
Mendengar itu Olivia hanya tersenyum tipis, karena begitulah papanya. Sebelum dirinya menikah dengan Riko pun papanya memang sangat perhitungan sekali jika sudah menyangkut dengan uang, nama baik keluarga, dan juga perusahaan yang dikelolanya. Setelah dirinya menikah dengan Rico, papanya akan menyapa dirinya jika ada maunya saja sehingga papanya itu pura-pura manis saat ingin mengatakan sesuatu kepadanya maupun pada Rico.
Namun Olivia bersyukur karena mamanya bisa bertahan sampai sekarang ini, walaupun sudah tahu dengan sikap kasar papanya tersebut. Dan Olivia pun harus bisa belajar seperti sang Mama untuk bisa tidak mengambil hati dari perkataan pedas oleh sang papa.
" Tidak Pah, Olivia ke sini karena Olivia sangat merindukan Papa dan Mama. Apa Olivia tidak boleh berkunjung?" Ucapnya sedih.
" Tumben kamu merindukan kami, selama ini kemana aja baru muncul batang hidungmu dan ditambah lagi mana suami kesayanganmu itu? Dia benar-benar tidak sopan, tidak pernah menemui mertuanya sama sekali, boro-boro mau memberikan uang, dasar menantu tidak berguna!" Celoteh Burhan.
Olivia hanya tersenyum saja mendengarkan celotehan papanya.
"Rendy lagi bekerja Pah, dia belum sempat mengunjungi Papa sama Mama di sini," ucap Olivia masih membela suaminya dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya atas perilaku Rendy yang selalu melakukan KDRT terhadap dirinya.
" Ck, sok sibuk kerja. Padahal gaji tak seberapa tapi sombongnya naudzubillah. Lagian kamu bisa-bisanya mau berselingkuh dengannya yang tidak punya apa-apa jika dibandingkan dengan Rico dia itu hanya butiran debu saja, dasar bodoh!" Cibir Burhan kesal atas kebodohan anaknya. Padahal jika bersama dengan Riko perusahaannya akan semakin sukses karena kecipratan dari perusahaan Rico yang lumayan besar.
Setelah bercerai, perusahaan nya menurun drastis, ditambah lagi tidak ada dana pemasukan sehingga dia harus kerja keras mempertahankan nama baik perusahaan itu supaya tidak hancur. Maka dari itulah Burhan sangat membenci Rendy yang tidak bisa apa-apa untuk perusahaannya.
" Olivia juga sangat menyesal Pah, jika andai waktu bisa diputar. Olivia tidak akan melakukan kesalahan yang bodoh seperti ini," ucap Olivia namun hanya dalam hatinya saja, ingin sekali dia menangis jika mengingat kebodohannya dulu.
" Sudahlah Pah, nasi sudah menjadi bubur. Toh semuanya sudah terjadi," mama Ana menenangkan suaminya.
__ADS_1
" Ck terserahlah, Papah mau ke kamar."
Burhan bangkit dari tempat duduk kemudian ia berjalan menuju kamarnya sementara di ruang keluarga hanya tinggal Olivia dan mama Ana saja. Keduanya sedikit merasa canggung karena sudah lama tidak berinteraksi terhadap ibu dan anak itu.
" Mah, boleh nggak Olivia memeluk Mama sebentar saja." Olivia berpindah tempat dia duduk di samping mamanya.
Mama Ana mengurutkan keningnya sedikit bingung, namun dia tidak menolak dan juga tidak mengiyakan karena saat ini Olivia sudah memeluk tubuhnya begitu erat.
" Olivia sangat merindukan Mama, Olivia minta maaf jika selama ini Olivia begitu banyak dosa terhadap Mama."
Olivia memeluk erat mamanya, dia benar-benar sangat membutuhkan tempat untuk bersandar mencurahkan semua isi hatinya yang selama ini dia pendam atas perilaku Rendy terhadapnya selama ini, walaupun dia tidak mengatakan yang sejujurnya, namun dengan pelukan erat ini, setidaknya hatinya sedikit merasa lega.
Mama Ana dapat merasakan jika bajunya basah karena yakin jika saat ini Olivia tengah menangis. Sebenarnya Ana ingin sekali bertanya, namun rasa canggung dan gengsi itu pun menyelimuti hatinya sehingga dirinya hanya bisa mengangkat tangannya dan mengelus-elus punggung anaknya dengan lembut.
" Ada apa Olivia? Kenapa kamu menangis sampai seperti ini. Apa yang terjadi?" Pada akhirnya rasa penasaran itu pun tak tertahan lagi hingga Mama Ana pun bertanya
Olivia menghentikan tangisannya walaupun masih ada cegukan yang tersisa, dia pun melepaskan pelukan nya kemudian ia menggeleng pelan dan tersenyum yang ia paksakan menatap sang mama.
" Nggak apa-apa Mah, Olivia hanya merindukan Mama saja," bohong Olivia sembari tertawa kecil.
__ADS_1
" Jangan berbohong Nak, walaupun Mamah sering acuh, bersikap dingin dan jarang memperhatikan kamu. Tapi kamu anak Mama, mama kenal kamu. Pasti ada apa-apanya, ya kan?"
Begitulah orang tua walaupun sangat jarang memperhatikan anaknya bersikap cuek acuh sekalipun tetapi dia tidak pernah lupa dan sangat mengenal anaknya luar maupun dalam. Karena dia yang mengandung dan melahirkan dan membesarkan, tentu sudah sangat hafal sekali dengan anaknya tersebut.
Air mata Olivia kembali bercucuran dia tersenyum sambil menggeleng pelan kemudian menggenggam tangan kanan mamanya dengan erat.
" Belum saatnya Olivia bercerita Mah, mungkin suatu saat jika Olivia benar-benar sudah tidak kuat lagi Olivia pasti akan menceritakan semuanya ke Mama. Dan kali ini Olivia mohon sekali pada Mama untuk memaafkan semua dosa-dosa yang Olivia buat selama ini, Olivia benar-benar bersalah dan sudah menyusahkan Mama dan Papa."
Olivia belum punya keberanian untuk menceritakan pedih pahit hidupnya selama menikah dengan Rendy dan dia hanya bisa memohon untuk memaafkan semua dosa-dosa yang ia perbuat selama ini agar supaya kehidupannya jauh lebih baik lagi untuk kedepannya.
" Mamah memang sudah memaafkanmu sayang, begitupun juga dengan papa. Walaupun Papa selalu berkata pedas dan kasar, tapi percayalah di hatinya dia sudah memaafkan kamu sejak lama. Dan Papa juga sangat merindukan kamu selama ini."
Mama Ana membelai dan mengusap air mata Olivia dengan lembut penuh kasih sayang, dia sendiri pun ikut menangis dan mengatakan jika dirinya maupun suaminya sudah memaafkan kesalahan Olivia sejak lama, dan walaupun kata-kata Burhan selalu terucap kasar namun di hatinya sudah memaafkan kesalahan anaknya karena sebagai istri dia juga sudah sangat mengenal suaminya lebih dari siapapun. Dan walaupun Burhan sendiri tidak pernah mengatakan kepadanya, tetapi dia sangat tahu jika suaminya itu sangat merindukan Putri mereka.
Sontak seketika Olivia langsung kembali menangis, dia terisak penuh haru karena kedua orang tuanya ternyata sudah memaafkannya dan masih mau menerima dirinya. Olivia bahkan bersimpuh bersujud di kaki ibunya, dia benar-benar sangat bersyukur ternyata masih ada orang yang peduli dan sayang padanya.
" Bangun sayang, jangan seperti ini Nak. Ayo bangun."
Ana berusaha membangunkan Olivia yang tengah bersujud di kakinya, karena anaknya tidak juga bangkit dia pun duduk di lantai kemudian memeluk punggung anaknya itu erat ana pasti yakin sesuatu terjadi kepada anaknya.
__ADS_1
Sambil berpelukan keduanya menangis dan tanpa mereka sadari ternyata Burhan mendengar pembicaraan mereka di balik tembok Laki-laki paruh baya itu mengusap air matanya. Dia menangis dalam diam dengan tangan terkepal. Ingin sekali memeluk Putri tercintanya itu, akan tetapi dia menahannya karena gengsi yang terlalu tinggi.
Burhan yakin, sama seperti yang Ana pikirkan jika anak mereka sedang mengalami sesuatu yang pahit hingga sampai anaknya bersimpuh memohon maaf seperti itu, dan Burhan sangat yakin jika pasti ada sangkut pautnya dengan Rendy. Karena sebelum bercerai dengan Rico Olivia tidak pernah seperti itu, bahkan dia terlihat sangat bahagia sekali sehingga Burhan merasa tenang. Namun kali ini dia benar-benar tidak bisa berdiam saja dan harus menyelidiki apa sebenarnya yang terjadi terhadap putrinya itu.