Pendekar Lembah Siluman

Pendekar Lembah Siluman
Warisan Leluhur


__ADS_3

Saat Arya Chakra yang sudah mendekat kearah kilauan cahaya keemasan. "Inikan senjata pusaka! Lalu apa kaitannya senjata pusaka ini dengan diriku?"


Saat Arya Chakra masih dalam keadaan diam termenung tiba-tiba terlihat dua sosok datang dari arah yang tidak diketahui dan sudah berada tepat dihadapan Arya Chakra.


"Kakek!!" Arya Chakra cukup kenal dengan salah satu sosok tersebut, akan tetapi sosok satunya dirinya belum pernah mengetahuinya.


"Arya cucuku.. Ketahuilah nak bahwa kujang ini adalah senjata pusaka warisan pendahulu di keluarga kita."


"Pantas saja kakek, hatiku seolah-olah seperti sudah terikat dengannya."


"Iya nak, dan inilah sosok pendahulu dikeluarga kita, beliaulah yang telah menciptakan pusaka kujang ini."


"Salam leluhur!" Arya Chakra memberi hormat pada leluhur pendahulu.


"Kujang ini adalah senjata pusaka yang maha dahsyat kekuatannya, memang aku ciptakan hanya untuk dimiliki garis keturunanku yang cocok."


Sosok leluhur pendahulu lalu meletakkan tangan kanannya diatas kepala Arya Chakra. "Pergunakanlah dengan sebaik-baiknya, jika tidak dalam keadaan terdesak jangan sekali-kali kamu keluarkan."


"Baik leluhur."


"Ingat Le! Kujang itu jangan sampai jatuh ketangan orang-orang jahat, sebab akan ada malapetaka yang sangat besar apabila kujang itu sampai jatuh ketangan yang salah." ujar sang kakek.


"Baik kakek." Arya Chakra berlutut memberi hormat dan menundukkan kepalanya.


Ternyata sosok leluhur pendahulu meletakkan tangannya diatas kepala Arya Chakra ada maksud tertentu, leluhur pendahulu memberikan kepada Arya Chakra sebuah teknik menjinakkan kujang pelebur sukma.


Namun Arya Chakra tak menyadari hal tersebut, justru saat Arya Chakra mengangkat kepala sang kakek dan sosok leluhur pendahulu sudah menghilang.


"Baiklah biar aku mencobanya."


Arya Chakra mencoba memegang kujang yang nampak melayang diudara itu, saat tangan kanannya mulai menyentuh kujang tersebut kejadian yang selanjutnya membuat Arya Chakra langsung terbangun.


"Hah.." Arya Chakra meraba-raba tubuhnya sendiri. "Jelas-jelas tadi kujang itu langsung masuk kedalam tubuhku."


Saat Arya Chakra masih terlihat kebingungan, sebuah peti didepannya langsung terbuka dengan kilauan cahaya keemasan membuat Arya Chakra menutup kedua matanya.


Dibelakang Arya Chakra, Empu Danu Raba tersenyum bahagia karena memang kujang pelebur sukma ditakdirkan hanya untuk orang-orang yang berjiwa besar dan berjiwa keastria.


Arya Chakra langsung mengambil kujang pelebur sukma lalu membuka sarungnya dan mengangkatnya keatas, sontak langit pun langsung bergemuruh, guncangan kecil kembali terjadi di perguruan Gajah Hitam.


Empu Danu Raba seketika langsung menyuruh Arya Chakra untuk menyarungkannya kembali, sebab beliau khawatir kejadian dan fenomena kali ini akan membuat heboh kerajaan Gajah Duduk.


*


Jelas saja fenomena langka tersebut sampai membuat hebah di istana Gajah Duduk. "Apa yang sedang terjadi? Aku merasakan ada sebuah pusaka yang dahulu sempat hilang."

__ADS_1


Duryandara menjadi gelisah saat merasakan getaran serta fenomena yang tidak biasa tersebut. "Aku harus mencari tahu darimana gejolak pusaka ini berasal."


Seketika Duryandra menyuruh beberapa prajurit untuk mencari sumber kegaduhan dan goncangan yang terjadi.


*


"Sudah nak sebaiknya kau simpan saja pusaka itu sekarang."


Arya Chakra bingung bagaimana cara menyimpan pusaka kujang pelebur sukma tersebut agar tidak diketahui oleh orang banyak.


Namun tiba-tiba kujang pelebur sukma langsung menghilang saat tengah ditangan Arya Chakra. "Lah kemana pusakanya? Kenapa tiba-tiba menghilang?"


"Pusaka itu tidak menghilang nak, hanya saja sudah menyatu kedalam tubuhmu, saat kau membutuhkannya barulah pusaka itu akan muncul."


"Ohh, apakah benar begitu Empu?"


"Jika kamu tidak percaya silahkan coba saja."


Arya Chakra lalu mengangkat tangan kanannya dan menempelkannya didada, kemudian memejamkan kedua matanya seraya memanggil sang pusaka kujang pelebur sukma.


Seketika pusaka kujang pelebur sukma muncul ditangan kanan Arya Chakra. "Ah iya Empu benar, jadi aku tidak perlu repot-repot untuk menyembunyikannya."


"Pergunakanlah pusaka itu untuk kebaikan nak, dan Empu berharap kelak kau akan mampu menyatukan seluruh kerajaan yang ada."


"Tunggu nak Arya!" Empu Danu Raba mengeluarkan sebuah kitab jurus. "Ambilah ini, aku harap ini bisa berguna untukmu."


Arya Chakra cukup terkejut saat melihat kitab pemberian dari Empu Danu Raba. "Ilmu Lembu Saketi! Ini benar untukku Empu?"


"Iya, sudah sepatutnya ilmu itu diturunkan padamu, karena Empu yakin kamu adalah orang yang tepat."


"Terimakasih Empu." Arya Chakra berterimakasih sambil menundukkan badan.


"Ingatlah nak! Perguruan ini adalah rumahmu walaupun kau berkelana keujung dunia tetaplah selalu ingat akan rumahmu."


"Baik Empu, aku tidak akan pernah melupakan apa yang telah Empu dan perguruan ini berikan."


"Semoga kepergianmu semakin membuatmu lebih dewasa dalam menyikapi masalah nak."


Kemudian Arya Chakra mulai melangkah pergi menuju gerbang masuk perguruan, akan tetapi ternyata disudut gerbang sudah ada beberapa orang yang menunggunya.


"Kang Arya.." Panggil salah seorang wanita yang tidak lain adalah Wulansari. "Terimalah ini." Wulansari memberikan pada Arya Chakra sebuah boneka kayu yang telah dibuatnya sendiri.


"Ini!! Apakah kamu yang membuatnya?" Arya Chakra cukup senang atas pemberian Wulansari, sebuah boneka kayu yang sengaja dibuat Wulansari menyerupai Arya Chakra dalam bentuk mini.


"He'em.." Wulansari hanya mengangguk-angguk sambil tersipu malu.

__ADS_1


"Apakah kau tahu Arya, Wulansari rela tidak bergabung bersama yang lain dan menyendiri hanya untuk menyelesaikan boneka kayu itu." Triyaksa memberitahukan pengorbanan Wulansari untuk dapat menyelesaikan boneka kayu tersebut.


"Apakah itu benar Wulan?"


Lagi-lagi Wulansari tak menjawab malah menutupi wajahnya menggunkan kedua tangannya yang merasa malu.


"Terimkasih Wulan, aku pastikan boneka ini kan selalu bersamaku dimanapun aku berada. Dan untuk kalian berdua terimaksih sudah mau menjadi temanku."


"Ah kamu ini bicara apa Arya, sampai kapan pun kita akan tetap selalu menjadi teman walaupun entah kapan kita akan bertemu kembali." Triyaksa nampak sangat senang bisa bereman dan mengenal Arya Chakra walaupun hanya beberapa hari saja.


"Benar apa yang dikatakan oleh Triyaksa, kita semua disini adalah temanmu sampai kapanpun akan terap menjadi temanmu." Wiralaga menimpali ucapan dari Triyaksa.


"Semuanya terimakasih, kalau begitu sudah saatnya aku pamit pergi." Arya Chakra lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan perguruan Gajah Hitam.


Tidak berselang lama setelah kepergian Arya Chakra beberapa prajurit kerajaan Gajah Duduk datang untuk memeriksa perguruan Gajah Hitam.


Dok.. Dok..


Suara pintu gerbang diketuk. "Buka pintunya kami prajurit kerajaan ditugaskan untuk memeriksa perguruan ini."


Pintu gerbang kemudian dibuka oleh salah satu murid perguruan Gajah Hitam, beberapa prajurit kerajaan pun masuk kedalam.


Ternyata Empu Danu Raba sudah berdiri menyambut kedatangan para prajurit kerajaan tersebut. "Silahkan masuk."


"Maaf Empu.. Kami ditugaskan oleh raja Duryandara untuk memeriksa perguruan ini, sebab sejam yang lalu telah terjadi peristiwa yang sangat membuat seluruh penghuni kerajaan menjadi gaduh."


"Peristiwa!! Peristiwa apakah itu?" Empu Danu Raba berpura-pura tidak mengetahui tentang peristiwa yang dimaksudkan para prajurit.


"Raja Duryandra mengira bahwa peristiwa itu ada kaitannya dengan kemunculan sebuah pusaka," ujar salah satu prajurit.


"Kemunculan sebuah pusaka! Apakah kalian mengetahui dimana kira-kira lokasi kemuncukan pusaka itu?"


"Justru itu Empu kami datang kemari ingin bertanya dan memeriksa apakah kemunculan pusaka tersebut ada di perguruan ini?"


"Oh, aku tidak merasakan ada kemunculan pusaka di perguruanku ini, tapi jika kalian tetap ingin memeriksanya maka silahkan saja."


"Baik mohon maaf Empu."


Beberapa prajurit kemudian berpencar untuk memeriksa disetiap sudut dan sisi perguruan, cukup lama para prajurit itu memeriksa kesemua penjuru perguruan.


Akan tetapi mereka tidak menemukan tanda-tanda bekas peristiwa kemunculan pusaka tersebut.


"Mohon maaf Empu bila kami sudah mengganggu kenyamanan anda." Setelah mengetahui bahwa tidak ada tanda-tanda bekas kemunculan pusaka di perguruan Gajah Hitam, akhirnya para prajurit pamit pergi.


.....

__ADS_1


__ADS_2