
Bab19. Pertengkaran.
***
Erlangga mencoba memberi kode pada karyawannya agar mereka tidak menyapa dirinya. Dia hanya ingin tahu rumah Nina, sebenarnya dia juga bisa dengan mudahnya menemukan rumah kekasihnya dan bibit bebet bobot keluarganya. Namun, dia tidak sanggup mendengar kenyataan yang sebenarnya.
Sebab kekasihnya telah lama menyembunyikan keluarganya. Mungkin ada sesuatu yang di rahasiakan Nina padanya yang akan membuat malu dirinya hingga membuat wanita itu tidak mampu mengatakannya.
Jadi Erlangga hanya bisa menunggu sampai Nina siap untuk memberitahukan segalanya. Dia tidak mau tahu dari orang lain, Erlangga hanya ingin tahu dari orang terkasihnya agar jalan keluar bisa di cari jika memang latar belakang keluarga Nina yang membuatnya belum bisa mengenalkan mereka pada Erlangga.
Baru saja tubuh Nina di simpan di kursi mobil, dia terbangun. Perlahan Nina mengucek matanya dan menyipitkan matanya menatap lekat-lekat Erlangga.
"Kita mau kemana?" tanya Nina dengan suara khasnya yang serak baru bangun.
"Mengantarkan kamu pulang," jawab Erlangga mengalihkan pandangan kearah depan. Tangan Erlangga sedang sibuk memakaikan sabuk pengaman, lalu memutar setir mobil untuk menjalankannya.
Nina tampak berulang kali menguap, lalu dia menoleh kearah jendela mobil dan mengotak-ngatik ponselnya membalas pesan. Kebetulan sekali Dinda mengajaknya untuk berjalan-jalan sehingga dia bisa memberikan alasan lagi agar Erlangga tidak perlu mengantarkannya pulang.
"Nin, kamu di mana? Baru pulang sudah kelayapan." Pesan singkat dari Dinda, Nina pun mengatakan pada Dinda jika dirinya baru pulang dari kantor Erlangga dan akan pulang kerumah.
"Tidak usah pulang, nginap saja di rumah aku. Kamu ke mall aja, aku otw sekarang," titah Dinda pada Nina. Dengan senang hati Nina mengiyakan.
Perlahan Nina memutar badan dan mencodongkan tubuhnya kearah Erlangga dengan tatapan gemas yang membuat Erlangga tidak bisa menolak apa yang dia inginkan.
"Apa lagi yang dia mau? Pasti alasan agar tidak di antarkan pulang," batin Erlangga ketika dia sekilas menoleh kearah Nina.
"Mau apa bicara saja," titah Erlangga dengan lembutnya. Nina pun tersenyum sumringah. Erlangga memang yang terbaik yang bisa memahami dirinya.
__ADS_1
"Antarkan saja aku ke mall, aku mau jalan sama Dinda," ungkap Nina. Erlangga pun mengangguk dan mengiyakannya.
Mereka berdua bercanda tengah membicarakan masa depan saat keduanya telah menikah. Membayangkan duduk di pelaminan sampai Nina memberikan kesiapan dirinya agar Erlangga secepatnya menikahi dirinya dan menceraikan Allura wanita yang sama sekali tidak di harapkannya.
Erlangga hanya tidak ingin jika suatu saat nanti hatinya bisa berubah. Seiring berjalannya waktu dia akan mulai bosan dengan hubungan yang monoton seperti ini. Tidak ada pergerakan menuju keseriusan.
"Kamu tidak ingin tiap terbangun yang pertama kali kamu dan lihat adalah aku?" tanya Erlangga di sela-sela tawa kekasihnya yang tengah membicarakan indahnya masa mengandung saat sang istri tengah mengidam.
"Kenapa sih, kalau bahas masalah itu kamu menjurus kesana terus. Bisa tidak sih, santai sedikit saja. Aku tuh jadinya capek loh, Mas," keluh Nina yang merasa mulai tidak nyaman dengan ucapan Erlangga.
"Ya, aku begini karena aku sayang kamu. Dan aku ingin kamu menjadi milikku apa itu salah? Semua pasangan akan mengatakan hal yang sama Nina," komentar Erlangga yang tidak suka dengan keluhan pacarnya.
"Iya, tapi orang itu biasanya santai gak kayak kamu nekan terus. Nanya terus sampai kapan, sampai kapan. Nantikan kalau sudah waktunya dan jodohnya juga akan menikah," kata Nina memprotes sikap Erlangga yang selalu menekan dirinya untuk mengatakan kapan kesiapannya untuk membawa hubungan mereka kearah serius.
"Aku hanya mengingatkan bukan menekan kamu, kita tidak tahu bagaimana kedepannya sayang," ucap Erlangga yang membuat Nina semakin marah.
Erlangga hanya menggelengkan kepalanya merasa apa yang di katakan Nina sungguh lah jauh. Andai dia tahu bagaimana dirinya memperlakukan istrinya demi menjaga persaannya. Tetapi Nina belum juga mengerti bahwa keinginannya hanya Nina siap untuk di nikahi dan masalah akan selesai.
Bukankah jika saling mencintai harusnya Nina bangga pada Erlangga karena telah sungguh-sungguh padanya?
"Kamu sudah menyentuhnya, Mas? Jawab?! Kamu bukannya tidak akan menyentuhnya sama sekali, tapi apa sekarang! turunkan saja aku di sini!" sentak Nina yang sudah emosi akan ucapan Erlangga.
Pikiran wanita itu sungguh berlebihan menutupi kesalahannya. Padahal di sini yang bersalah adalah dirinya karena belum mau di ajak kejenjang yang lebih serius. Erlangga tidak menghiraukan teriakan Nina dan makian yang terlontar dari mulutnya.
Dia masih terus focus menyetir, dan berhenti saat mereka sudah di depan mall. Sebelum Nina keluar mobil Erlangga memberikan sejumlah uang agar wanitanya bisa sedikit sadar diri. Mungkin jika mereka menikah, mereka akan lebih dari ini.
"Cukup segitu?" ucap Erlangga memberikan uang pada Nina. Nina melihat ponselnya dan seketika menengguk ludah dengan susah payah.
__ADS_1
Tanpa mengucapkan kata terima kasih karena gengsinya Nina langsung keluar. Dia berjalan menuju kedalam, tetapi ada yang membuat Erlangga mengganjal saat telepon masuk ketika Nina keluar dari mobilnya. Namun, dia memilih memilih mengangkatnya setelah masuk kedalam mall. Tidak ingin berpikiran macam-macam akhirnya Erlangga memilih menjalankan kuda besinya untuk pulang menuju kerumah.
Tidak lupa juga dia mengabari Dinda, agar segera datang ketempat mereka janjian.
***
Mobil sudah terparkir di garasi dengan rapi. Erlangga membuka pintu dan mulai berjalan untuk masuk kedalam rumah. Namun, sebelum masuk dia menegur Mama-nya yang tengah duduk di kursi depan rumahnya.
"Sedang apa Ma?" tanya Erlangga berbasa-basi.
"Sedang menikmati teh hangat, dan dinginnya sikapmu terhadap istrimu!" seru Ella tanpa menoleh kearah Erlangga yang mendudukkan bokongnya di kursi seberang Ella.
Alis lelaki itu memicing, pikirannya langsung tertuju pada Allura yang pasti telah mengadukan semuanya pada Ella. Di perjalanan saja sudah diberi masalah, sekarang di rumah pun ternyata masalah baru datang lagi.
"Mama ini kenapa?" tanya Erlangga berpura-pura tidak mengerti. Ella menoleh kearah Erlangga dan menggedikkan bahunya seolah dia sedang berbicara asal.
Ella menyuruh Erlangga untuk segera masuk kedalam dan membersihkan tubuhnya. Erlangga berdiri dan mulai berjalan untuk menuju keatas menaiki tangga.
Ketika dia sampai di depan pintu kamar, dia perlahan membukanya dan mengembuskan napas kasar. Dia sungguh ingin menyadarkan Allura agar berhenti mengadukan hal apapun pada Mamanya.
Ketika Erlangga berjalan menuju ranjangnya dia tidak mendapati Allura di sana. Di sana hanya ada pakaian rumahan yang seperti biasa Erlangga kenakan. Lelaki itu melonggarkan dasinya dan berjalan lagi kearah kamar mandi.
Di sana sudah ada air yang diisi di bathtub. Erlangga tinggal memakainya dan langsung membersihkan diri. Namun, dia memilih membasahi tubuhnya di bawah guyuran air shower daripada merendam tubuhnya yang di siapkan oleh Allura.
***
Bersambung ...
__ADS_1