
Setelah kejadian itu Arya Chakra jadi bahan omongan oleh orang-orang yang saat itu menyaksikan pertarungan antara dirinya dengan para perampok.
Ilmunya tak semuda umurnya bocah dengan umur 15 tahun, mampu membunuh pemimpin perampok hanya dengan sekali pukulan.
Terlalu lama Arya Chakra tinggal di kedai milik paman Seno dan bibi Painah, membuat dirinya merasa tidak enak. Saat pekerjaan membantu paman Seno berberes selesai.
Arya Chakra memberanikan diri untuk berpamitan. "Paman.. Sepertinya saya sudah terlalu lama disini, takutnya saya lupa akan tujuan saya." Ujar Arya Chakra.
"Tujuan!! Memang apa tujuanmu kesini nak?" Tanya paman Seno.
"Sebenarnya tujuanku kesini ingin pergi ke ke wilayah kerajaan Gajah Duduk."
"Pergi ke wilayah kerajaan Gajah Duduk!!" Apa yang ingin kamu lakukan disana nak?" Tanya, paman Seno penasaran.
"Aku ingin bertemu dengan Empu Danu Raba, apakah paman tahu letak tempatnya?"
"Ohh.. Empu Danu Raba tempatnya tidak terlalu jauh dari kerajaan Gajah Duduk, kamu hanya perlu jalan kearah timur dan carilah perguruan bernama Perguruan Gajah Hitam." Paman Seno lalu mulai berdiri dari tempat duduknya.
"Baiklah nak kalau begitu tunggu sebentar." Paman Seno pergi kebelakang memberitahukan niat Arya Chakra pada istrinya Painah, setelah itu paman Seno kembali bersama istrinya membawa buntelan kain.
"Nak.. Paman tidak bisa membantu banyak, hanya ini yang paman punya silahkan diterima." Paman Seno menyerahkan buntelan kain kepada Arya Chakra.
__ADS_1
"Tidak usah paman.. Arya bisa tinggal disini saja sudah sangat bersyukur." Ujar Arya Chakra.
"Mohon diterima nak Arya, kami ikhlas memberikan ini pada nak Arya." Ujar bibi Painah menimpali.
"Arya sangat berterimakasih atas kebaikan paman dan bibi, yang sudah mengizinkan Arya untuk tinggal disini sebagai kenang-kenangan dari Arya, mohon paman dan bibi mau menerimanya."
Arya Chakra mengeluarkan sebuah benda dari saku celananya, benda itu berbentuk batu yang berwarna ungu. Bisa ditaksir harga dari batu itu yaitu sekitar 100 koin emas.
"Nak Arya ini..!! Paman Seno dan bibi Painah sangat terkejut saat melihat Arya Chakra menyodorkan batu kecubung Ungu.
"Ini hadiah buat paman dan bibi, kalau begitu Arya pamit ya paman, bibi." Ucap, Arya yang kemudian melangkahkan kakinya keluar kedai. "Hati-hati nak Arya, bila ada kesempatan jangan lupa mampir ke kedai paman dan bibi." Ujar paman Seno.
Setelah itu Arya melanjutkan kembali perjalanannya.
Dia berjalan persis apa yang dikatakan paman Seno yaitu kearah timur, Arya terus berjalan tanpa henti ingin cepat sampai di tempat tujuan.
Namun dipertengahan jalan tabuhan gendang dalam perutnya mulai berbunyi, yang membuat Arya akhirnya berhenti istirahat sejenak. "Aaah.. Perut ini tak bisa sabar sebentar."
Arya Chakra mencoba membuka buntelan kain yang paman Seno bawakan, ternyata dalam buntelan kain itu terdapat beberapa makanan serta uang. "Paman tenang saja Arya pasti akan menemui paman lagi."
Arya pun mulai menyantap makanan yang ada didalam buntelan kain itu, saat sedang asyik menikmati makanan tiba-tiba ada segrombolan orang berhenti didepannya. "Hey bocah.. Cepat serahkan semua barang-barangmu dan juga keramu itu."
__ADS_1
Arya Chakra hanya melirik dengan tatapan tajam, sebelum melanjutkan kembali memakan makanannya. "Dasar bocah sialan.. Berani-beraninya kamu bertingkah seperti itu. Mau cari mati kamu?"
"Sebaiknya kalian semua pergi dari hadapanku, kehadiran kalian membuat nafsu makanku hilang." Ujar Arya Chakra.
"Hahahah.. Masih bocah sudah berani menyuruh kita pergi." Ujar, pemimpin segerombolan orang. "Asal kamu tahu akulah pemilik wilayah ini, siapa saja yang mau melewatinya harus bayar upeti terlebih dahulu."
"Memang kamu siapa.. Raja? Tampangmu saja tidak memiliki karisma seorang raja." Ujar Arya Chakra.
"Hahaha.. Memang saya raja. Yang terkenal dengan sebutan si Hantu Codet."
"Hah!! Tak usah membual, jelas-jelas wilayah ini adalah kekuasaan dari raja Duryandra." Ujar Arya Chakra.
"Cukup.. Kamu membuatku marah." Habisi dia.." Perintah Hantu Codet pada anak buahnya, sekitaran ada lima belas anak buah Hantu Codet maju menyerang Arya Chakra.
Namun Arya Chakra masih terlihat tenang-tenang saja. "Hari ini adalah hari sialmu bocah, karena telah bertemu dengan kami." Ujar salah satu anak buah Hantu Codet.
Saat sebuah golok hendak menghantam tubuh Arya Chakra, tiba-tiba tiga anak buah Hantu Codet terpental mundur. "Apa!! Bagaimana bisa!" Hantu Codet sedikit terkejut saat kera jambul merah menendang tiga anak buahnya dan terlempar jauh.
"Biar aku saja yang menangani ini teman." Ujar, kera jambul merah pada Arya Chakra. "Baiklah, silahkan saja teman." Ujar, Arya Chakra mempersilahkan kera jambul merah turun tangan.
..........
__ADS_1