
Bab37.. Santai.
Keesokan harinya Erlangga terbangun dengan heran mengingat dirinya sudah berada di kamarnya. Di sekeliling kamarnya dia tidak mendapati sang istri. Erlangga tahu pasti Allura tengah dibawah membantu menyiapkan sarapan.
Dia teringat saat dia di papah Allura keatas meskipun tehuyung-huyung.
"Apa dia yang membantuku kesini? Memangnya dia kuat, tubuhnya saja kecil," gumam Erlangga yang mencoba menyangkal kenyataan yang sebenarnya meskipun kebenarannya memang begitu.
Rasa lelah yang mendera membuatnya hilang kesadaran seperti telah menengguk alk*hol. Beratnya pikiran membuatnya merasa kelelahan berlebih. Namun, Erlangga seketika mengingat Nina. Dari kemarin dia belum menghubunginya. Dia takut jika kekasihnya itu berpikiran yang macam-macam, dan sebaiknya dia mencoba memberikan pengertian agar tidak secepatnya melangsungkan pernikahan.
Allura membawakan sarapan kedalam kamar dan melihat Erlangga tengah mengotak-atik ponselnya. Dia tidak menegur hanya menyimpan nampan di meja. Tetapi dia masih tetap berdiri di samping meja, berharap Erlangga menyapanya.
Seperti biasa Erlangga sama sekali tidak mengucapkan terima kasih, bahkan menoleh pun tidak. Akhirnya Erlangga memilih pergi untuk kekamar mandi. Sedangkan Allura hanya bisa mengembuskan napas kasarnya, lalu dia memilih keluar kamar namun, sebelum menuju tangga Dinda menariknya agar masuk kedalam kamar.
"Kamu bisa gak sih, tidak usah sok perhatian lagi sama Masku, dia itu tidak menginginkan kamu, dan sebaiknya kamu segera berkemas karena kamu akan segera di ceraikan olehnya," ucap Dinda menekankan. Allura memutar bola matanya jengah, sebab Erlangga pun sama sekali tidak membicarkan apapun perihal pernikahannya.
Selagi suaminya tidak membicarakan apapun Allura akan tenang setenang air yang mengalir.
"Ngapain matamu begitu-begitu, mau kucongkel," gemas Dinda melihat tingkah Allura. Lagi-lagi Allura hanya meniup-niup ujung kukunya seolah dia tidak mendengarkan ucapan Dinda.
"Telingamu itu berfungsi tidak sih, bisa-bisanya kamu masih santai saat kamu akan diceraikan. Oh, sudah punya cadangan ya?" cerca Dinda lagi dengan emosi yang kini mulai menggebu.
Kakak ipar yang tidak dianggapnya sungguh membuat gadis itu kesal. Apalagi saat dirinya sedang memaki bahkan menghinanya Allura tetap saja santai seolah Dinda tidak ada di hadapannya meski mereka saling berhadapan bahkan Allura tengah berada di kamarnya.
"Bisa-bisanya masih melayani suami padahal tidak pernah diminta," cerocos Dinda lagi.
Sebenarnya Dinda ingin sekali menjawab dan menampar mulut adik iparnya itu, tetapi dia tahan sekuat tenaga mengingat mereka kini adalah keluarga. Allura yakin jika Dinda gadis baik hanya saja dia terhasut oleh pacar suaminya.
"Sabar, Al." Berulang kali Allura mengembuskan napas perlahan-lahan mencoba tenang.
Dinda mondar-mandir tidak jelas karena dia sudah kehabisan kata-kata untuk menjatuhkan mental Allura yang kuat dan tegar itu. Dia melakukan hal seperti itu agar Allura minggat dari rumahnya. Jadi dia tidak perlu repot-repot mengusirnya. Apalagi sang Mama pasti akan membela Allura.
"Kenapa dia masih santai begitu, harusnya dia nangis kejer bahkan meraung-raung dan meminta bantuanku agar menghentikan pernikahan Mas Elang dan Nina. Tapi, dia seolah tidak peduli tetapi tatapannya saat bertemu Mas Elang seperti takut kehilangan," batin Dinda menggerutu dan mengamati tingkah Allura.
__ADS_1
"Aku boleh keluar?" tanya Allura saat Dinda hanya mondar-mandir tidak jelas dan tidak mengucapkan kata-kata apapun lagi.
"Diam, disitu! Enak saja keluar, tunggu Mas Elang pergi dulu. Kasihan dia muak melihat wajah kamu!" seru Dinda.
"Masa sih?! Perasaan dia biasa-biasa saja tuh," jawab Allura, Dinda memelototi Allura.
"Sok tahu kamu ya, kamu ini emang si tebal muka. Sudah tidak dianggap masih saja merasa tinggi," kelakar Dinda yang merasa Allura terlalu percaya diri.
"Kayaknya Mas mu sudah menerima aku sedikit di ruang hatinya," lontar Allura memanas-manasi Dinda.
"Apa!" teriak Dinda tidak percaya dengan menggelengkan kepalanya.
"Kamu bermimpi ya, kasihan wanita malang." Dinda mendekati Allura dan mengusap dahi Allura. Allura rasanya ingin tertawa melihat tingkah adik iparnya itu.
Saat Allura menahan ingin ketawanya, Dinda mengamati Allura.
"Kamu meledek aku ya?" tanya Dinda sembari menunjuk dirinya sendiri.
Saat mendengar pintu kamar sebelah terbuka, dan Dinda menyembulkan kepalanya melihat kearah sumber suara. Ternyata Erlangga sudah turun dan akan berangkat kerja. Dia berbalik terlebih dulu melihat Allura.
"Jangan keluar, awas ya, kamu!" ancam Dinda menunjuk Allura, Allura hanya mengatupkan tangannya seolah menuruti perintah Dinda padahal dia sedang meledaknya.
Setelah Dinda keluar Allura tertawa sepuasnya. Sebenarnya dia takut jika itu terjadi, tetapi selagi suaminya tidak membahas penceraian dia akan tetap santai.
Dinda yang melihat keadaan sekitar pun menghubungi Nina agar jangan dulu datang. Setelah melihat Mamanya keluar bersamaan dengan Erlangga dia baru mengiyakan Nina untuk segera datang.
Dinda pun masuk lagi kedalam kamar dan melihat Allura yang tengah mengelilingi kamarnya. Melihati benda-benda yang berada di dalam.
"Kenapa? Mengamati mau meniru atau mencuri?" ucap Dinda. Allura menoleh kearah sumber suara dengan kening mengkerut.
"Dia kira aku tidak mampu beli," gerutu Allura dalam hatinya. Namun, dia malas memabalas hinaan adik iparnya dan memilih duduk di tepian ranjang.
"Duduk dibawah kamu!" titah Dinda sembari menarik tangan Allura, namun Allura mempertahankan duduknya. Dinda yang merasa kalah pun memilih membiarkan Allura duduk di sana sampai Nina datang.
__ADS_1
"Dinda," panggil Allura saat adik iparnya masih sibuk dengan ponselnya. Dinda menoleh menatap dengan kesal.
"Kenapa?" jawabnya ketus.
"Kamu mau apa sebenarnya nyuruh aku di sini? Kamu mau mengenalku lebih dalam ya, sampai mengurungku di sini," ucap Allura sembari tersenyum lebar.
Dinda yang mendengar kata-kata itu sungguh muak, dan menatapnya dengan tajam.
"Mengenal kamu lebih dalam? Untuk apa? Memangnya siapa kamu!" seru Dinda sembari berdiri dan menunjuk Allura dengan telunjuknya kearah wajah Allura. Allura mangalihkan pandangannya.
"Aku kakak iparmu, wajar juga Dinda," ucap Allura mengompori lagi.
"Apa kamu bilang?! Kakak ipar? Kamu bermimpi makanya bangun, sampai kapanpun aku tidak akan menganggap kamu kakak ipar!" seru Dinda dengan tegas.
"Ini buktinya apa, kamu menahan saya di sini kalau kamu tidak ingin pendekatan dengan saya?"
"Bicaramu itu, sudah merasa akan selamanya kamu jadi istri Mas Elang? Jangan bermimpi sebentar lagi kamu diceraikan!"
Dari luar pintu kamar Nina mendengarkan lebih dulu percakapan mereka sebelum masuk kedalam.
"Iya," jawab Allura dengan bangganya.
"Iya-iya berkhayallah sampai kamu terjatuh dan tersakiti." Tawa Dinda menggelegar meledek Allura yang merasa percaya diri.
"Tapi kenyataannya memang begitu, adik iparku sayang," ucap Allura sembari membalasnya dengan senyum elegan. Emosi Dinda sudah tidak bisa ditahan lagi dia langsung menjambak rambuk Allura.
Nina yang mendengar jika perbincangan mereka sudah mulai tidak sehat lagi dia langsung masuk. Dan mencoba melerai keduanya. Nina berusaha melepaskan cekalan tangan Dinda yang menjambak rambut Allura.
"Berhenti Dinda, kamu tuh gak boleh kayak gini."
***
Bersambung ...
__ADS_1