
Bab8. Meminta Bantuan
***
10 menit sebelum pemberkatan...
"Stop Ma, Elang tidak bisa bagaimana dengan Nina. Aku kira Mama mau menikahkan aku dengannya bukan gadis asing itu yang jadi mempelainya," tolak Erlangga. Namun, Ella membisikkan sesuatu yang membuatnya memutar otak untuk mengagalkan acara pernikahan itu.
"Kamu mau membuat Mama malu di depan keluarga, Erlangga! Hmmm, demi wanita itu kamu rela membuang kotoran di wajah Mama," bisik Ella dengan nada tidak suka karena penolakan Erlangga.
"Tapi Ma, jika bukan Nina sebaiknya Mama diskusikan dulu padaku siapa yang akan menjadi calon istriku. Kalau mendadak begini aku terkejut Ma." Erlangga masih berusaha mencoba mengagalkan.
"Ma, aku mohon beri aku waktu agar bisa menerima gadis itu jika Mama masih kekeh aku ingin menikahinya." Erlangga berusaha menarik ulur Mamanya.
Namun, bukan Ella jika dia tidak bisa mengatasinya. Ella berjalan mondar-mandir di depan Erlangga seolah tengah berpikir. Cukup lama ia lakukan hingga akhirnya keputusannya final dan tidak bisa diganggu gugat lagi.
"Mama memberikan calon istri yang terbaik untuk kamu. Mungkin saat ini kamu tidak bisa menerimanya, namun suatu saat nanti kamu akan berterima kasih pada Mama karena telah memaksamu untuk menikahkannya denganmu!" seru Ella dengan tegas, dia langsung menarik tangan Erlangga agar pemberkatan segera dilaksankan.
***
Setelah diberikan selamat oleh para tamu undangan Erlangga menatap Allura dengan tatapan tidak suka.
"Mau-maunya kamu menikah dengan lelaki yang tidak kamu kenal," ucap Erlangga dengan wajah meremehkan.
"Wanita kalau tidak ada maksud terselubung pasti tidak akan mau. Bicara kamu mau apa, nanti saya berikan. Tapi jangan harap saya akan menerima kamu sebagai istri saya," kelakar Erlangga lagi dengan pedas. Allura hanya mendengarkan tanpa menjawab hinaan dari Erlangga. Allura berusaha sabar dan tetap terlihat bahagia agar Mama nya yang tengah memandanginya dari jarak beberapa meter tidak cemas karena Erlangga terlihat belum bisa menerima Allura.
"Terserahmu saja," batin Allura dengan santai. Meski ingin menjawab tetapi dia urungkan mengingat Ella pun masih memperhatikan keduanya.
__ADS_1
"Lihatlah kedua Mama kita sedang memantau, kamu tidak mau bukan dimarahi Ibu Ella, karena tidak bersikap baik padaku, hmm." Akhirnya Allura berani menjawab, namun, ada sedikit ledekan bagi Erlangga yang mau tidak mau membuatnya harus menuruti Allura.
Acara pun telah selesai, namun dengan kasar Erlangga menarik tangan Allura untuk masuk kedalam kamar. Allura pun tanpa memprotes membiarkan tangan Erlangga yang kasar menariknya. Dia ingin melihat sejauh mana dia bisa membuat Allura menyerah.
Tiba di dalam kamar Erlangga melepaskan tautan tangannya. Dia berjalan mondar-mandir tidak jelas karena pusing dengan pernikahan ini. Yang pasti kekasihnya Nina pasti sangat terluka dan terpukul dengam semua ini.
"Kamu tahu saya sudah punya kekasih?" tanya Erlangga menunjuk kearah Allura, gadis itu hanya mengangguk tanpa melontarkan kata apapun.
"Lalu kenapa kamu mau? Kamu tidak punya pacar?!" ucap Erlangga lagi dengan gemas melihat tingkah Allura yang begitu penurut hanya mengangguk-ngangguk saja. Padahal Allura sebenarnya ingin sekali menjawab tetapi dia urungkan.
"Kamu tidak bisa bicara? Sampai pertanyaan saya ini tidak dijawab satu pun?" Lagi-lagi pertanyaannya tidak dijawab, namun sekarang menjadi gelengan menandakan bahwa Allura bisa bicara hanya saja dia malas menjawab.
"Wanita aneh, bisa-bisanya Mama menikahkan aku dengan dia. Dia bilang jika aku akan berterima kasih karena telah memaksa menikahkan aku dengannya?! Why, kenapa juga aku harus bangga menikahi wanita seperti dia!" gerutu Erlangga dengan dongkol. Namun, lagi-lagi Allura hanya mendengarkan saja.
Erlangga melangkah untuk masuk kedalam kamar mandi, membersihkan tubuhnya yang sudah penuh keringat. Bukan seperti halnya pasangan pengantin baru pada umumnya yang akan memadu kasih. Karena pernikahan ini terjadi tanpa adanya cinta bahkan perjodohan dari Mamanya.
"Jalani saja dulu Tuan Erlangga, sampai anda bisa menerima saya menjadi bagian hidup anda," ucap Allura berbangga diri menantang lelaki itu. Meskipun dia tidak tahu bagaimana kisahnya kedepan nanti.
Saat akan membuka gaunnya Allura kesusahan. Dia enggan untuk meminta bantuan Erlangga apalagi lelaki itu begitu menyebalkan dan juga menjengkelkan baginya.
Saat Allura tengah berusaha menggapai resleting gaunnya, Erlangga pun keluar dengan handuk kecil di lehernya untuk mengeringkan rambutnya. Dia ingin mencoba membantunya tetapi dia gengsi jika harus memberikan bantuannya. Dia akan membantu jika Allura memintanya.
Allura pun terkejut dan menghadap Erlangga karena takut punggungnya terlihat oleh Erlangga meski dia belum bisa membuka resletingnya.
Beberapa menit berlalu Erlangga sudah selesai dengan mengeringkan rambutnya. Dia pun langsung keluar kamar tanpa berpamitan pada Allura, namun ketika Erlangga akan menggapai knop pintu Allura menahannya untuk pergi.
"Tuan Erlangga," panggilnya dengan cepat. Seketika Erlangga menghentikan langkahnya untuk menggapai knop pintu. Lelaki itu tersenyum licik, akhirnya dia yang meminta bantuan.
__ADS_1
"Kenapa?!" Erlangga bertanya masih menggapai knop pintu tanpa menoleh kearah Allura. Allura gelagapan karena bingung harus berbicara apa untuk meminta bantuannya.
"Mmm, anu-anu ini, mmmm... Bisakah kamu membantuku untuk membuka resleting gaunku?" tanya Allura dengan nada malu dan takut.
"Ok," jawab Erlangga datar. Dia mulai berjalan menghampiri Allura untuk membukakannya. Sebelum resleting dibuka sampai terekspos punggungnya Allura mengehentikannya.
"Tunggu! Tutup matamu jangan sampai kamu melihat punggungku," ucap Allura dengan tegas. Setelah mengatakan itu, Erlangga langsung membukanya dengan kasar dan cepat. Setelah selesai dia berjalan kehadapan Allura dengan tatapan nyalang.
"Sesuci apakah dirimu sampai berbicara seperti itu? Cih, paling wanita sepertimu sudah disentuh orang!" seru Erlangga yang tidak suka dengan ucapan Allura.
Allura yang mendengar hinaan pun hanya tersenyum kecut. Bisa-bisanya dia meremehkan Allura. Untuk berpacaran saja dia tidak pernah apalagi melakukan hal yang dituduhnya. Tuduhannya sungguh membuat Allura merasa direndahkan. Akan tetapi dia tidak bisa menjawab karena Erlangga langsung keluar kamar dan membanting pintu dengan keras.
"Dia yang menghina, tapi dia juga yang marah-marah. Heran, bisa-bisanya pikirannya menjurus pada wanita mu**han seperti itu, tahu apa sih dia tentang kehidupanku," gerutu Allura yang sedikit sesak.
"Ok, baru permulaan. Sabar Al, kamu pasti bisa menaklukkannya," ucapnya menyemangati diri sendiri.
Sebelum menuju kamar mandi ponsel Allura berdering. Pesan dari dua wanita yang sangat dicintainya.
Pesan dari Ella, "Nak, jangan lupa ada sesuatu di kasurmu yang Mama belikan special untuk kamu. Selamat berbahagia cantik,"
Pesan dari Sinta, "Sayang, Mama sudah pulang. Maaf ya tidak berpamitan karena Mama lihat suamimu sudah tidak sabar,"
Alis Allura mengkerut dalam, "iya dia sudah tidak sabar, Ma, tidak sabar memakiku karena mau menikah dengannya. Lalu apa kata Ibu Ella, ada yang special apa itu? Apakah baju dinas seperti yang ada di film-film drakor setelah pernikahan," ucap Allura dengan membayangkannya. Namun dia geli sendiri jika harus memikirkannya.
***
Bersambung ...
__ADS_1