
Bab27. Penasaran.
***
Erlangga menunggu keinginan tambahan Allura yang sacara mendadak itu. Dia menatap dengan intens, tetapi Allura seperti kebingungan untuk mengungkapkannya. Allura sampai mengigit bibir bawahnya yang membuat Erlangga berpikiran yang tidak-tidak.
"Jangan bilang dia mau aku sentuh sebagai tanda kesepakatan perjanjian itu," ucap Erlangga membatin.
Erlangga semakin muak dan kembali menarik kekagumannya pada Allura. Padahal dia sudah terbiasa dengan adanya Allura yang mengganggunya. Namun, ternyata dia berbeda dengan kekasihnya, Nina. Selama menjalin hubungan dengan Nina sedikitpun dia tidak pernah menyentuh Nina. Dan bahkan Nina tidak pernah menggodanya seperti apa yang dilakukan Allura saat ini.
"Apa? Coba kamu ucapkan apa yang kamu mau?" tanya Erlangga tegas.
"Aku ... Mmm, aku ...," ucap Allura terpotong-potong.
"Apa!"
"Mm, besok saja aku ceritanya, Tuan. Sekarang aku mau tidur dulu," titah Allura secara tidak langsung Allura mengusirnya dari sana.
Semakin yakin saja pikiran Erlangga menjurus kearah sana. Bisa-bisanya wanita itu membuat dirinya menunggu sampai penasaran seperti ini.
Erlangga pun berjalan menuju sofa. Tetapi pandangannya tidak beralih dari arah ranjang di mana Allura yang sudah menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
***
Pagi-pagi Nina sudah di antarkan untuk pulang oleh Dinda. Dia hanya ingin Nina beristirahat di rumahnya agar tidak selalu menjadi beban pikirannya ketika mendengar perkataan Ella.
Setelah mengantarkan Nina, Dinda langsung mencari Ella karena dirinya ingin meminta penjelasan tentang perkataan Erlangga semalam yang membuat sahabatnya bersedih.
Di dapur sudah ada Allura yang tengah membantu Ella. Dengan malas Dinda tetap melangkahkan kakinya kesana. Dia melihati interaksi keduanya yang cukup hangat hingga membuat dirinya merasa Allura telah merebut Mamanya.
Dinda menggebrak meja dengan kasar, Ella, Allura dan Mbak Inah yang sedang membantu pun langsung menoleh kearah Dinda yang menggebrak meja. Ella yang tidak suka pun langsung berjalan menghampiri Dinda yang sudah berbuat tidak sopan.
__ADS_1
"Kamu ini semakin lama di diamkam semakin melunjak, ya," cerca Ella dengan nada yang marah.
"Ya, apa yang aku lakukan selalu salah bukan. Tidak terkecuali wanita itu," ucap Dinda menunjuk Allura yang tengah melihati peedebatan anak dan ibu.
"Mama tidak membeda-bedakan Dinda sayang, kamu saja yang tidak mengerti dengan kode dari Mama. Mama sudah memberikan tanda-tanda Mama tidak suka kamu bergaul dan terlalu dekat dengan Nina." Untuk kali pertama Ella mengungkapkan ketidak sukaannya terhadap teman Dinda.
"Kenapa? Oh, pantas saja Mama menjodohkan orang itu dengan Mas Elang, karena itu alasannya. Berarti Mama selama itu juga tidak merestui hubungan mereka?"
"Menurut aku dia baik, Ma. Mama tidak tahu bagaimana luar dalamnya dia makanya cuma bisa memandang rendah orang. Harusnya Mama juga dekati dia, seperti Mama dekati wanita itu yang tidak jelas asal-usulnya!" seru Dinda sembari tangannya menunjuk kearah Allura lagi.
Ella hanya menggelengkan kepalanya dengan sikap egois anaknya. Dia tidak pernah membenci orang tanpa sebab, tetapi karena dia tahu sebab apa yang membuatnya tidak menyukainya.
Rasanya dia ingin mengungkapkan segalanya, akan tetapi baginya itu tidaklah penting. Yang terpenting saat ini adalah Erlangga sudah mempunyai dinding agar mereka tidak terlalu dekat.
"Kata siapa Mama tidak tahu asal-usulnya, Mama tahu kesehariannya dengan baik," jawab Ella dengan santainya.
"Lalu temanku? Menurut Mama asal-usul temanku tidak baik begitu?!"
"Mama tidak berbicara apapun tentang dia,"
"Mama hanya menggertak, Masmu. Dan menurut Mama itu wajar-wajar saja, karena wanita baik-baik tidak akan merebut suami orang,"
"Yang merebut itu bukan temanku. Tapi wanita itu yang merebutnya. Datang tiba-tiba di nikahkan! Aku tidak setuju Ma, Mama dengar aku tidak pernah menganggapnya kakak ipar!" seru Dinda menegaskan ketidak sukaannya terhadap Allura.
Tidak ingin mendengar pembelaan lagi dari sang Mama tentang wanita yang tidak disukainya, Dinda memilih ke atas untuk kekamarnya.
Namun, saat berjalan di tangga dia berpapasan dengan Erlangga dan bertanya.
"Kamu berantem sama Mama? Meskipun kamu tidak suka dengan keputusan Mama tapi kamu tidak bisa memperlakukan wanita yang telah melahirkan kamu seperti itu. Apa yang kamu lakukan itu salah, dan tidak baik, Dinda," tegur Erlangga, Dinda menoleh dengan tatapan tidak suka.
"Akau sudah muak dengan sikap Mama, Mas,"
__ADS_1
"Jangan diulangi lagi, dan Mas mau kamu harus meminta maaf padanya!" seru Erlangga dengan penuh penekanan.
Erlangga melanjutkan langkahnya untuk turun kebawah. Sedangkan Dinda dibuat kesal dengan ucapan kakaknya.
"Kayaknya Mas Elang sudah menerima wanita itu, menyebalkan!" gerutu Dinda sembari menghentakkan kakinya.
***
Erlangga mendudukkan bokongnya di kursi dengan wajah datarnya. Dia tidak menghubungi Nina hari ini karena pikirannya masih tertuju pada Allura yang mengajukan tambahan dalam perjanjian akan tetapi sampai saat ini Allura masih bungkam.
Mereka sarapan bertiga, setelah selesai sarapan Erlangga memberi kode pada Allura agar dia mengantarkannya saat akan pergi bekerja.
Allura yang paham pun berpamitam pada Ella lalu mengikuti Erlangga sampai di depan rumah. Sebelum Erlangga memasuki mobil dia berbicara lebih dulu pada Allura.
"Cepat katakan." Seketika Allura tercengang karena Erlangga menyuruhnya mengikutinya hanya untuk membahas masalah semalam. Padahal Allura hampir saja lupa dengan tambahan perjanjian.
Allura menggelengkan kepalanya seolah tidak ingin dulu menjawab. Erlangga yang terlanjur penasaran dan mulai pikirannya kemana-mana terus menekan Allura agar dia mengatakannya.
"Cepat, sebelum saya berubah pikiran dan tidak mau menambahkan apa yang kamu mau!" Lagi-lagi Allura hanya menggelengkan kepalanya. Kuat sekali pendirian Allura membuat Erlangga memilih untuk pergi meninggalkan Allura tanpa menolehnya.
Setelah mobil yang dinaiki Erlangga menghilang dari pandangannya, Allura tertawa kecil menutupi mulutnya karena dia tahu jika suaminya itu sangat penasaran.
Ketika Allura bebalik dia melihat Dinda yang telah berada dibelakangnya dengan melipat tangan di dada. Tawa kecil itu seketika pudar dari bibir Allura berganti menjadi wajah tanpa ekspresi.
"Kenapa terlihat bahagia? Bahagia karena melihat saya dan Mama bertengkar hanya karena kamu?!"
"Kalau pun saya mengatakannya kamu tidak akan percaya, lebih baik saya tidak banyak berkomentar agar tidak terjadi salah paham. Saya tidak mau cari musuh," lontar Allura.
Dinda mencebik dengan tatapan jijik pada Allura. "Merasa menjadi Nyonya di sini karena dibela Mamaku? jangan harap ini semua selamanya, lambat laun kamu akan disingkirkan setelah Nina mau menikah dengan Mas Erlangga!" seru Dinda mencoba menyadarkan Allura kalau dia tidak akan lama menjadi istri Erlangga.
Allura menganggukkan kepalanya, "iya aku menunggu hari itu, jika benar itu terjadi," ledek Allura masih dengan tawa kecilnya menantang perkataan Dinda.
__ADS_1
***
Bersambung ...