
Hari dimana Penobatan Pangeran Duryandra pun tiba.
Seluruh Penghuni kerajaan maupun kalangan rakyat sudah berkumpul di aula kerajaan untuk menyaksikan penobatan Pangeran Duryandra.
Ternyata banyak dari kalangan rakyat maupun penghuni kerajaan yang terpaksa mengikuti Penobatan itu, karena mereka takut akan hukuman dan denda yang nantinya akan diberikan kepada siapa yang tidak mengikuti Penobatan tersebut.
Hingga banyak yang berbisik-bisik baik dari kalangan penghuni kerajaan maupun kalangan rakyat, tentang bagaimana kedepannya jika dipimpin oleh Pangeran Duryandra.
"Bagaimana nasib kita nanti Sri, jika kita masih menjadi pelayan di kerajaan yang dipimpin Pangeran Duryandra.." Bisik Atun
"Iya ini Tun, kita kan tau sendiri bagaimana Pangeran Duryandra sama para pelayan wanita, Aku aja hampir mau disetubuhi olehnya." Ujar Sri
"Apaaa.. Kamu mau disetubuhi Sri, waduh.. Bisa gawat nasib kita ini.." Kata Atun
"Iya tun.. Untung saja ada prajurit yang di perintahkan oleh Yang Mulia Kangamas Chakra untuk memanggil Pangeran Duryandra, kalau tidak...." Ucap Sri yang matanya mulai memerah sebelum air mata membasahi pipinya.
"Seng sabar yo sri..." Kata Atun
Tak terasa acara Penobatan Pangeran Duryandra pun telah selesai, dan kini Pangeran Duryandra telah resmi menjadi Raja baru di Kerajaan Gajah Duduk.
__ADS_1
Setelah resmi dinobatkan menjadi Raja, sang Raja baru Yang Mulia Duryandra langsung mengubah semua tatanan Kerajaan serta peraturan-peraturan dan kebijakan-kebijakan yang dari dulu sudah ada.
Termasuk kebijakan untuk pajak upeti rakyat yang telah dinaikan menjadi tiga kalilipat dari pajak upeti sebelumnya..
Para rakyat yang mengetahui kebijakan tersebut sempat protes kepada Raja Duryandra, namun alhasil malah ada satu rakyat yang tewas akibat ia memprofokasi rakyat yang lain agar tidak mau membayar pajak upeti.
Para rakyat yang lain merasa takut jika nyawanya harus lepas dari raganya, oleh sebab itu para rakyat hanya diam dan menerima apapun kebijakan sang Raja Baru.
Dan kembali ke kediaman masing-masing dengan rasa kecewa dan putus asa.
Namun rasa kecewa dan putus asa mereka tidak akan merubah apapun, mereka hanya memohon agar nanti kiranya ada seorang yang di utus oleh dewa untuk menolong mereka.
Disisi lain..
Disebuah lembah yang namanya banyak orang sudah merasa ngeri dan merinding serta takut, ketika mendengar nama Lembah tetsebut.
Tak ada satupun orang yang mau memasuki Lembah itu, kecuali hanya Empu Maha Surya dan Nyai Santi serta seorang anak berumur Delapan tahun seorang yatim piatu yang telah ditinggal kedua orang tuanya pergi kealam Nirwana.
Di dalam Lembah terdapat gubuk kecil beratapkan daun kelapa kering berpagar bambu yang telah tersusun rapih.
__ADS_1
Terdapat taman bunga berukuran kecil yang terletak didepan gubuk itu, dengan penerangan cahaya pada malam hari yang terbuat dari bambu panjang sudah terpasang disetiap pojok-pojok gubuk.
Didalam gubuk itu ada seorang Kakek Sepuh dan Nenek Sepuh serta seorang Anak kecil yang sedang menikmati hidangan malam.
Terdengar suara swndawa..
Eeeeeeeghh...
"Waaahhh.. Enak sekali masakannya Nenek..
Arya sampai kekenyangan.." Kata Arya menyanjung
Arya Chakra telah menghabiskan dua piring nasi hingga perutnya membesar.
"Wah..Wah..Wah.. Cepat sekali makanmu Le .." Kata Empu Maha Surya
"Hehehe.. Iya Kakek Empu.. Habis Aku tidak bisa menahan lagi, soalnya cacing yang ada dalam perutku sudah menabuh gendrang terus.." Jawab Arya
"Hahahaha... Kamu ini bisa saja.." Ucap Nyai Santi
__ADS_1