Pendekar Lembah Siluman

Pendekar Lembah Siluman
Kemana Kaki Melangkah


__ADS_3

Setelah kepergian Arya Chakra dari perguruan Gajah Hitam, kini dirinya bingung hendak kemana ia pergi.


Arya Chakra akhirnya teringat akan paman dan bibi pemilik kedai. "Ah iya, lebih baik aku temui dulu paman Seno dan bibi Painah."


Arya Chakra lalu bergegas pergi menuju kedai paman Seno dan bibi Painah, sesampainya disana alangkah terkejutnya Arya Chakra. "Ini!! Apa yang telah terjadi?"


Arya Chakra langsung berlari untuk melihat keadaan, ternyata kedai paman Seno dan bibi Painah rusak sangat parah seperti habis diporak-porandakan seseorang.


Arya Chakra menyusuri kedalam kedai alangkah terkejutnya ia saat mendapati paman Seno dan bibi Painah sudah dalam keadaan tidak bernafas, dan sekujur tubuhnya sudah dingin sedingin es.


"Siapa yang telah melakukan ini? Sungguh biadab mereka semua!!"


Paman Seno dan bibi Painah mengalami luka tebasan di punggung serta di dada mereka, hingga mereka berdua bersimbahkan darah. "Dilihat dari darah serta kejadiannya, ini terjadi belum lama mungkin saja para penjahat itu belum jauh dari sini."


Arya Chakra hendak mencari keberadaan dari penjahat pembunuh paman Seno dan bibi Painah, akan terapi saat dirinya baru melangkahkan kakinya, Arya Chakra mendapati petunujuk yang tertinggal.


"Ini mungkin milik si penjahat itu." Arya Chakra menemukan sebuah kalung yang terbuat dari kain berwarna hitam.


Segera Arya Chakra menggunakan ilmu seringan kapas, agar lebih cepat mencari keberadaan sang penjahat.


Benar saja berkat ilmu seringan kapas warisan dari Empu Maha Surya, Arya Chakra dapat menemukan keberadaan dari para penjahat yang ternyata mereka sedang menikmati hasil jarahannya.


Arya Chakra mengamati situasi dengan berada diatas pohon. "Apa mereka ini yang membunuh paman dan bibi?"


Arya Chakra terus memperhatikan para penjahat itu, dan ternyata dia menemukan bahwa semua penjahat tersebut mengenakan kalung yang sama. "Tidak salah lagi! Mereka adalah para penjahat pembunuh paman dan bibi."


*


"Hahaha.. Panen kita kali ini sangat lumayan bos."


"Iya bos, tidak biasanya kita mendapatkan jarahan sebanyak ini!"


"Hahaha.. Aku tidak tertarik dengan itu semua, aku hanya tertarik dengan batu ini." Pemimpin mereka ternyata telah merebut batu kecubung ungu pemberian Arya Chakra.


"Sialan!! Bukankah batu itu pemberianku untuk kebaikan paman Seno dan bibi Painah!" Arya Chakra sudah sangat geram hingga dirinya tak dapat menahan lebih lama lagi.


Turunlah Arya Chakra tepat dihadapat para penjahat itu. "Siapa kau?? Para penjahat yang terkejut langsung menanyai Arya Chakra. "Apa maksudmu tiba-tiba muncul seperti itu?"

__ADS_1


"Aku adalah penegak keadilan, yang akan mengadili kalian semua."


"Penegak keadilan!!"


Hahahaha....


Semua penjahat menertawakan Arya Chakra. "Hey bocah! Jangan sok ya kamu disini, kencing aja belum lurus mau jadi penegak keadilan."


Hahahahaha...


Arya Chakra berjongkok mengambil beberapa batu kerikil, dengan secara cepat dilesatkan satu persatu kerikil batu tersebut kearah masing-masing penjahat.


"Kurang ajar kau bocah!! Kalian semua lawan dia." Pemimpin para penjahat memerintahkan anak buahnya untuk maju menyerang Arya Chakra, kurang lebih ada enam anak buah yang maju menyerang.


Pertarungan pun terjadi, Arya Chakra tak langsung menanggapi serangan dari para penjahat itu, melainkan dirinya hanya menghindar sambil mengamati gerakkan demi gerakkan para penjahat.


"Lincah juga rupanya kau bocah! Tapi jangan remehkan kemampuan kami!"


Para penjahat tersebut memang sering melakukan penjarahan-penjarahan pada penduduk desa, bahkan mereka juga tak segan-segan membunuh serta memperkosa para wanita.


Para penjahat ini sering dikenal sebagai Setan Badol, karena sifat mereka yang kejam dan tak kenal ampun.


Keenam dari anak buah Badol Ireng mengepung keberadaan dari Arya Chakra. "Kamu sudah mengacaukan pembagian jarahan kami, oleh sebab itu hukuman matilah yang pantas untukmu."


Seraaaang...


Keenam anak buah Badol Ireng maju secara bersamaan menyerang Arya Chakra, akan tetapi saat keenamnya hendak menyentuh tubuh Arya Chakra dengan tiba-tiba mereka terpental jauh.


"Apa-apaan ini!! Aku tidak dapat melihat gerakan dari anak itu."


Pukulan cepat Arya Chakra mengenai perut keenam anak buah Badol Ireng, tanpa mereka semua sadari.


"Nampaknya anak ini berilmu kanuragan tinggi."


"Alah aku tak percaya! Sebaiknya kita serang dia lagi."


Kembali anak buah Badol Ireng menyerang Arya Chakra bersamaan, namun apa yang terjadi membuat sang pemimpun jadi murka.

__ADS_1


"Kurang ajar!! Berani-beraninya kau membunuh anak buahku didepan mataku!"


Keenam anak buah Badol Ireng langsung dibunuh semuanya oleh Arya Chakra, hanya menggunakan sebatang kayu yang ditusukkannya tepat di masing-masing jantung anak buah Badol Ireng.


Badol Ireng langsung melesat maju menyerang Arya Chakra menggunakan pukulan terkuatnya. "Matilah kau anak sialan!"


Dengan mudahnya Arya Chakra menahan pukulan Badol Ireng hanya menggunakan tangan kirinya. "Sudah cukup! Aku tidak bisa menahannya lagi.!"


Arya Chakra lantas langsung mengepalkan tangan kanannya dan mengeluarkan ilmu patih geni, yang secara cepat menghantamkan pukulan sedang kearah dada Badol Ireng.


Membuat tubuh Badol Ireng seketika terpental jauh hingga terdengar tulang-tulang yang patah, muntah darah yang begitu banyak keluar dari mulut Badol Ireng.


Tanpa dapat berkata-kata lagi dalam sekejap Badol Ireng sudah tewas ditangan Arya Chakra, sesegera Arya Chakra mengambil apa saja yang telah dicuri oleh kelompok Badol Ireng tersebut lalu pergi.


Kini dirinya bingung tidak ada tempat singgah lagi yang hendak dituju, akhirnya dia mengikuti kemana arah kaki melangkah.


Arya Chakra berjalan mengikuti kemana arah matahari terbenam, menyusuri lebatnya hutan belantara serta terjalnya jalan yang dilalui.


Tidak sedikit pula dirinya bertemu dengan binatang buas, hingga pada akhirnya Arya Chakra menemukan sebuah desa.


"Sepertinya ada sebuah desa disana."


Arya Chakra langsung bergegas pergi menuju desa tersebut, sesampainya di tugu masuk desa dirinya amat terkejut. "Kenapa desa ini sepi sekali? Sepertinya ada yang tidak beres!"


Arya Chakra masuk menyusuri jalanan tak satupun mendapati pintu rumah penduduk terbuka dan tak ada aktifitas apapun.


Kera jambul merah yang selalu bertengger dibahu Arya Chakra pun merasakan kejanggalan pada desa tersebut. "Sepertinya ada yang tidak beres disini kawan."


Saat Arya Chakra hendak lebih dalam menyusuri desa tersebut, tiba-tiba terdengar tanah yang bergemuruh.


"Suara apakah itu? Apa jangan-jangan ada kawanan perampok yang datang mendekat?"


Arya Chakra dan kera jambul merah memutuskan untuk bersembunyi terlebih dahulu, dengan berada diatas pohon.


Ternyata suara bergumuruh itu bukan berasal dari kawanan perompok, melainkan sekelompok hewan buas yang datang hendak menjarah makanan yang ada pada desa tersebut.


"Ini!! Bagaimana bisa kawanan binatang buas masuk ke pemukiman penduduk??"

__ADS_1


.....


__ADS_2