
Bab24. Pilih Salah Satu.
***
"Pernikahan? Apa yang kamu harapkan dari pernikahan hasil perjodohan ini, hah?! Kamu pikir bisa membuat Erlangga mencintaimu, kamu bermimpi! Hempaskan jauh-jauh rasa banggamu menjadi istri itu, kamu hanya seorang istri yang tidak diharapkan dan dicintai," maki Nina pada Allura.
Allura terhenyak dengan makian Nina yang benar kenyataannya. Sempat dalam benaknya terlintas untuk menyerah saat ini. Akan tetapi dia masih waras dan bisa mengendalikan kesadarannya. Tingkat percaya dirinya kembali hadir.
Karena dia tidak akan mengalah pada Nina. Apa yang kini menjadi miliknya akan tetap menjadi miliknya sampai akhir hayat. Dia tidak mau mempermainkan pernikahan yang sakral baginya. Allura hanya ingin melangsungkan pernikahan satu kali dalam hidupnya.
"Sudah aku bilang, kita lihat saja nanti. Siapa yang akan menjadi pemenangnya," jawab Allura dengan percaya diri. Namun, membuat Nina semakin tertawa meledek Allura yang begitu percaya dirinya itu.
"Ya, percaya diri saja dulu akan menang, masalah kalah belakangan," ledek Nina.
Allura membuang muka dan mencebikkan bibirnya, karena dia yakin jika Erlangga akan menerimanya meskipun tidak tahu itu kapan.
"Nina! Kamu ngapain masih di sana, tinggalkan saja dia wanita yang terlalu berkhayal tinggi. Nanti kamu ketularan jadi halu bisa memiliki pacar orang!" teriak Dinda dari luar. Sebelum pergi Nina menoleh kearah Allura dengan tatapan tidak suka.
"Kamu dengar siapa yang berbicara, itu adik iparmu. Dia sama sekali tidak menyutujui pernikahan kalian, dan dia lebih setuju aku yang menikah dengan kakanya," ucap Nina kembali mengingatkan sikap Dinda yang begitu tidak menyukainya.
"Tapi aku masih punya mertua yang bisa membelaku dari apapun. Dia cukup kuat untuk membuat saya bertahan di sisi suamiku,"
Nina yang mendengar kata suamiku cukup geli, karena sedikit pun Erlangga tidak pernah membahas perihal istrinya itu.
"Ya, bertahan saja. Kita lihat sampai mana hatimu bisa setegar dan sekuat karang. Bukankah karang juga bisa hancur jika selalu dihantam ombak," lontar Nina yang kemudian memilih pergi dari kamar Allura dengan menutup pintu yang sangat kencang.
Allura terhenyak hingga memegangi dadanya. Apa yang di katakan Nina benar adanya. Tetapi dia harus tetap pada pendiriannya meski dia dihina dan diremehkan. Justru hinaan merekalah yang menguatkan Allura untuk tetap bertahan di sisi Erlangga.
__ADS_1
Pasti ada sebab yang membuat Ella memilih menjodohkan mereka padahal Nina dan juga Erlangga telah menjalin kasih cukup lama.
Sekuatnya Allura menahan, kini saat dua srigala yang selalu mengusiknya pergi dia menumpahkan rasa sakit hatinya dengan menangis sendirian di dalam kamarnya. Tanpa seorang teman karena dia tidak gampang berbaur dengan orang.
Ingin menumpahkan rasa sakitnya pada Ella atau Sinta, namun semuanya hanya akan memperkeruh keadaan dan mungkin akan membuat rumah tangga yang tengah dia pertahankan akan kandas karena Sinta tidak akam terima jika Allura diperlakukan seperti ini.
"Kuat, Al, kamu harus kuat mempertahankan rumah tangga ini," ucap Allura menyemangati dirinya sendiri.
***
Pukul tujuh malam Ella baru saja pulang. Dinda dan Nina kembali keluar setelah pertengkaran mereka, karena Dinda penat berada di rumah semenjak ada Allura. Sedangkan Erlangga belum juga pulang, entah kemana lelaki itu Allura tidak mengetahuinya. Dia tidak mempunyai nomor ponselnya.
Ella masuk kedalam kamarnya namun, sebelum masuk dia bertanya pada Mbak Inah kemana semua penghuni rumah. Dan Ella menggelengkan kepalanya saat dia mendengar jika Erlangga belum juga pulang, apalagi Dinda yang hampir setiap hari setiap malam keluyuran tidak jelas. Membuat Ella ingin memindahkan anak itu untuk kuliah di luar negeri.
Akan tetapi dia masih khawatir mengingat Dinda susah diatur. Sebelum dia naik keatas untuk mengajak Allura makan malam dia lebih dulu membersihkan dirinya. Setelah beberapa menit selesai membersihkan diri, dia langsung keatas dan mengetuk pintu kamar Allura.
"Sudah pulang, Bu?" tanya Allura berbasa-basi saat yang mengetuk pintu adalah mertuanya.
"Sudah," jawab Ella. Dia langsung menggandeng tangan Allura, dan tangan sebelahnya dia gunakan untuk menutup kamar Allura.
"Kamu sudah bertanya kenapa suamimu belum pulang?" tanya Ella memancing, pasti Allura tidak mempunyai nomor ponsel Erlangga.
Allura gelagapan harus menjawab apa, "mmm, katanya lembur, Bu," jawab Allura yang mengisyaratkan bahwa dia tengah berbohong. Tidak ingin membuat menantunya gelisah Ella langsung menghubungi nomor Erlangga.
"Di mana? Kenapa belum pulang?" tanya Ella mengintrogasi Erlangga. "Sudah beristri tidak baik pulang larut malam tanpa memberitahukan istrimu. Bagaimana jika dia berpikir macam-macam," cecar Ella lagi.
Terdengar helaan napas panjang di seberang sana. "Apa aku harus memberitahu dia?" Erlangga malah balik bertanya.
__ADS_1
"Menurutmu? Bukankah seharusnya begitu?"
"Tapi pernikahan ini tidak aku inginkan Ma, ini pernikahan yang Mama inginkan," keluh Erlangga seolah dia sudah lelah dipaksa harus menerima Allura sedangkan dia tidak bisa menerima sedikutpun Allura di dalam hidupnya.
"Mama tidak suka jawaban kamu Erlangga, pulang sekarang juga. Dan ingat kamu akan berterima kasih pada Mama karena telah memaksamu menikah dengan gadis pilihan Mama yang cantik dan baik ini." Telepon pun dimatikan sepihak.
Allura yang mendengar perbincangan Ibu dan anak itu hanya bisa menundukan kepalanya. Dia juga sebenarnya sudah lelah, tetapi dia juga tidak ingin kalah dari Nina. Bukankah jika dia memilih mundur Nina akan bahagia dan merasa menang darinya? Allura tidak ingin itu terjadi, dia harus menjadi pemenangnya.
"Kenapa? Malu ya karena bohong sama Ibu?" tanya Ella terkekeh melihat tingkah Allura.
Allura mengangkat wajahnya tersenyum kecut sembari menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Kamu belum punya nomor suamimu bukan?" tanya Ella sembari tangannya mengirimkan pesan pada Allura nomor Erlangga. "Sudah Ibu kirimkan," ucap Ella berbisik di telinga Allura.
"Kamu harus bertahan ya, menunggu hati suamimu luluh. Lambat laun juga dia pasti akan membutuhkan kamu. Kamu itu istri sah, kamu unggul. Tenang saja Ibu akan selalu memberi semangat dan membela kamu," lontar Ella seolah dia mengetahui apa yang telah dilakukan Erlangga pada Allura.
"Kamu itu kan dulu aktif kerja sekarang cuma diam saja di kamar tidak suntuk?" tanya Ella lagi saat mereka sudah sampai di dapur dan mendudukan bokongnya di kursi.
"Mmm, sedikit sih, Bu," jawab Allura.
"Kamu pikirkan saja mau buka usaha atau mau melanjutkan kuliah supaya ada kegiatan. Biar kamu tidak suntuk. Tenang saja kalau masalah biaya Mama tanggung semuanya asal kamu pilih saja mau yang mana," saran Ella pada Allura agar menantunya tidak kesepian di rumah.
"Mama akan jarang di rumah, karena sekarang mulai aktif lagi ikut arisan." Ella terkekeh sendiri karena dirinya merasa bebas kembali setelah ada Allura yang memantau Erlangga.
***
Bersambung ...
__ADS_1