
Disebuah bangunan didalam perguruan, Arya Chakra dan Empu Danu Raba sedang duduk bersantai sambil meminum segelas air teh hangat. "Bagaimana kabar gurumu sekarang?"
Pertanyaan Empu Danu Raba membuat Arya Chakra tersedak saat meminum teh hangat. Uhukk..
"Ada apa nak? Apakah kamu tidak apa-apa?" Tanya Empu Danu Raba.
"Tidak apa-apa Empu, hanya saja.." Arya Chakra terhenti dari perkataannya dan tertunduk sedih.
"Kenapa nak? Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Empu Danu Raba ingin tahu pasti, apa sebab Arya Chakra menjadi sedih.
"Sebenarnya Empu Maha Surya sudah meninggal, dan Empu berpesan pada saya untuk datang kesini menemui teman Empu bernama Danu Raba."
Empu Danu Raba tertunduk sedih tak terbayangkan olehnya, jika sahabat masa mudanya itu telah pergi meninggalkan dunia fana ini. "Hemm.. Kamu boleh tinggal disini karena kamu murid sahabatku, berarti kamu juga adalah muridku." Ujar Empu Danu Raba.
"Terimakasih Empu." Arya Chakra mengambil posisi berlutut memberi hormat pada Empu Danu Raba.
"Lantas darimanakah asalmu nak?"
"Sebenarnya..."
__ADS_1
Arya Chakra kemudian menceritakan persis dengan apa yang telah diceritakan Empu Maha Surya padanya.
"Hemm.. Jadi begitu, pantas saja saat pertama kali aku melihatmu seolah mirip dengan raja Kangmas Chakra." Ujar Empu Danu Raba.
Banyak yang diceritakan Arya Chakra pada Empu Danu Raba, hingga tak terasa waktu sudah menjelang malam. "Baiklah nak sekarang biar Empu yang antarkan ke kamarmu."
Mereka kemudian pergi menuju sebuah kamar yang sudah dipersiapkan untuk Arya Chakra, sesampainya disana ternyata seorang murid perempuan baru selesai membersihkan kamar yang akan ditempati Arya Chakra.
"Wulan.., Panggil Empu Danu Raba yang sedikit mengejutkan Wulan. "Iya Empu.. Jawab Wulan yang seketika berbalik badan menghadap kepada Empu Danu Raba maupun Arya Chakra.
Karena Arya Chakra yang terlalu lama tinggal didalam Lembah Siluman, membuatnya tak pernah melihat wanita cantik. "Cantiknya.." Arya Chakra sampai bengong melihat kecantikan dari Wulan.
Namun Arya Chakra masih terlena akan kecantikan dari Wulansari, hingga panggilan Empu Danu Raba membuatnya tersadar. "Nak Arya."
"Ah iya Empu maaf." Ujar, Arya Chakra sedikit malu.
Wulansari yang melihat Arya Chakra hanya senyam-senyum sambil menutupi mulutnya. "Ini namanya Wulansari, murid perempuan dari perguruan ini." Empu Danu Raba mengulangi memperkenalkan Wulansari.
Sebagai seorang yang baru bertemu wanita cantik Arya Chakra terlihat gugup, dengan hanya tersenyum kearah Wulansari tanpa ada perkataan darinya yang terucap. "Nah Wulan ini namanya Arya Chakra, nantinya dia juga akan menjadi murid perguruan ini." Ujar Empu Danu Raba.
__ADS_1
"Kalau begitu istrirahatlah, besok pagi biar Wulan yang menemanimu melihat-lihat perguruan ini." Ujar, Empu Danu Raba yang langsung melangkah pergi, dengan disusul Wulansari dibelakangnya membiarkan Arya Chakra agar beristirahat.
**
Di pagi harinya ternyata kebiasaan saat bersama Empu Maha Surya serta Nyai Santi didalam Lembah Siluman, Arya Chakra sudah terbiasa untuk bangun pagi.
Sebelum Wulansari datang menemuinya untuk melihat-lihat suasana di perguruan Gajah Hitam, Arya Chakra sudah lebih dahulu keluar dari kamarnya untuk melatih pernafasan.
Selesai berlatih pernafasan terdengar suara seorang wanita yang memanggilnya. "Kakang Arya.." Arya Chakra menoleh kearah sumber suara dan mendapati Wulansari sudah berpenampilan lebih cantik dari semalam.
"Apakah aku sedang bermimpi?? Arya Chakra nampak terbuai akan kecantikan Wulansari, pada aat malam tidak terlihat jelas akan kecantikan sesungguhnya dari Wulansari, namun saat wajahnya tersinari oleh sorot cahaya matahari.
Nampak wajah Wulansari memancarkan aura kecantikan yang sangat membuat hati Arya Chakra makin terlena. "Kang.." Panggil Wulansari dengan lembut, namun Arya Chakra masih belum sadar dari lamunannya. "Kang Arya." Panggil Wulansari sedikit menaikkan suaranya.
Namun tetap saja Arya Chakra masih belum sadar, hingga Wulansari mulai menaikkan suaranya lebih keras. "Kang Arya." Seketika Arya Chakra kaget sampai terpeleset jatuh ke tanah. "Aduh.. Mengapa kamu mengejutkanku Wulan." Ujar, Arya Chakar sedikit kesakitan.
"Habis berkali-kali Wulan panggil Kang Arya tidak mendengar, ya aku teriakin saja." Ujar, Wulansari sambil menahan tawa, tapi tetap saja masih terlihat dari wajahnya seperti sedang tertawa walaupun ditutupi dengan tangannya.
........
__ADS_1