
Akhirnya Arya Chakra diperbolehkan untuk tinggal bersama paman Seno dan bibi Painah, hari-hari Arya Chakra selalu membantu paman Seno berjualan di kedainya.
Bibi Painah yang awalnya rada ketus pada Arya Chakra, namun seiring berjalannya waktu justru sifat bibi Painah berubah menjadi lebih baik, dan ramah.
Apa lagi Arya Chakra sangat rajin sekali bantu-bantu di kedai miliknya dan suaminya itu, walaupun Arya Chakra adalah anak umur 15 tahun akan tetapi ilmu kanuragannya sangatlah tinggi.
Hingga suatu ketika saat kedai milik paman Seno sedang rame-ramenya, ada sekelompok perampok yang mulai mengacau di kedai tersebut.
"Monggo tuan.. Ada yang bisa saya bantu?" Sapa paman seno ramah.
"Apakah kamu pemilik kedai ini?" Tanya salah seorang perampok.
"Iya tuan ini kedai kami." Jawab bibi Painah yang berjalan mendekati suaminya, melihat pakaian dan wajah orang-orang itu bibi Painah memiliki firasat buruk.
"Hemm.. Sekarang cepat serahkan semua uang kalian." Ujar, pemimpin perampok dengan suara keras.
Mendengar ucapan perampok itu para pelanggan yang sedang duduk santai sambil makan dan minum, mendadak mulai gelisah dengan mata memandang kearah sekelompok perampok itu.
Sedangkan dibelakang Arya Chakra yang sedang menyiapkan pesanan makanan pelanggan, mencoba melihat dari balik jendela dapur.
Dia memperhatikan apa yang akan dilakukan orang-orang itu. "Maaf tuan saya tidak memiliki banyak uang, hanya segini yang kami punya." Paman Seno mencoba memberikan sebagian uang pendapatannya hari ini.
"Pakne kenapa kamu memberikan hasil pendapatan kita pada orang-orang ini." Bisik bibi Painah ke telinga suaminya.
"Hanya segini!! Ini tidak cukup." Kalian semua cepat geledah kedai ini, dan juga rampas semua uang orang-orang yang ada disini." Perintah pemimpin kawanan perampok.
Paman Seno mencoba menghalangi anak buah perampok yang hendak menggeledah kedai. "Jangan tuan ini sumber mata pencarian kami satu-satunya."
"Aaah.. Minggir." Salah satu anak buah perampok menyingkirkan paman Seno secara paksa hingga dia terjatuh menatap meja.
Dubraaakkk..
__ADS_1
"Paman.." Dari belakang Arya Chakra segera menghampiri paman Seno yang terjatuh, dan membatunya untuk berdiri. "Paman tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa nak." Jawab paman Seno.
Arya Chakra maju menghentikan kawanan perampok yang hendak menggeledah, akan tetapi tangan paman Seno menghentikannya. "Jangan nak, mereka semua sangat berbahaya."
"Tenang saja paman, aku bisa menjaga diri." Dengan perlahan Arya Chakra melepaskan tangan paman Seno yang mencegahnya, lalu maju menahan kawanan perampok itu. "Hentikan.." Bentak Arya Chakra.
"Heh bocah.. Mau jadi pahlawan ya.." Ujar, salah seorang anak buah perampok. "Minggir.." Tangan anak buah perampok mencoba menyingkirkan Arya Chakra secara paksa.
Akan tetapi justru hanya dalam kedipan mata anak buah perampok itu sudah terlempar membentur meja. Dubraaak..
Semua mata yang memandang sampai tak berkedip, bahkan paman Seno dan bibi Painah tak menyadari jika ternyata Arya Chakra memliki ilmu beladiri yang hebat.
"Sialan.. Cepat habisi anak itu." Teriak pemimpin perampok.
Seketika para kawanan perampok mengeluarkan goloknya, kemudian maju menyerang Arya Chakra. "Kalian semua beraninya menindas yang lemah."
Perkelahian terjadi antara Arya Chakra dan kawanan perampok, bagi Arya Chakra tidak sulit untuk membereskan kawanan perampok itu.
"Tak ku sangka bocah kecil sepertimu mampu melumpuhkan anak buahku, tapi apakah kau sanggup untuk menghadapiku." Secara cepat pemimpin perampok mengayunkan goloknya kearah Arya Chakra.
Splaaaasss...
Arya Chakra dengan cepat menghindarinya. "Cukup lumayan gerakanmu bocah." Kembali pemimpin perampok mengayunkan goloknya.
Splaaaaaasss...
Lagi-lagi Arya Chakra dapat begitu mudah menghindarinya. "Sialan.." Merasa dipermainkan anak-anak pemimpin perampok mulai menyerang Arya Chakra berkali-kali.
Namun tetap saja sangat mudah bagi Arya Chakra menebak serangan pemimpin perampok itu, hingga kemudian Arya Chakra melesatkan pukulannya tepat mengenai kepala pemimpin perampok.
__ADS_1
Jeduaaakkk.. Dubraaakkk..
Pukulan Arya Chakra dengan mudah menghempaskan pemimpin perampik yang jauh lebih besar dari tubuhnya, hingga menghantam meja dan kursi kedai.
"Sialan.. Ternyata bocah itu memiliki ilmu kanuragan yang tinggi." Gumam, pemimpin perampok yang mulai berdiri.
Namun secara tiba-tiba Arya Chakra sudah berada dihadapan pemimpin peranpok itu. "Kalian semua segera pergi dari sini atau mau aku membuat kalian semua tak dapat bernafas lagi." Ancam, Arya Chakra pada sekelompok perampok yang terluka.
"Cuih.. Kau hanya anak kecil berani mengancamku." Pemimpin perampok tak terima atas ancaman Arya Chakra, hingga kembali menyerang menggunakan goloknya.
Namun apa yang terjadi justru membuat pemimpin perampok serta orang-orang yang melihat kaget dan terkejut. "Apa?? Bagaimana bisa."
Golok yang diarahkan ke Arya Chakra dengan mudah ditahan, hanya menggunakan dua jarinya. "Aku sudah memperingatkanmu, tapi kau malah menginginkan kematianmu."
Cebreeetttt..
Pukulan Arya Chakra yang sudah dialirinya dengan kekuatan dilesatkan tepat mengenai perut pemimpin perampok, seketika terdengar suara tulang yang patah bersamaan dengan darah yang mulai keluar dari mulut pemimpin perampok.
Hanya mengandalkan pukulan Arya Chakra dapat dengan mudah membunuh pemimpin peranpok itu. "Inilah akibatnya jika kau tak mendengarkan ucapanku."
Para anak buah perampok yang terluka merasa amat takut dengan segera beranjak pergi meninggalkan kedai milik paman Seno tersebut.
"Ye.. Hore... Kamu hebat nak, eh pendekar."
Ujar, salah orang yang merasa aman dan terselamatkan harta bendanya, serta nyawanya berkat bantuan Arya Chakra.
"Terimakasih ya nak, maaf jika sebelumnya bibi judes padamu." Ujar bibi Painah yang malu atas sikapnya saat itu, setelah mengetahui bahwa ternyata Arya Chakra adalah pendekar hebat.
"Tidak apa-apa bibi, aku hanya tidak terima kawanan perampok itu membuat onar disini." Ucap Arya Chakra.
"Untuk semuanya maaf jika kenyamanan kalian semua terganggu, sekarang silahkan dilanjutkan kembali." Ucap, paman Seno meminta maaf atas kejadian barusan.
__ADS_1
Paman Seno dan Arya Chakra mulai membersihkan meja dan kursi yang rusak, sedangkan bibi Painah menyapu lantai yang kotor akibat serpihan-serpihan kayu dari meja dan kursi.
.......