
Bab34. Gelisah.
***
Dari atas lantai dua Dinda tertawa meledek Allura yang telah di marahi Erlangga. Adik iparnya itu tampak puas dan bahagia karena melihat Allura yang menunduk tidak bisa menatap kakaknya.
Allura berdecih, kenapa harus hal memalukan itu ditonton oleh adik iparnya. Bukankah jika dia tahu semuanya dia akan semakin meledek dirinya.
Mengembuskan napas berat Allura memilih ke taman belakang daripada harus ke kamarnya. Apalagi ada Dinda yang pasti akan meledeknya lagi.
Tetapi tanpa di duga Dinda mengikuti Allura ke taman belakang, berniat menjahili Allura agar wanita itu semakin tidak betah di rumahnya. Akan bagus nantinya jika dia tidak tahan dan kabur.
"Bagaimana rasanya di marahi oleh suami sendiri? Kasihan ya, tidak pernah di prioritasksan," ucap Dinda sembari mendudukkan bokongnya berhadapan dengan Allura.
Allura berpura-pura tidak mendengar meski kata-kata itu begitu menusuk hati dan begitu terdengar jelas di telinganya.
"Kabur saja dari sini, benar gak? Nanti sakit hatimu hilang," lontar Dinda tertawa cekikikan. Namun, Allura hanya bergeming tidak ikut menimpali ucapan adik iparnya.
"Tidak usah pura-pura tidak dengar. Aku tahu kok kamu sedang terbakar kan hatinya," kata Dinda lagi selalu diakhiri dengan tawa cekikikannya meledek Allura terus-menerus.
"Sepertinya benar kata Mama, aku harus memilih di antara dua pilihan itu. Melanjutkan kuliah, atau membuka usaha," batin Allura, dia tidak ingin berdebat dengan Dinda. Pikirannya sedang risau sekarang.
Allura memilih meninggalkan Dinda yang masih meledeknya. Ketika Allura berdiri Dinda pun ikut berdiri dan mengikuti Allura kemana pun dia pergi.
Di saat akan naik keatas tangan Allura di tahan oleh Dinda dengan tatapan yang tidak bersahabat.
"Kenapa galau ya?" tanya Dinda lagi dengan cekalan tangannya semakin di tekan agar Allura merasa kesakitan.
"Lepas adik iparku sayang," pinta Allura meminta dengan lembut. Dinda yang mendengar lontaran Allura hanya mencebik tidak menyukai panggilan itu.
"Ih, apaan. Tidak usah panggil aku adik ipar, aku saja tidak menganggap kamu kakak iparku. Malas sekali aku punya kakak ipar modelan kayak kamu!" seru Dinda dengan ketus.
__ADS_1
"Non Dinda," panggil Mbak Inah ketika dia melihat anak majikannya berbuat tidak sopan.
Dinda pun melepaskan cekalan tangannya dan melihat kearah Mbak Inah, "kenapa Mbak, hehe," ucapnya dengan sok imut. Dinda Jika berada di hadapan Mbak Inah tidak bisa berkutik. Sebab dia telah menganggap Mbak inah keluarganya sendiri.
"Meskipun Non tidak menyukainya tetapi Non juga tidak boleh berbuat seperti itu, tidak baik. Apalagi dia kakak iparnya Non," ucap Inah memberi nasihat.
"Aku tidak peduli Mbak, dia saja tidak diharapkan oleh Mas Elang, lantas mengapa aku harus menghargainya," tolak Dinda dengan tegas. Baru saja Mbak Inah akan berucap lagi, Dinda sudah berlari untuk naik keatas.
"Sepertinya ada seseorang yang menghubungi dia," batin Allura menebak. Dia pun berpamitan pada Inah dan naik ke atas untuk mengganti pakaiannya.
Namun, setelah Allura selesai berganti pakaian Dinda telah keluar lebih dulu. Dia juga terlihat sudah menaiki taxi. Ingin mengejar pun pasti tidak akan terkejar. Entah mengapa hari ini dia ingin sekali membuntuti Dinda.
Namun, pikirannya terbesit kantor Erlangga. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk kembali kerumah dan memasak terlebih dulu untuk makan siang Erlangga.
Setelah berkutat di dapur dan selesai menyiapkan masakannya, Allura langsung berlarian kecil saat taxi yang sudah dia pesan sudah datang. Beberapa menit diperjalan dia sudah sampai di depan kantor Erlangga.
Sebelum keluar dia membayar terlebih dulu, lalu menatap kantor Erlangga yang tinggi menjulang di hadapannya. Entah mengapa perasaannya kini tidak enak hati dan ingin segera menemui Erlangga, meski tadi pagi mereka sempat berdebat.
Setelah sampai di ruangan Erlangga dia mendapati ruangannya yang kosong tidak berpenghuni. Untung saja Septian keluar dari ruangannya dan menyuruhnya untuk menunggu di dalam atau menunggu di ruangannya. Allura pun memilih menunggu di ruangan Septian agar dia tidak sendirian.
***
"Ada apa?" tanya Erlangga saat Nina dan juga Dinda memaksanya untuk keluar meski belum waktunya istirahat.
Keduanya malah saling menatap seolah gelisah, membuat Erlangga heran dengan kedua gadis di hadapannya. Berulang kali Erlangga mengetukkan telunjuknya di meja hingga berbunyi. Namun, keduanya masih menutup mulut.
"Ada apa? Kalau tidak ada yang dibicarakan aku pulang saja." Erlangga mulai beranjak untuk berdiri. Namun, seketika Nina berdiri dan menahan kekasihnya.
"Duduk dulu saja, aku mau ke kamar mandi dulu," pinta Nina, dia pun ke kamar mandi untuk membenarkan terlebih dulu penampilannya. Meski penampilannya tidak berantakan sama sekali.
Baru saja dia akan kembali ke mejanya, seseorang meneleponnya. Dengan wajah kesal dia mengangkatnya.
__ADS_1
"Apa sih, mengganggus saja," ketus Nina tidak suka.
"Jangan bilang kamu mau---"
"Tidak usah ikut campur!" seru Nina langsung mematikan teleponnya sepihak. Dia yang semula mulai tenang kini kembali gelisah di tambah kesal.
Namun, Nina menghirup napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Sudah lebih tenang dia memilih kembali untuk kemeja di mana ada Erlangga dan juga Dinda.
"Ayok, bilang Nin," titah Dinda dengan wajah yang sumringah. Erlangga menatap keduanya dengan bergantian. Tidak biasanya ekspresi keduanya berbeda. Yang satu gelisah dan yang satu tampak bahagia.
"Kamu kenapa Dinda, temanmu gelisah dan kamu malah bahagia?" tanya Erlangga ketika melihat reaksi sang adik. Dinda menjulurkan lidahnya seolah malah meledek pertanyaan kakaknya.
"Biar Nina saja yang jelaskan," ucap Dinda melempar pertanyaan pada Nina. Lelaki itu beralih menatap Nina.
"Mmmm, a-aku ... a-aku," ucap Nina terbata-bata.
Dinda tertawa ketika melihat Nina sudah gelisah seperti itu. Padahal saat mereka berdiskusi tadi Nina begitu bersemangat ingin segera bertemu dengan Erlangga. Namun, ternyata kenyataannya setelah bertemu dia malah menjadi orang yang menciut, seolah nyalinya pergi.
"Ya, kenapa dengan kamu?" tanya Erlangga dengan penasaran. Dia menanti jawaban dari Nina. Namun, baru saja mulut Nina akan terbuka pelayan restorant datang mengantarkan pesanan mereka.
Setelah makanan tersaji, Erlangga pun berucap. "Kayaknya makannya ditunda dulu, lebih baik kamu bicara saja dulu, biar aku makannya enak,"
"Enggak, makan dulu baru bicara, biar Nina punya tenaga," sanggah Dinda menolak. Mau tidak mau Erlangga tidak bisa menolak. Dia mengiyakan keinginan adiknya.
"Ok, kita makan,"
Beberapa menit berlalu Dinda dan Erlangga sudah selesai menyantap makanannya. Sisa Nina yang masih belum menghabiskan makanannya. Erlangga melihat Dinda beberapa kali berbisik-bisik membuat Nina tersenyum samar. Semakin penasaran dia dengan tingkah kedua orang di hadapannya.
***
Hmm,, kira-kira apa yang mau di sampaikan Nina readers🤭
__ADS_1
Bersambung...