
Sungguh malang salah seorang murid yang berada tepat didepan raga asli Ranggapati, pakaiannya basah disebabkan muntahan darah Ranggapati.
Semua murid tidak ada yang mengetahui bila raga asli Ranggapati ternyata berada ditengah-tengah kerumunan, akan tetapi yang lebih mengherankan lagi justru para murid bukan mendekat untuk menolong, justru mereka malah mengambil jarak cukup jauh dari Ranggapati yang tengah terkapar tak sadarkan diri.
Namun yang membuat para murid terheran-heran adalah sosok Arya Chakra yang sudah lebih dahulu berada didekat Ranggapati.
"Apa yang akan dilakukan Arya? Apa jangan-jangan Arya akan membunuh Ranggapati?" Para murid berbisik-bisik berprasangka buruk terlebih dahulu pada Arya Chakra, padahal apa yang dilihatnya tidak seperti apa yang difikirkannya.
Arya Chakra mendadak duduk didekat Ranggapati, lalu tangan kanannya ditempalkan ke dada Ranggapati.
Arya Chakra tak ingin jurus patih geni yang dilatihnya justru mengakibatkan kematian bagi orang yang tak bersalah.
Dialirkan tenaga dalam dari sumber energi batu merah delima untuk mengobati luka dalam akibat serangan yang ditimbulkan ilmu patih geni.
Semua murid terkesan dengan apa yang dilakukan Arya Chakra, walaupun Ranggapati telah semena-mena padanya akan tetapi justru Arya Chakra masih mau mengobati luka dalam yang diderita Ranggapati.
Setelah beberapa saat barulah terlihat Ranggapati mulai menggerakkan badannya, lalu perlahan-lahan membuka kedua matanya. "Kau! Kenapa kau menolongku?"
"Aku diajarkan ilmu beladiri bukan untuk menyakiti sesama, akan tetapi untuk melindungi diri."
Setelah dilihat bahwa Ranggapati sudah membaik barulah Arya Chakra berjalan mendekat kearah Empu Danu Raba. "Sendiko Empu, sudah diputuskan besok aku akan pergi meninggalkan perguruan ini."
Empu Danu Raba hanya bisa menghela nafas panjang sebelum berkata. "Baiklah nak bila memang itu keputusanmu, besok datanglah ke rumah Empu ada yang ingin Empu sampaikan padamu."
Wulansari yang baru beberapa hari mengenal dan bersama Arya Chakra ternyata dalam hatinya sudah memiliki kenyamanan saat didekat Arya Chakra.
Hingga tak terasa air matanya mulai membasahi pipi, sebelum itu terlihat oleh yang lainnya Wulansari sudah terlebih dahulu mengusap air matanya.
Tak ada kata-kata terlontar dari mulut Arya Chakra setelah ia berpamitan pada Empu Danu Raba, hanya senyuman saja yang diarahkan pada Wulansari sebelum dirinya kembali ke kamarnya.
"Sangat disayangkan ya, padahal jelas-jelas si Arya itu adalah sosok yang sangat berbakat tapi dia lebih memilih pergi."
Semua murid mulai membicarakan Arya Chakra, banyak yang menyesali kepergiannya bahkan juga ada yang sangat mendukung kepergiannya.
__ADS_1
*
Keesokan harinya terdapat beberapa maklumat mengenai Ranggapati, salah satunya karena sikap dan juga keegoisan Ranggapati, Empu Danu Raba memutuskan untuk mengeluarkannya dari perguruan.
Dan juga mencabut semua ilmu yang telah dipelajarinya selama di perguruan, Empu Danu Raba merasa khawatir akan sifat dari Ranggapati takutnya dia akan semena-mena dengan siapa saja karena merasa lebih hebat.
Empu Danu Raba tak lupa memberikan maklumat pada semua muridnya, agar kejadian ini dijadikan sebagai pelajaran.
"Ini akan menjadi pelajaran buat kalian semua, bahwa belajar ilmu kanuragan bukan untuk menyombongkan diri, gunanya kalian belajar ilmu kanuragan adalah untuk bisa menjadi penolong yang lemah."
Dalam hati Ranggapati sudah terselimuti amarah serta kesombongan yang meradang, sehingga kejadian ini bukan membuatnya sadar justru dirinya menjadi semakin dendam.
Ranggapati berjalan dengan tertatih-tatih sambil memegang kayu sebagai tumpuan tubuhnya, sebelum kakinya melangkah keluar perguruan ia sempat menengok kebelakang dengan tatapan penuh dendam.
"Tunggu saja pembalasanku! Aku pastikan kelak aku akan datang kembali dan menghancurkan perguruan ini."
Mata Ranggapati masih mancari-cari seseorang dan setelah beberapa saat dirinya pun mendapati seseorang tersebut tengah berdiri dibelakang Empu Danu Rab.
"Hemm.. Akan aku ingat kejadian ini! Dan untuk mu lihat saja akan aku pastikan kau membayar semua yang telah kau lakukan padaku ini." Barulah Ranggapati melangkahkan kakinya keluar dari gerbang perguruan.
Sebab sosok Ranggapati adalah sosok senior mereka yang termasuk dalam jajaran peringkat atas, serta memiliki ilmu kanuragan tertinggi.
Sebagian murid sangat kecewa atas perlakuan Empu Danu Raba yang lebih mementingkan Arya Chakra, yang tergolong dalam murid baru tapi lebih diprioritaskan ketimbang Ranggapati yang sudah menjadi murid terlamanya.
Mereka ragu dikarenakan kejadian kali ini akan menjadikan perguruan tidak lagi terlihat nyaman bagi mereka yang memiliki pemahaman sama dengan Ranggapati.
Yang sangat menyanjung-nyanjungkan sosok Ranggapati sebagai senior terhebat di perguruan, dalam hati mereka menyesali dan kecewa atas perlakuan dari Empu Danu Raba.
Namun sebagian murid yang lain menyikapi kejadian tersebut sebagai pelajaran, agar mereka tidak mengedepankan kesombongan dalam diri mereka dan lebih memilih untuk mementingkan kerendahan hati.
Setelah drama kepergian Ranggapati usai barulah Empu Danu Raba memanggil Arya Chakra, kemudiam membawanya kesebuah tempat.
"Hendak kemana kita Empu?" Arya Chakra yang penasaran menanyakannya langsung pada Empu Danu Raba.
__ADS_1
"Nanti kau akan mengetahuinya sendiri nak." Empu Danu Raba tak langsung menjawab pertanyaan Arya Chakra.
Ternyata tempat tersebut masih berada di lingkup perguruan, akan tetapi tak seorang pun diperbolehkan masuk kedalamnya kecuali persetujuan dari Empu Danu Raba.
Arya Chakra cukup penasaran akan tempat tersebut yang begitu terlihat kramat, dan juga hawa yang terpancar dari tempat itu cukup terasa menegangkan.
"Tempat apa ini Empu?"
"Ini adalah rumah kramat, dimana tak seorang pun diizinkan masuk kecuali atas persetujuanku."
Empu Danu Raba mendekat kearah pintu masuk tempat tersebut lalu menempelkan tangan kanannya, seketika kunci gaib yang terpasang disana langsung terlepas dan pintu pun mulai terbuka.
Wusssss...
Saat pintu tersebut terbuka hawa mencengkram langsung menyembur keluar, hingga bulu kuduk Arya Chakra sampai berdiri. "Tempat apakah ini sebenarnya? Mengapa tiba-tiba perasaanku tidak begitu enak."
Empu Danu Raba mulai memasukinya namun Arya Chakra masih terhenti didepan pintu rumah kramat itu dengan diam mematung.
"Arya..!" Empu Danu Raba memanggil Arya Chakra yang sedang dalam keadaan mematung tersebut. "Sini masuk, jangan takut kan ada Empu!"
Arya Chakra menurut dengan apa yang diperintahkan Empu Danu Raba dan mulai memasuki rumah keramat bersama Empu Danu Raba.
Tak lupa Empu Danu Raba menyalakan lampu penerangan didalam rumah tersebut terlebih dahulu agar terlihat jelas apa yang berada didalamnya.
"Waaahh.. Semua ini apakah milik perguruan ini Empu?"
Arya Chakra yang begitu terkejut saat melihat isi dibalik rumah keramat tersebut, begitu banyak senjata serta berbagai kitab jurus yang sudah tersusun rapih didalamnya.
"Iya ini adalah peninggalan dari pendiri perguruan ini."
"Apa?? Jadi bukan Empu yang mendirikan perguruan ini?"
"Bukan, itu ceritanya sangat panjang tak akan cukup bila diceritakan sekarang."
__ADS_1
......