Pendekar Lembah Siluman

Pendekar Lembah Siluman
Tantangan Makhluk Lelembut


__ADS_3

Setelah kera jambul merah menyuruh Arya Chakra untuk tetap diam sambil menunggu dirinya bertemu dengan sesosok penunggu goa tersebut, baru nanti kera jambul merah akan menemui Arya Chakra kembali.


Setelah kera jambul merah masuk kedalam goa tersebut tiba-tiba terdengar suara yang sangat menggema didalam goa itu.


"Mau apa kau datang kemari kera rambut mearah." Kata sesosok penunggu goa.


"Aku datang kemari hanya ingin mengambil benda merah menyala yang waktu itu." Ujar kera jambul merah.


"Apa yang kau katakan ? Coba kau ulangi sekali lagi."


"Aku ingin mengambil benda merah menyala yang waktu itu."


"Hahaha.. Bukannya kau sudah merasakannya sendiri, bagaimana saat itu dirimu terpental dan terluka saat hendak menyentuhnya." Ucap lelembut itu.


"Memang aku tidak bisa menyentuhnya, namun kali ini aku datang tidak sendirian." Ujar kera jambul merah.


"Hahaha.. Kau saja tidak mampu apa lagi teman manusiamu itu." Ucap, sesosok lelembut yang sangat meremehkan Arya Chakra.


"Jika nanti temanku itu dapat menyentuhnya, apakah kau baru akan percaya ?"


"Hahaha.. Jangan terlalu percaya dengan manusia kera rambut merah."


"Memang kenapa ?" Tanya kera jambul merah.


"Manusia itu makhluk yang paling tidak dapat dipercaya." Ujar sesosok lelembut.

__ADS_1


"Hahaha.. Jangan sok menasihatiku, memangnya kau makhluk dapat dipercaya ?"


"Hahaha.. Lucu sekali, baik jika teman manusiamu itu dapat menyentuh benda tersebut maka aku akan merelakan benda itu untuk dirinya."


"Baik, akan aku pegang ucapanmu itu." Ujar kera jambul merah yang langsung keluar untuk menemui Arya Chakra.


"Kawan.., Sudah selesai, jika kamu dapat menyentuh benda tersebut, maka kamu berhak memilikinya, itu yang diucapkan sesosok lelembut." Ucap kera jambul merah.


"Hemmm.. Baik, benda tersebut akan menjadi milikku." Ucap Arya Chakra.


Kera jambul merah kemudian mengantarkan Arya Chakra untuk melihat benda tersebut, pertama kali Arya Chakra melihatnya betapa terkejutnya ia saat sinar cahaya merah menyinari seluruh tubuhnya.


"Aku merasa seperti ada energi yang masuk dalam diriku." Gumam Arya Chakra.


Ternyata benda tersebut berbentuk batu kecil yang tertancap di dinding goa, namun sinar merahnya mampu menyinari hampir keseluruhan goa tersebut.


"Yang aku tahu...."


Belum sempat kera jambul merah melanjutkan perkataannya tiba-tiba terdengar suara yang memotong perkataan kera jambul merah.


"Hahahaha... Asal kau tahu manusia, benda itu sudah lama berada disini dan jangan harap kau bisa mengambilnya." Ujar sesosok lelmbut.


"Bukannya kau tadi bilang, jika temanku ini bisa menyentuhnya maka akan menjadi miliknya." Ucap kera jambul merah.


"Hahaha.. Memang aku berkata demikian, namun jangan harap setelah dapat menyentuhnya kau bisa membawa pergi benda itu."

__ADS_1


"Apa maksud ucapanmu ? Apakah kau mau mengingkari janjimu ?" Ujar kera jambul merah.


"Hahaha.. Janji !! Aku tidak menganggap itu janji, namun aku akan memberikan benda itu tapi bila temanmu mampu mengalahkanku."


"Hahaha.. Kau bercanda kan." Ujar kera jambul merah.


"Bercanda ?? Apakah suaraku terdengar bercanda."


"Sudahlah kawan.. Tidak perlu kau berdebat dengannya, aku akan menerima tantangan makhluk itu." Ucap Arya Chakra.


"Hahaha.. Bagus manusia. Ternyata kau memiliki keberanian juga." Ujar sosok lelembut.


"Temanku sudah menyetujuinya, sekarang biarkan dia menyentuh benda itu." Ujar kera jambul merah.


"Hahahaha.. Tidak bisa !! Dia harus dapat mengalahkanku terlebih dahulu baru dia berhak menyentuh dan mengambilnya." Ujar sosok lelembut.


"Dasar kau makhluk licik." Teriak kera jambul merah.


"Makhluk licik katamu !! Bukankah kau lebih licik dariku. Hahahaha."


"Kurang ajar." Kera jambul merah yang semakin marah atas perkataan makhluk lelembut itu, dengan mengepalkan kedua tangannya dan bersiap untuk menyerang.


Namun tangan kanan Arya Chakra segera menghentikannya.


"Sabar kawan.. Jangan kamu terbawa emosi, dia memang sengaja memancingmu." Ujar Arya Chakra.

__ADS_1


.......


__ADS_2