Pendekar Lembah Siluman

Pendekar Lembah Siluman
Mengetahui Kenyataan


__ADS_3

Setelah adu tanding dengan kera jambul merah, akhirnya mereka bertiga pulang kembali ke tempat dimana Nyai Santi sudah menunggu kehadiran mereka semua.


Dengan bantuan Empu Maha Surya untuk sampai di gubuk persinggahan tidak perlu membutuhkan waktu lama, dengan ringannya Empu Maha Surya membawa Arya Chakra terbang melompati dedaunan.


Dan sampailah mereka di gubuk tempat Nyai Santi menunggu, saat barus saja mereka tiba ternyata Nyai Santi sudah secara langsung memegang tubuh Arya Chakra. "Owalah cah bagus.. Kamu itu sudah bikin nenek kawatir saja."


"Maaf nek." Ucap Arya Chakra sambil garuk-garuk kepala. "Arya hanya mencoba untuk berlatih."


"Yowes, sekarang masuk dan mandilah.. Bau Achem.." Ujar, Nyai Santi sambil menutup hidungnya.


Arya Chakra secara reflek mencoba mencium ketiak kanan lalu ketiak kirinya. "Ahh.. Achem gimana toh nek, jelas-jelas ini wangi ya kan Empu?"


"Hehe.. Iya cah bagus." Ujar Empu Maha Surya.


"Tuhkan kata Empu aja wangi nek."


"Iya wangi.. Tapi wangi bunga bangkai." Empu Maha Surya menimpali.


Hahahahaa...


Semuanya pada tertawa mendengar jawaban Empu Maha Surya. "Aih.. Yowes tak mandi dulu kalau gitu."

__ADS_1


Setelah Arya Chakra selesai bersih-bersih barulah mereka berkumpul kembali di tempat makan. "Waaah.. Hari ini nenek masaknya banyak banget." Ujar, Arya Chakra dengan mata melotot tak berkedip.


"Iya cah bagus, nenek sengaja menyiapkan ini semua agar kamu lahap makannya." Ucap Nyai Santi.


Mereka berempat mulai makan dengan tenang, hingga tiba-tiba Arya Chakra menanyakan asal usulnya. "Oya nek.. Sebenarnya kemana ayah dan ibuku." Tanya Arya Chakra.


Suasana yang tenang semakin sunyi hingga suara kecapan mulut yang mengunyah makanan terdengar cukup keras, Nyai Santi dan Empu Maha Surya saling pandang-pandangan.


"Ada apa nek? Kenapa kalian semua terdiam." Tanya Arya Chakra makin penasaran.


Nyai Santi mencoba menghitung umur Arya Chakra menggunakan jari-jarinya, lalu terhenti saat mengetahui bahwa Arya Chakra sudah menginjak usia 10 tahun.


"Sekarang mungkin saatnya memberi tahunya Pakne." Empu Maha Surya hanya menganggukkan kepala tanda setuju. "Begini Le.. Sebenarnya kamu itu adalah anak dari raja Kangmas Chakra dan biyungmu bernama Dewi Ambarwati."


Empu Maha Surya kemudian mengeluarkan sebuah kalung peninggalan ibunya, lalu menceritakan kejadian dimana saat pertama kali beliau menemukan ibu dari Arya Chakra yang bernama Dewi Ambarwati.


Saat Dewi Ambarwati berhasil diselamatkan oleh Empu Maha Surya dan dibawanya ke kediaman beliau, disana Dewi Ambarwati menceritakan kronologi kejadian sebenarnya.


Bahwa saudara dari Kangmas Chakra yang bernama Duryandra melakukan pemberontakan, ingin membunuh saudaranya sendiri agar dia menjadi raja.


Diceritakan kepada Arya Chakra sampai meninggalnya ibunya bernama Dewi Ambarwati, saat melahirkan dirinya.

__ADS_1


Tak menyangka setelah mengetahui kebenaran dari asal-usulnya, Arya Chakra menitihkan air mata tak sanggup menahan gejolak dihatinya. "Hiks.. Hiks.. Lalu dimanakah makam biyung nek?"


Nyai Santi membawa Arya Chakra untuk menemui makam ibunya. "Biyung.." Arya Chakra memeluk makam ibunya, sampai air mata membanjiri pipinya.


Arya Chakra mengepalkan tangannya. "Ini tidak bisa dibiarkan.. Aku harus menuntut balas atas kematian kedua orang tuaku." Gumam, Arya Chakra yang amarahnya mulai memuncak.


"Sabar Le.." Nyai Santi mencoba menenangkan Arya Chakra dengan menyentuh kepalanya. "Belum saatnya untuk membalaskan dendam kedua orang tuamu." Ucap Nyai Santi.


"Tapi nek.. Bukan kah Arya sudah bertambah kuat."


"Iya Le.. Tapi kau belum mampu untuk menghadapi Duryandra, dengan ilmumu yang sekarang." Ucap Nyai Santi.


"Lantas.. Aku harus menunggu berapa lama lagi nek?"


"Sampai kamu mampu menguasai ilmu yang nanti akan Empu dan nenek ajarkan padamu."


Arya Chakra mengusap air mata yang membasahi pipinya. "Baik nek Arya akan bersungguh-sungguh dalam berlatih."


"Tapi ingat!! Jangan sampai kau gunakan ilmu itu untuk menyakiti orang yang tak bersalah." Ujar Nyai Santi mewanti-wanti.


Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang mendekati mereka berdua, lalu berkata. "Iya Le.. Karena mungkin kakek dan nenek tak lagi bisa menjagamu, maka kakek dan nenek memutuskan untuk mewarisimu ilmu kanuragan." Ujar Empu Maha Surya.

__ADS_1


"Nanti setelah kamu bisa mengendalikan ilmu warisan dari kami, keluarlah dari lembah ini dan tentukan nasibmu sendiri." Empu Maha Surya menimpali.


.........


__ADS_2