu ya, kasihan Allura," pamit Sinta, Ella mengiyakan dan Ella mulai berjalan untuk naik kelantai atas menemui anaknya.
Sinta mengetuk pintu dan perlahan membukanya, dia masuk kedalam melihat Allura yang mulai menyandarkan punggungnya di punggung ranjang. Dengan masih menguap dan belum menyadari jika yang datang adalah Mamanya.
__ADS_1
Sinta menyimpan nampan di nakas dan melayangkan tangannya untuk menjewer telinga Allura yang baru bangun. Padahal matahari sudah mulai naik keatas tetapi anaknya baru terbangun. Membuatnya jengkel karena tidak bisa melayani suaminya saat akan berangkat kerja.
"Aw, aw, sakit ....," ringis Allura sembari mencoba melepaskan tangan seseorang yang menjewernya. Dia tidak sempat menghindar, sebab kesadarannya belum sepenuhnya pulih karena baru terbangun.
Saat Allura melihat baik-baik dan seksama kearah orang itu, dia sudah melihat Sinta dengan tatapan tajam kearahnya dan juga berkacak pinggang.
"Mama," panggil Allura, tangannya masih mengelus telinga. "Sakit tahu," keluhnya.
"Kamu itu sudah menikah, jangan begitu. Biasanya kamu paling rajin bangun pagi di panti," celetuk Sinta. "Sikat gigi dulu sana!"
Tanpa membantah Allura pun mulai beringsut dan menuruni ranjang untuk ke kamar mandi. Setelah selesai menyikat gigi Allura langsung naik lagi keatas ranjang. Dan Sinta menyuapi anaknya seperti biasa.
"Kasihan suamimu lah, Al. Tapi, kamunya begini," ucap Sinta saat anaknya tengah makan. Seketika bibir yang sedang mengunyah berhenti. Mata Allura membulat sempurna karena ucapan Sinta.
"Mama tadi yang mengantarkan dia bekerja, dia kayaknya suami impian ya, Al. Kamu beruntung juga," kata Sinta lagi sembari tersenyum.
"Bicara apa dia sama Mama-ku tadi, aku takut kalau dia tidak bisa berbuat baik pada Mama-ku," resah Allura dalam hatinya. Akan tetapi Sinta tengah memuji Erlangga.
"Katanya dia sedang berusaha menjadi suami yang baik, kamu juga harus berusaha menjadi istri yang baik ya, Al. Jangan membuat malu Mama," pinta Sinta pada anaknya. Allura hanya mengangguk sambil mengunyah makanan yang disuapi oleh Sinta.
Sepertinya Erlangga bisa memosisikan sikapnya di hadapan Sinta. Jadi membuat Sinta memujinya di depan dirinya. Allura bernapas lega, sehingga pernikahannya yang tidak harmonis bisa tertutupi.
***
Bersambung ...
__ADS_1