
Bab39. Gelisah
***
Allura buru-buru kembali ke tempat tidurnya, dia takut jika suaminya keluar dan mendapati dirinya tengah berdiri di depan ponselnya berada. Untung saja Allura secepatnya pergi, ketika Erlangga baru saja keluar.
Dengan wajah yang gusar Erlangga kembali mengambil ponselnya. Berulang-ulang ponselnya ia letakkan di telinga namun, orang itu sepertinya tidak ingin menjawab panggilan dari Erlangga.
"Kenapa dia," tanya Allura dalam hatinya namun dia tidak berani lngsung bertanya pada Erlangga.
"Jawab kenapa!" racau Erlangga sembari berdiri dan mengacak rambutnya frustrasi.
Setelah meracau seperti itu, Erlangga terlihat mengetik dan terdengarlah suara ketukan dari luar. Ya, suara Dinda.
"Apa sih, Mas!" teriaknya dari luar. Erlangga tidak menghiraukannya, dan Dinda pun masuk kedalam dengan wajahnya yang ditekuk. Allura sudah tahu kenapa alasannya karena dia malas bertemu dengannya.
"Coba kamu panggil Nina, dari tadi siang dia tidak mengangkat dan membalas telepon dari Mas," titah Erlangga pada Dinda. Dinda tampak malas mengangkat teleponnya dan masih mengetik.
"Lama sekali begitu saja Dinda," tegur Erlangga ketika Dinda tidak kunjung meneleponnya.
"Kamu pasti akan aneh kalau aku ceritakan tadi siang saat Nina kesini," ucap Dinda sembari mengembuskan napas kasar. Sedangkan Allura hanya melihat kedua kakak beradik itu dari ranjangnya.
Allura tidak berani menimpali, toh itu semua bukan urusannya dan tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya. Mungkin yang ada di pikiran suaminya jika Allura lah penyebab sikap kekasihnya berbeda. Dan Allura bisa menebak jika orang yang sedari tadi dipanggil suaminya melalui telepon adalah kekasihnya.
"Tadi dia kesini? Lalu? Apa yang terjadi, kenapa dia tidak mengangkat telepon dari Mas," ucap Erlangga memberondong banyak pertanyaan pada Dinda.
Dinda memutar bola mata malas mendengar pertanyaan dari saudara laki-lakinya itu. Dengan melipat tangan di dada dia memilih pergi dari kamar Erlangga. Erlangga tidak tinggal diam, dia juga mengejar adiknya untuk meminta penjelesan kenapa sikap Nina berubah drastis.
Allura yang melihat suaminya pergi dari kamar mengembuskan napas beratnya. Seperti biasa jika pembahasan sudah mengenai Nina dia bahkan seolah menjadi patung tidak dianggap keberadaannya.
"Sampai kapan suamiku seperti itu," gumam Allura sembari merebahkan tubuhnya dan menutup selimut untuk memejamkan matanya. Mengistirahatkan pikiran yang amat berat yang tengah ia pikul kali ini.
__ADS_1
***
Allura terbangun ketika pecahan kaca terdengar di gendang telinganya. Dia langsung beringsut dan mengucek matanya dengan perlahan, sebelum melihat apa yang terjadi dia lebih dulu menoleh kearah jam dinding di kamarnya.
Waktu masih menunjukkan pukul 00.30, lalu penglihatannya beralih menatap Erlangga yang tengah gelisah di sofa dengan melihat pecahan kaca di hadapannya.
"Dia seperti itu pasti karena kekasihnya," batin Allura. Niat hati dia ingin membersihkan pecahan kaca itu, namun sebelum membersihkannya dia memilih membasuh terlebih dulu wajahnya. Setelah membasuh wajahnya Allura berjalan keluar kamar dan menuju lantai bawah.
Setelah membawa apa yang dia butuhkan, dia kembali ke kamarnya dan mulai membersihkan pecahan kaca. Setelah selesai membersihkannya Allura menetap Erlangga dengan wajah kesalnya.
"Kenapa?" tanya Erlangga yang tanpa sengaja melihat tatapan Allura.
"Menurutmu?!"
"Kalau tidak mau membersihkan, ya biarkan saja. Tidak perlu repot-repot,"
"Hmmm,"
Beberapa menit pun pembicaraan mereka terhenti lalu Erlangga berusaha bertanya pada Allura meskipun dirinya gengsi, dia ingin tahu kebenaran yang sebenarnya. Apakah benar kekasihnya itu bersikap baik pada Allura.
"Apakah benar Nina sudah mulai baik padamu?" tanya Erlangga. Allura terkesiap dengan pertanyaan Erlangga mengapa ketika dia memberikan pertanyaan semua menyangkut kekasihnya. Apakah lelaki itu tidak memikirkan perasaan Allura?
Allura hanya menghirup napas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan agar dia bisa bersabar ketika suaminya belum juga menerimanya sebagai istri.
"Iya," jawab Allura begitu sendu, namun dia tidak mampu membalikkan badannya kearah Erlangga karena takut meneteskan air mata.
"*****." Gigi Erlangga bergemurutuk ketika mendengar jawaban Allura. Allura yang mendengar kemarahana Erlangga pun akhirnya memilih untuk pergi kebawah membuang pecahan kaca.
Saat menuruni setiap anak tangga hatinya teriris, kenapa perasaannya begitu cepat mencintai, sedangkan Erlangga tidak pernah menatapanya sebagai istri. Haruskah dia memilih berpisah dan memilih hidup menjanda? Akan tetapi dirinya berpikir ulang dan sudah melangkah sejauh ini, dia tidak ingin sampai pernikahannya hancur karena kericil kecil.
Ketika sudah menyimpan Allura kembali untuk keatas menuju kamarnya di sana dia melihat Erlangga dengan tatapan dinginnya dengan tangan di kepala menopangnya. Allura bagai terimindasi apakah lelaki itu sungguh membencinya karena masalah Nina?
__ADS_1
Dengan menunduk Allura berjalan melewati suaminya dengan perasaan berkecamuk, padahal Erlangga kini sungguh gelisah, di satu sisi dia tidak ingin meninggalkan wanita pilihan orang tuanya sedangkan dia pun tidak bisa meninggalkan Nina yang telah menemaninya selama ini.
"Perasaan apa ini?" batin Erlangga ketika istri yang tidak pernah dianggapnya melewati dirinya dengan menunduk dan tangan saling bertaut seolah ketakutan melihat tatapan Erlangga.
Tidak bisa dipungkiri hatinya kini sedikit terbiasa dengan kelakuan istrinya yang kadang-kadang memberikan perhatian lebih meskipun dia selalu mengabaikan, tetapi kini pun dia sakit karena kekasih hatinya seolah mendiamkan dirinya bahkan seolah mencampakkan dirinya karena masalah pernikahan yang sulit dia wujudkan.
Di dalam kalutnya pikiran dirinya Erlangga memilih keluar kamar, ketika itu juga Dinda keluar kamar dan menegurnya.
"Mas," panggil Dinda pada saudara lelakinya, Erlangga menoleh dengan alis memicing.
"Belum tidur kamu?" tanya Erlangga, Dinda menggeleng.
"Ini kebangun, dengar pintu dibuka makanya keluar itu pasti kamu," jawab Dinda tanpa basa-basi dan yakin bahwa yang keluar adalah saudara kandungnya.
"Aku mau bicara soal Nina, mumpung istrimu itu tidak ada," celetuk Dinda.
"Hmmm." Erlangga hanya berdehem, keduanya berjalan menuju balkon.
"Kayaknya Nina begitu karena kamu tidak mau menceraikan istrimu. Aku pikir itu bentuk protesnya karena kamu tidak memberikan kepastian padanya," ucap Dinda mencoba mengungkapkan apa yang dia baca, meski dia pun sedikit kesal pada sahabatnya itu.
Erlangga hanya mengembuskan napas kasar, sembari menatap kearah langit yang gelap karena tengah malam. Dia pun berpikiran seperti apa yang di katakan adiknya, akan tetapi dia juga tidak bisa mengambil keputusan itu dengan cepat apalagi Allura menantu kesayangan mama-nya.
"Kenapa tidak jawab, Mas? Kamu mulai menyukainya? Apakah aku juga harus menyukai istrimu juga? Sungguh aku tidak mau kalau sampai itu terjadi," risau Dinda seolah mencoba menyadarkan saudaranya untuk tetap mencoba memikirkan cara untuk menceraikan Allura dan menikahi sahabatnya.
"Tidur sana, anak kecil jangan banyak berpikir," ucap Erlangga mencoba mengalihkan pembicaraan seolah dia tidak ingin menjawab.
Dinda yang mendengar jawaban Erlangga kesal dan gemas dan dia menyadari jika saudaranya tengah gelisah memikirkan perasaannya. Dia yakin jika Erlangga sudah mulai menyukai wanita yang tidak ia sukai.
***
Bersambung ...
__ADS_1
Maaf ya sudah lama baru update lagi🤗 di karenakan author baru lahiran, jadi baru sempat nulis lagi🤗
Selamat membaca dan semoga masih setia menunggu ceritanya...