
Setelah Wulansari menjabarkan panjang lebar pada Arya Chakra barulah mereka melanjutkan kembali keliling perguruan.
Kali ini Wulansari mengajak Arya Chakra ke arena tanding dimana disana sedang ada adu tanding antara dua murid senior.
Saat Wulansari berjalan berdekatan dengan Arya Chakra ternyata dua senior yang tengah adu tanding salah satunya memendam perasaan kepada Wulansari.
Jadi saat salah satu senior itu melihat Arya Chakra berdampingan dengan Wulansari ia menjadi sangat marah. "Sialan.. Siapa anak itu berani-beraninya mendekati Wulansari."
"Hei Triyaksa, beraninya kau tidak memperhatikanku. " Salah satu senior yang memendam suka pada Wulansari ternyata bernama Triyaksa. Sedangkan senior satunya bernama Wiralaga.
Wiralaga tak terima dirinya diacuhkan begitu saja oleh Triyaksa, jadi segera Wiralaga mengarahkan pukulan keras pada perut Triyaksa.
"Ugh.. Sialan kau Wiralaga menyerangku disaat sedang lengah." Triyaksa tak terima pukulan yang dilesatkan Wiralaga saat dirinya tengah memperhatikan Wulansari.
"Kesalahanmu sendiri kenapa harus bengong saat sedang bertarung. " Wiralaga justru menyalahkan Triyaksa karena ulahnya sendiri kenapa tidak fokus dalam pertarungan.
__ADS_1
"Sialan kau." Triyaksa langsung maju menyerang dengan amarah yang memuncak, karena telah terbakar api cemburu.
Pukulan demi pukulan dilesatkan oleh Triyaksa dengan sangat kuat, membuat Wiralaga sedikit kesakitan akibat serangan Triyaksa yang seolah memancarkan niat membunuh.
Setelah sekian lama beradu dengan tangan kosong, hingga pukulan terakhir Triyaksa mampu menembus pertahanan dari Wiralaga yang tepat mengenai dadanya, membuat Wiralaga terpental mundur.
"Uhuk.. Apa yang kau lakukan Triyaksa? Apakau kau ingin membunuhku?" Wiralaga yang merasa bahwa Triyaksa memang bertarung dengan niatan membunuh, langsung tak terima padahal seharusnya itu semua hanya latihan saja. "Ini hanya latihan Triyaksa, apa kau menganggap aku adalah musuhmu?"
"Maaf Wiralaga aku tak bermaksud menyakitimu, maaf karena aku telah lepas kendali." Triyaksa lalu menghampiri Wiralaga dan menolongnya, setelah itu pergi kearah Wulansari dan Arya Chakra.
"Dia adalah Arya Chakra, murid dari sahabatnya Empu Danu Raba." Wulansari memperkenalkan Arya Chakra pada Triyaksa akan siapa Arya Chakra tersebut.
"Oh, tapi kenapa kamu terlihat seperti sudah kenal cukup lama." Ujar Triyaksa.
"Tidak juga, justru kami baru berkenalan kemarin." Jawab Wulansari.
__ADS_1
"Hei kau, bagaimana jika kita beradu ilmu kanuragan? Apakah kau tertarik?" Triyaksa mencoba untuk memberikan Arya Chakra pelajaran dengan saling beradu ilmu kanuragan.
"Maaf bukannya saya tidak mau, tapi saya belum faham bagaimana maksud dari ucapanmu itu?." Arya Chakra mendadak berakting seolah tidak mengerti dengan apa yang dibilang Triyaksa.
"Hah jangan pura-pura tidak mengerti, begini saja siapa yang kalah jangan lagi mendekati Wulansari." Triyaksa nampak langsung blak-blakan menantang Arya Chakra.
"Kau ingin bertaruh denganku? Tapi maaf tidak ada yang bisa melarangku untuk berteman dengan siapa yang aku inginkan." Ujar Arya Chakra.
"Halah bilang saja kau takut kan!" Triyaksa meremehkan Arya Chakra.
"Kau apa-apaann sih, mengapa menjadikanku sebagai bahan taruhan." Wulansari tak terima pada Triyaksa yang menjadikannya sebagai bahan taruhan. "Kang Arya sebaiknya jangan terima tantangan dari dia."
"Tenang saja Wulan aku paling tidak bisa nolak bila ada orang yang menantangku, baiklah jika memang itu yang kau inginkan, aku terima tantanganmu itu, tapi ingat!! Jangan sampai kau berlaga lupa saat nanti aku mengalahkanmu. "
"Hahaha.. Justru itu berlaku untukmu, jangan sampai kau mendekati Wulansari jika aku menang." Tatapan mata Triyaksa sangat tajam kepada Arya Chakra.
__ADS_1