
Bab33. Terlalu Berharap.
***
Cukup lama Erlangga membayangkan saat dirinya di pelaminan bersama sang kekasih. Mungkin rasanya akan berbeda jika dia bersanding dengan orang yang di sayanginya. Terlebih lagi dia tidak akan memperlakukan istrinya dengan buruk seperti apa yang dilakukannya terhadap Allura.
Karena pegal Erlangga berbalik dan melihat Allura yang tengah tertidur pulas. Dia menatap begitu dalam pada Allura, setiap inci wajahnya tidak lepas dari tatapannya.
Dia merasa bersalah karena telah memperlakukan Allura dengan tidak baik, bahkan berselingkuh. Dia merasa kasihan pada Allura mengingat Dinda adiknya adalah perempuan, jika semua itu terjadi pada Dinda, dia pun akan terluka karena perlakuan suaminya.
Tetapi apa boleh buat, cinta tidak bisa dipaksakan. Orang yang telah singgah lama tetaplah menjadi pemenangnya. Meskipun Nina belum siap juga untuk menikah dengannya.
Tanpa terasa mata Erlangga tertutup karena mengantuk. Akhirnya dia pun tertidur pulas dengan pikiran yang berpikir keras untuk sesegera mungkin menceraikan Allura.
Kicauan Ella dari bawah yang tengah berteriak memanggil nama Dinda membangunkan Allura yang tengah tertidur. Perlahan dia beringsut dan mendudukkan bokongnya. Matanya memutar menoleh kearah sofa namun tidak menemukan sosok suaminya.
Lalu dia menoleh kearah samping di sana sudah ada Erlangga yang tengah tertidur. Karena kaget dan tidak percaya Allura menjerit sekencang-kencangnya hingga membuat Erlangga terbangun.
"Ka-kamu ngapain tidur di-di sini?" tanya Allura dengan menaikkan selimut dan menutupi dadanya.
Erlangga menguap dan menjuntaikan kakinya untuk turun. Dia malas menjelaskan padahal sudah jelas-jelas kalau Allura yang memintanya untuk tidur di ranjang.
Belum juga berjalan pintu kamar dibuka oleh Dinda, dia terkejut melihat Erlangga dan Allura yang tidur satu ranjang. Meski hatinya tidak percaya jika Erlangga melakukan itu, akan tetapi yang dilihatnya itu bukanlah halusinasi.
Erlangga mengacak rambutnya frustrasi ketika dia melihat Dinda menutup kembali pintu kamarnya dan menoleh kearah Allura dengan tajam.
"Kenapa kamu teriak?" tanya Erlangga.
"Aku ...,"
"Pura-pura polos, padahal semalam kamu menceritakan apa yang mau kamu tambahkan di dalam perjanjian. Kalau Dinda sudah melihat ini akan gawat nantinya," potong Erlangga sudah gelisah.
Allura membuka selimut dan melihat satu persatu pakaiannya. Ternyata masih aman dan tidak kurang satu pun, itu berarti Erlangga tidak melakukan apapun padanya. Lelaki itu tidak mencuri kesempatan dalam kesempitan.
Erlangga menatap Allura dengan datar ketika melihat dia membuka selimut dan mengecek pakaiannya satu persatu.
__ADS_1
"Kamu pikir saya melakukannya?" tanya Erlangga, Allura pun menengadah dan menatap Erlangga. Dia gelagapan tidak bisa menjawab pertanyaan dari suaminya.
"Heran saya, padahal kamu yang mencari kesempatan dalam kesempitan dengan memeluk lengan saya dan menceritakan semuanya lalu kamu mau membuat heboh di rumah?" Erlangga tidak habis pikir dengan Allura.
"Lalu jika Dinda sudah masuk dan mengetahui semua ini bagaimana dengan Nina kekasihku? Dia pasti akan marah lagi," resah Erlangga, dia memilih meninggalkan Allura dan mencoba menjelaskan pada Dinda agar tidak terjadi kesalah pahaman lagi.
Di kamar Dinda sedang berusaha menelepon seseorang namun yang di telepon tidak dapat tersambung karena tengah berada dalam panggilan lain. Dinda cukup bingung, dengan siapa Nina jam segini sudah menelepon.
"Dinda," panggil Erlangga dan masuk kedalam kamar tanpa meminta izin.
"Awas kamu kalau mengadukan pada Nina,"
"Ya, harusnya begitu. Karena kamu telah membohonginya Mas. Kemarin bilangnya iya-iya eh, malah tidur satu ranjang. Pantas saja semalam gak buka pintu, mungkin ...," ucapan Dinda terhenti dan melihat kearah bawah Erlangga.
"Kamu masih kecil pikirannya sudah me*um yah." Erlangga menutup mata adiknya dengan tangannya. Dinda tertawa dan meledek kakaknya.
"Mas, tapi kamu sudah menyakiti temanku," ucap Dinda di sela-sela candaanya. Erlangga langsung terdiam dan mengembuskan napas kasar.
"Ya, tapi harus bagaimana lagi Nda. Mas, tidak bisa menolak perintah Mama,"
"Tidak semudah itu, Nda,"
"Tapi kamu melakukannya semalam?" tanya Dinda dengan penasaran.
"Tidak,"
"Masa sih, tapi kok seranjang?"
"Kamu tidak perlu tahu, yang pasti Mas tahu batasan-batasannya karena masih menghargai Nina,"
Dinda bernapas lega, "syukurlah kalau begitu,"
"Transfer saja dulu nanti Dinda tutup mulut." Dinda memberikan isyarat seolah dirinya tengah menutup mulut.
Mau tidak mau Erlangga mentransfer. Setelah menyelesaikan urusannya dengan Dinda dia kembali masuk kedalam kamarnya. Dan melihat Allura yang sudah tidak ada di dalam kamarnya. Ingin sekali dia memarahi Allura agar berhenti berharap padanya.
__ADS_1
Namun, dia tidak bisa memanggil Allura mengingat dia pasti sudah dibawah membantu menyiapkan sarapan.
Erlangga pun membersihkan tubuhnya, setelah selesai membersihkan tubuhnya dia memakai pakaian kerjanya dan mulai turun kebawah.
Sarapan telah siap dan tengah menunggu Erlangga. Seperti biasa Dinda tidak ikut sarapan karena ada Allura. Setelah selesai sarapan Ella tertawa samar dan menatap Allura, Erlangga secara bergantian.
"Kayaknya Mama mau cepat-cepat diberikan cucu," lontar Ella tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah mengatakan itu, Ella berpamitan lebih dulu untuk pergi arisan. Erlangga pun meminta Allura untuk mengikutinya.
"Kamu lihat apa yang kamu lakukan gara-gara teriak tidak jelas!" seru Erlangga yang menyalahkan Allura. Allura menundukkkan kepalanya dengan merasa bersalah. Tenyata kekagetannya menjadi fatal. Pasti Erlangga tidak akan mau lagi tidur seranjang dengannya.
"Apa yang kamu pikirkan dalam otakmu. Kamu pikir saya bisa punya naf*u pada wanita yang saya tidak cintai?" tekan Erlangga yang memojokkan Allura.
Allura hanya bisa menundukkan kepalanya karena lagi-lagi dia disalahkan. Padahal semalam dia sungguh tidak mengingat jelas apa yang di katakannya. Dia benar-benar mengigau.
Lalu mengapa Erlangga sampai membuat hatinya terluka dengan kata-katanya itu. Sungguh jika bisa memilih dan mengingat semuanya Allura tidak akan pernah berteriak.
"Maaf." Hanya kata itu yang bisa terlontar dari mulut Allura.
"Maaf saja tidak akan membuat salah paham itu berakhir. Kamu dengar tadi yang di katakan Mama?" tanya Erlangga. Allura menganggukkan kepalanya.
"Itu akan menjadi boomerang kedepannya nanti,"
"Lalu aku harus apa, Tuan?" tanya Allura agar mendapat jalan keluar dan dirinya tidak disalahkan lagi.
"Saya mau kamu tarik lagi tambahan keinginan kamu itu jika itu hanya akan merugikan saya," lontar Erlangga sembari meninggalakan Allura yang masih menundukkan kepalanya.
Allura pun perlahan mengangkat wajahnya ketika suara deru mesin mobil pergi dari pelataran rumah. Baru saja dia merasa di beri harapan sekarang dia dimarahi bahkan semakin dibenci oleh suaminya.
"Baru juga merasakan di atas awan, sekarang terasa dijatuhkan," gumam Allura dengan lesu. Sadar ternyata perhatiannya selama ini bukanlah karena diberi harapan, namun semata-mata karena Erlangga takut jika Ella memarahinya karena dirinya.
***
Bersambung ...
__ADS_1