Pendekar Lembah Siluman

Pendekar Lembah Siluman
Tak Terimanya Ranggapati


__ADS_3

Saat Arya Chakra, Wulansari, Triyaksa dan juga Wiralaga sedang berbicang-bincang sambil tertawa.


Ternyata didua sisi ada dua sosok orang yang sangat memerhatikan Arya Chakra dari kejauhan.


Satu sisi seseorang sedang memperhatikan Arya Chakra dari bawah pohon yang cukup jauh dari tempat Arya Chakra dan lainnya berdiri.


Sisi lainnya sedang memperhatikan Arya Chakra dari samping gubuk yang cukup jauh juga keberadaannya dari Arya Chakra. "Jangan terlalu senang terlebih dahulu, tunggu sampai kita bisa berhadapan secara langsung baru akan aku tunjukan perbedaan diantara kita."


Sosok orang tersebut tidak lain adalah Ranggapati, yang tidak senang bila dirinya dilampaui oleh Arya Chakra dalam hal kecepatan penyelesaian dari ruang pengendalian kesetabilan.


Ranggapati yang terlihat dendam justru mungkin berbeda dari sosok yang ada dibawah pohon. "Tidak aku sangka yang terlihat biasa-biasa saja justru dapat melampauiku dan Ranggapati."


Sosok tersebut tidak lain adalah Mayangsari yang cukup terkagum atas kecepatan Arya Chakra dalam segi penyelesaian pengendalian kesetabilan.


Setelah memperhatikan Arya Chakra cukup lama, Mayangsari maupun Ranggapati kemudian pergi ke tempat dimana tempat istirahatnya berada.


Begitupun Arya Chakra dan yang lainnya membubarkan diri dan kembali ke tempat masing-masing.


*


Keesokan harinya Empu Danu Raba memerintahkan semua murid beserta para guru untuk berkumpul di aula perguruan, karena ada sesuatu hal yang ingin beliau sampaikan.


Setelah semuanya berkumpul di aula perguruan barulah Empu Danu Raba mengumumkan hak dan fasilitas yang akan didapat oleh Arya Chakra.


Berhubung Arya Chakra adalah sesosok murid baru, dan belum memiliki guru pendamping namun sudah bisa melewati ujian dari ruang pengendalian kesetabilan.


Maka saat itu juga Empu Danu Raba mengangkat Arya Chakra sebagai murid satu-satunya yang akan secara langsung dilatih oleh Empu Danu Raba.


Mendengar ucapan dari Empu Danu Raba jelas membuat yang lainnya gaduh, banyak yang kagum dan banyak juga yang iri.


Ada juga sesosok murid yang tidak terima. "Saya tidak setuju Empu!" Salah satu murid berdiri dengan mengangkat tangan kanannya. "Bukannya saya juga sudah berhasil lebih dahulu Empu, mengapa hanya anak itu saja yang Empu angkat."

__ADS_1


"Tenang Ranggapati, memang bila dibandingkan dengan Arya Chakra kau lebih dulu menyelesaikannya.." Empu Danu Raba menuturkan namun belum sempat melanjutkan justru Ranggapati langsung menyelanya.


"Itu jelas Empu, lalu kenapa Empu hanya memilih dia saja." Ranggapati yang tak terima atas pengangkatan Arya Chakra menjadi murid satu-satunya yang langsung mendapat bimbingan dari Empu Danu Raba.


"Tunggu Empu selesai berbicara terlebih dahulu." Empu Danu Raba menaikkan suaranya tanda tidak terima bila saat dirinya sedang berbicara langsung disela begitu saja.


"Kau memang lebih dahulu, tapi untuk hal kecepatan serta pengendaliannya terlihat lebih kokoh Arya Chakra bila dibandingkan dengan dirimu!"


"Ohh.. Hanya karena hal itu Empu lebih memilih dia daripada murid lamamu ini." Ranggapati ikut menaikkan suaranya tanda sudah mulai naik amarahnya.


"Ranggapati..!!" Bentak Empu Danu Raba yang dibuat emosi akan kelakuan dari Ranggapati tersebut.


"Apa Empu? Apa Empu ingin menghukumku! Silahkan saja Empu menghukumku, tapi dengan satu syarat!" Ranggapati sudah sangat emosi dengan adanya Empu Danu Raba yang seolah-oleh tidak suak padanya.


"Syarat apa yang kau inginkan?" Empu Danu Raba menanyakan syarat yang diinginkan dari Ranggapati.


"Aku ingin adu tanding dengannya." Ranggapati menunjuk kearah Arya Chakra. "Bila aku kalah maka aku siap menerima hukuman itu, tapi jika aku menang maka dia harus keluar dari perguruan ini."


"Hey kau!! Ranggapati memanggil Arya Chakra dengan mengacungkan jari telunjuknya. "Apa kau berani menerima tantanganku ini?"


"Tenang saja tanpa perlu kita adu tanding aku pasti akan meninggalkan perguruan ini." Arya Chakra merasa semenjak kehadirannya di perguruan Gajah Hitam, dia selalu saja jadi bahan sorotan.


"Oh kalau begitu memang sebenarnya kau takut kan, sehingga kau mengatakan hal demikian." Ranggapati sudah bulat keinginannya untuk dapat beradu tanding dengan Arya Chakra.


"Tidak ada kata takut dalam sejarah kelahiranku, justru jika kau memang bisa mengalahkanku maka aku akan bersujud padamu sebelum aku meninggalkan perguruan ini."


"Oh itu kelihatan lebih menarik, kalau begitu kita buktikan saja siapa yang akan kalah dan siapa yang akan menang." Ranggapati langsung mengajak Arya Chakra untuk memasuki gelanggang pertarungan.


Arya Chakra mengikuti dari belakang untuk memasuki gelanggang pertarungan, keduanya sudah diposisi masing-masing.


Salah satu guru yang bernama Suseno menawarkan diri untuk menjadi wasitnya. "Baiklah biarkan aku yang akan menjadi wasit untuk jalannya pertarungan ini."

__ADS_1


Setelah guru Seseno memberikan aba-aba barulah tanda pertarungan dimulai.


"Aku tahu bahwa kau memiliki ilmu yang dapat menirukan jurus lawannya, tapi apakah kau bisa menirukan jurusku ini." Ranggapati tak ingin bermain-main terlebih dahulu, justru dirinya langsung mengeluarkan jurusnya.


"ilmu Belah Raga." Ternyata kesenioran Ranggapati tidak sembarang senior, dirinya memang tergolong murid berbakat didalam perguruan Gajah Hitam.


Wujud Ranggapati langsung terbagi menjadi tiga bagian. "Haha.. Apakah kau akan mampu menghadapiku sekarang!" Ranggapati merasa diatas awan saat langsung mengeluarkan jurusnya.


"Rupanya dia menguasai ilmu belah raga, pantas saja sangat percaya diri." Arya Chakra sedikit bingung menentukan wujud mana yang asli dari Ranggapati.


Ketiga raga Ranggapati menyerang Arya Chakra secara bersamaan, keseimbangan dalam bertarung dari Arya Chakra masih cukup stabil.


Walaupun menghadapi ketiga dari raga Ranggapati, cukup lama mereka saling beradu ilmu kanuragan.


Hingga pada akhirnya Arya Chakra sedikit mengalami kebingungan, akibatnya serangan yang dilesatkan dari Ranggapati dapat dengan mudah mendarat pada tubuhnya.


"Hahaha.. Kau pasti ingin menyerah sekarang, tapi itu sudah terlambat." Ranggapati terus saja mendesak Arya Chakra.


Semua yang melihat pertarungan cukup terkejut dibuatnya, lantaran ilmu belah raga Ranggapati memang tidak bisa dianggap remeh.


"Kang Arya kamu pasti bisa mengalahkan Ranggapati, oh Dewa Batara bantulah kang Arya." Wulansari hanya sanggup memohon pada Dewa Batara untuk kemenangan dari Arya Chakra.


Tiba-tiba ada bisikan yang cukup jelas terdengar ditelinga Arya Chakra. "Tenangkan hatimu nak, ilmu Dasendria adalah ilmu kanuragan yang tertinggi membutuhkan hati dan fikiran yang tenang maka kamu akan bisa menghadapinya."


"Terimaksih kakek." Arya Chakra yang sebelumnya terlalu gelisah dan tidak tenang, setelah dibisikan oleh sang kakek dirinya memejamkan kedua matanya dan kini terlihat cukup tenang.


"Haha.. Apa kau sudah pasrah mengahadapi seranganku." Ranggapati sangat bahagia melihat Arya Chakra kesusahan mengahadapi ilmu belah raga miliknya.


Kali ini Ranggapati mengeluarkan jurus serangan, yang memiliki nama yaitu : Jurus Remuk Raga.


Ketiga dari raga Ranggapati sama-sama mengeluarkan jurus Remuk Raga, dan hendak dilancarkan bersama-sama kepada Arya Chakra yang sedang dalam keadaan mata tertutup.

__ADS_1


....


__ADS_2