Pendekar Lembah Siluman

Pendekar Lembah Siluman
Batu Penguji


__ADS_3

Setelah beberapa hari berlalu Arya Chakra kini lebih terkenal didalam perguruan Gajah Hitam, banyak yang berlaku sopan padanya akan ilmu kanuragan yang dimiliki Arya Chakra.


Hari ini Arya Chakra berniat untuk mencoba memasuki tempat yang terdapat batu besar didalamnya, serta dirinya juga ingin melihat sampai ruang ke berepa dia mampu bertahan.


Saat Arya Chakra membuka pintu kamar, alangkah terkejutnya ia ternyata Wulansari sudah berada didepan pintu kamarnya. "Wulan!! Koe ngageti wae." (Wulan!! Kamu mengagetkanku saja).


"Hehe maaf kang Arya, Wulan cuman mau nganterin makanan ini, bukan maksud membuat kaget kang Arya." Wulansari merasa tidak enak hanya dengan senyuman malu-malu yang bisa diperlihatkannya.


"Yowes ga papa, makasih ya makanannya." Arya Chakra kemudian mengambil makanan yang dibawakan Wulansari. "Oiya Wulan, kamu mau kan antrin aku ke tempat pengujian ilmu kanuragan?"


Dalam hati Wulansari sangat berbunga-bunga ketika Arya Chakra meminta dirinya untuk menemani Arya Chakra, saking senangnya membuat Wulansari sampai bengong.


"Wulan.." Panggil Arya Chakra pelan. "Wulaaan." Panggilan kedua sedikit lebih keras. "Wuulaannn." Saat panggilan ketiga sontak Wulansari langsung terkaget-kaget sampai terjatuh.


"Aduuuh.. Kang Arya nih kog manggilnya keras banget sih, sampai membuat Wulan jatuh. Sakit tau." Wajah Wulansari langsung cemberut dengan bibir yang tertekuk.


"Hehe.. Maaf maaf, yasudah sini tak bantu berdiri." Arya Chakra kemudian membantu Wulansari berdiri.


Wulansari kemudian menemani Arya Chakra ke tempat batu penguji ilmu kanuragan, saat sesampainya di pintu masuk tempat tersebut ternyata terdapat sebuah tulisan.


Jangan pernah merasa bangga atas semua yang bisa kau capai, justru merasa rendah hati adalah kunci kesuksesan dalam berilmu kanuragan.


Cukup lama Arya Chakra menghayati kalimat yang terpampang didepan pintu masuk dimana batu penguji berada.


Sampai-sampai panggilan Wulansari tak begitu terdengar di telinganya. "Kang Arya..

__ADS_1


Kang Arya.." Dua kali dipanggil Arya Chakra masih dalam keadaan terlena akan kalimat tersebut.


"Kang Arya.. "


Hingga pada panggilan ketiga barulah Arya Chakra tersadar. "Ah iya, ada apa Wulan." Teriakan Wulansari kali ini sengaja didekatkan ke telinga Arya Chakra, sampai membuat gendang telinga Arya Chakra hampir jebol.


"Bisa tidak jangan teriak pas ditelinga. Bengung tau.." Arya Chakra yang sakit pada telinganya segera memegangi telinga dengan tangan kanannya.


"Biarin.. Weee.. Siapa suruh melamun." Wulansari justru tak mengindahkan ucapan dari Arya Chakra malah menjulurkan lidahnya.


"Yasudah biarkan aku mencoba memasukinya." Arya Chakra mulai melangkahkan kakinya untuk memasuki tempat tersebut.


Sebuah batu besar dengan warna hitam gelap terlihat serta beberapa pintu yang ada dibelakang batu tersebut adalah pengujian dari pengendalian ilmu kanuragan.


Saat Arya Chakra berdiri tepat dihadapan batu besar tersebut, seketika batu besar langsung merespon dengan ditandai getaran pada batu tersebut. "Ada apa ini?? Apa yang sebenarnya terjadi??"


Padahal bila sebelum-sebelumnya para murid yang sudah menguji ilmu kanuragannya tidak mengalami apa yang dialami Arya Chakra saat ini.


Wulansari yang menunggu diluar cukup terkejut dan panik. "Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa tiba-tiba tempat ini bergetar?"


Bahkan Empu Danu Raba ikut merasakan getaran tersebut saat beliau tengah bermeditasi. "Apa yang terjadi? Kenapa batu penguji dapat bergetat seperti ini?"


Empu Danu Raba lalu menghentikan meditasinya dan langsung pergi menuju tempat pengujian.


Saat Empu Danu Raba sampai sana ternyata suasana sudah ramai, banyak murid juga merasakannya.

__ADS_1


"Apa sih yang sebenarnya terjadi?" Semua murid yang sangat penasaran saling bertanya, namun tidak ada yang mengerti akan kejadian tersebut.


"Ada Empu, coba kita tanyakan langsung pada beliau." Ujar, salah satu murid yang sudah penasaran.


"Salam Empu!!" Semua murid memberi hormat pada Empu Danu Raba.


"Siapakah yang sedang ada didalam sana Wulan?" Empu Danu Raba menanyakan sosok orang yang bisa membuat seisi perguruan berkumpul.


"Kang Arya Empu." Jawab Wulansari dengan lemah lembut.


"Hemm.." Empu Danu Raba hanya sanggup mengelus-elus jenggotnya sambil bergumam. "Anak ini suatu hari nanti akan menjadi sesosok pendekar hebat."


"Sebenarnya apa yang dilakukan anak itu Empu? Sampai bisa membuat semuanya resah." Wiralaga yang cukup penasaran langsung menanyakannya pada Empu Danu Raba.


Empu Danu Raba tak menjawab pertanyaan dari Wiralaga hanya tersenyum dan menggangguk kepadanya.


Sedangkan didalam Arya Chakra yang telah menguji dibatu penguji, dan cahaya miliknya jauh lebih terang bila dibandingkan yang lain.


Selanjutnya Arya Chakra mulai memasuki ruangan pertama dari pengendalian pernafasan. "Seperti apa sebenarnya rintangan dari ruangan ini."


Arya Chakra cukup penasaran akan ujian yang akan dihadapinya dari ruang pengendalian pernafasan.


Hal pertama setelah Arya Chakra memasuki ruangan tersebut yaitu, ruangan yang awalnya lebar seketika mulai menyempit dan oksigen pun mulai melemah.


"Ugh.. Tak dapat ku bayangkan ternyata ujian atas pengendalian pernafasan serumit ini." Arya Chakra segera mengambil posisi bersila lalu memulai untuk bermeditasi dan menstabilkan nafasnya.

__ADS_1


Ruangan semakin lama semakin tak ada lagi oksigen yang masuk, dan juga semakin lama semakin sempit sampai hanya terisa beberapa jengkal saja dari tubuh Arya Chakra.


.....


__ADS_2