
Dua senopati Duryandra serta para prajurit sudah berada didepan benteng pertahanan dari kerajaan Badak Bercula.
Saat kedatangan pasukan dari kerajaan Gajah Duduk ternyata kerajaan Badak Bercula tidak memiliki persiapan sedikit pun.
Hanya bermodalkan tiupan terompet yang ditiup oleh prajurit penjaga benteng pertahanan.
Pooooooppp...
Semua prajurit dari kerajaan Badak Bercula segera mengambil posisi berperang, dengan langsung mengambil pedang dan tameng yang telah dipersiapkan bila ada keadaan darurat.
"Ada pasukan dari kerajaan Gajah Duduk datang menyerang." Prajurit benteng berteriak sekencang-kencangnya memberitahukan bahwa ada pasukan yang datang menyerang.
"Siapkan panah!" Senopati Adiguna memerintahkan pada para prajurit pemegang panah untuk mengambil posisi siap menyerang. "Tembaaak."
Beribu panah dilontarkan untuk langsung menyerang kedalam kerajaan Badak Bercula. "Siapkan pendobrak." Senopati Adiguna memerintahkan pada prajurit pembawa kayu besar yang digunakan untuk mendobrak gerbang kerajaan.
Sedangkan didalam kerajaan Badak Bercula banyak dari para prajuritnya yang terluka akibat terkena anak panah. "Semuanya ambil posisi siap menyerang!" Salah satu senopati dari kerajaan Badak Bercula memberikan aba-aba untuk persiapan berperang yang bernama Senopati Wicaksono.
Terdapat 5 Senopati di kerajaan Badak Bercula yaitu antara lain :
Senopati Wicaksono
Senopati Hariadi
Senopati Senoaji
Senopati Suseno
Senopati Badriyo
Diluar benteng para prajurit pembawa kayu pendobrak mulai melakukan pendobrakan pada gerbang benteng. "Satu.." Ditabrakkan kayu pendobrak pertama. "Dua.." Kemudian yang kedua. "Tiga.." Setelah dobrakan yang ketiga barulah masing-masing senopati mengintruksikan berperang.
"Seraaaaaangg.. "
Terjadilah peperangan antara prajurit dari kerajaan Gajah Duduk dengan prajurit kerajaan Badak Bercula.
__ADS_1
Sedangkan para senopati dari kerajaan Badak Bercula membagi tugas. "Kalian bertiga bantu para prajurit, masalah kedua senopati itu biarkan aku dan Senoaji yang menghadapinya." Senopati Wicaksono membagi tugas pada senopati yang lain.
Senopati Wicaksono dan senopati Senoaji mulai maju untuk menghadapi kedua senopati dari kerajaan Gajah Duduk. "Berani sekali kerajaan Gajah Duduk menyerang kerajaan Badak Bercula, apa kalian semua merasa sudah hebat!"
"Haha.. Justru itu karena kami sudah merasa hebat maka harus menundukkan kerajaan yang lemah," ujar senopati Adiguna.
"Sialan!! Kalau begitu kita tentukan saja siapa kerajaan yang kau sebut lemah itu." Senopati Suseno segera maju menyerang senopati Adiguna.
Keduanya pun kemudian saling beradu ilmu kanuragan menggunakan tangan kosong, sedangkan senopati Wicaksono langsung maju melawan senopati Darmaji.
Pertarungan masing-masing senopati nampak sangat sengit dan menegangkan, sebab kedua senopati dari masing-masing kerajaannya memiliki ilmu kanuragan yang tergolong lumayan tinggi.
Hingga beberapa kali terdengar suara pukulan yang saling beradu, sampai pada akhirnya kedua senopati dari kerajaan Badak Bercula terpukul mundur dua-duanya.
"Haha.. Bagaimana apakah kau yakin sekarang?" Senopati Adiguna merasa lebih unggul dari senopati kerajaan Badak Bercula.
"Jangan sombong dulu kau! " Senopati Suseno mengeluarkan senjatanya berupa keris.
"Sambaran Gledek." Senopati Suseno langsung mengeluarkan serangan dari kerisnya yang memiliki kekuatan petir.
Senopati Adiguna membalas serangan dari Senopati Suseno dengan kekuatan dari senjatanya juga yang berbentuk sama yaitu sebuah keris. "Ledakan Gunung Berapi."
Kedua serangan yang sangat dahsyat beradu mengakibatkan retakan pada tanah yang mereka pijak, serta banyak pepohonan tumbang akibat terkena ledakan dua kekuatan tersebut.
Kedua senopati terpental mundur, bagi senopati Adiguna kekuatan akibat kedua serangan beradu membuatnya mengalami luka-luka pada kedua tangannya.
Sedangkan senopati Suseno mengalami luka cukup parah dengan kedua tangan dan badannya mengalami luka bakar, serta dari mulutnya keluar banyak darah. "Uhuk.. Ternyata kekuatan senopati Adiguna tak bisa dianggap remeh."
Dua pertarungan antara senopati Wicaksono dan senopati Darmaji terlihat masih cukup sengit, dengan keduanya sama-sama beradu senjata.
Sampai pada keduanya saling beradu kekuatan yang mengakibatkan keduanya sama-sama terpental jauh.
"Uhuk.. Kekuatan senopati kerajaan Badak Bercula ternyata cukup lumayan juga." Senopati Darmaji yang sedikit mengeluarkan darah segera menghusapnya dengan tangan kiri.
Senopati Wicaksono sama halnya dengan senopati Darmaji yang mengeluarkan sedikit darah dari mulutnya, dengan mengusap darah tersebut dengan tangannya. "Hah! Kekuatan senopati kerajaan Gajah Duduk ternyata hanya segini saja."
"Jangan berani-beraninya kau meremehkan kekuatan dari kerajaan Gajah Duduk." Senopati Darmaji kembali melesat maju mengayunkan pedangnya kearah senopati Wicaksono.
Keduanya kembali beradu kekuatan menggunakan senjata masing-masing. "Haha, ayo keluarkanlah seluruh kemampuanmu!" Ujar senopati Wicaksono.
__ADS_1
Senopati Darmaji menyarungkan pedangnya dan mulai meliuk-liukan tubuh seraya mengeluarkan sebuah jurus. "Jurus Cakaran Macan."
Senopati Darmaji maju menyerang senopati Wicaksono dengan kedua tangannya, seolah sepeti seekor macan yang hendak menerkam mangsanya.
"Ingin bertarung dengan tangan kosong, oke akan aku ladeni." Senopati Wicaksono mulai menyarungkan pedang dan mulai melenggak-lenggokkan badan hendak mengeluarkan jurus. "Jurus Tapak Batu."
Kembali keduanya bertarung dengan masing-masing sama-sama mengeluarkan jurus, pukulan demi pukulan keduanya lancarkan awalnya terlihat imbang, tapi pada akhirnya senopati Wicaksono mulai menampakkan kelelahannya.
Yang terlihat dari beberapa pukulan mampu didaratkan di tubuhnya dengan mudah oleh senopati Darmaji.
Senopati Wicaksonk mencoba mencari celah agar dirinya dapat mengatur nafas, namun senopati Darmaji tak memberinya ruang sedikit pun untuk dapat bernafas dengan bebas.
Hingga pada akhirnya pukulan kuat dari senopati Darmaji mampu mendarat dengan tepat pada perut senopati Wicaksono, yang membuatnya terpental hingga menatap dinding benteng pertahanan.
"Haha.. Sekarang kau tahu kan kekuatan dari kerajaan Gajah Duduk." Senopati Darmaji berkata sambil berjalan perlahan kearah senopati Wicaksono.
Dari kejauhan senopati Badriyo yang melihat senopati Wicaksono dalam keadaan terdesak, dirinya langsung berlari kearah senopati Darmaji dengan sebuah tendangan.
Duaaakk.
Tendangan dari senopati Badriyo mengenai bahu kiri senopati Darmaji hingga membuatnya terjatuh.
Dengan segera senopati Badriyo menolong senopati Wicaksono terlebih dahulu. "Kau tidak apa-apa senopati?"
"Aku tidak apa-apa hanya luka ringan saja." Padahal luka yang dialami senopati Wicaksono bukan luka ringan, karena serangan dari senopati Darmaji ternyata membuat organ dalam senopati Wicaksono sedikit luka.
"Haha.. Tidak ada yang bisa selamat dari cakaran macanku ini, tapi kau bisa tidak mati itu sudah sangat berkah bagimu," ujar senopati Darmaji.
"Kamu tunggulah disini, biar aku yang akan menghadapinya." Senopati Badriyo segera berdiri dan mencoba untuk melawan senopati Darmaji.
"Kau ingin merasakan juga! Baiklah mari sini!" Senopati Darmaji mengarahkan tangan kanannya kedepan lalu melambaikannya, mengajak senopati Badriyo untuk bertarung.
Segera senopati Badriyo melesat maju menyerang senopati Darmaji, serangan senopati Badriyo langsung disambut hangat oleh senopati Darmaji. "Ternyata kau boleh juga!"
"Jangan banyak omong! rasakan pukulanku ini." Senopati Badriyo mengepalkan tangan lalu memukul dengan sekuat tenaga kearah senopati Darmaji.
Ditangkisnya pukulan senopati Badriyo dengan kedua tangan senopati Darmaji. "Ugh.. Cukup lumayan, tapi kau pun harus merasakan juga pukulanku ini!"
Senopati Darmaji mengarahkan pukulan keras pada dada senopati Badriyo, penghindaran yang telat membuat pukulan senopati Darmaji mampu mengenai dadanya.
__ADS_1