
Penyesalan selalu datang di bagian akhir, ingin mengulang waktu tetapi tidak mungkin akan terjadi hingga rasa penyesalan itu akan selalu menghantui dalam hatinya. Ingin menjadi yang lebih baik lagi dan mencoba membuka lembaran baru, akan tetapi menjadi lebih baik itu begitu banyak sekali tantangan. Olivia hanya bisa pasrah, dia menyadari kesalahannya dan berpikir jika semua yang dia rasakan sekarang ini adalah karma.
Braaaak … Olivia sangat terkejut dengan pintu yang di dobrak keras oleh suaminya. Bahkan anaknya sampai menangis karena kaget.
" Rendy ada apa lagi? Apa kau tidak bisa membuka pintu dengan pelan?" Kesal Olivia, dia mencoba menenangkan anaknya dengan memberikan susu.
" Dasar istri pemalas, aku menikahi mu bukan untuk menjadikan mu ratu di rumah ini." Cibir Rendy sinis.
Olivia memutar bola matanya malas, kesalahan apalagi yang dia buat hingga suaminya itu marah-marah di pagi-pagi sekali seperti ini.
" Ada apa? Apa kau tidak bisa berkata lembut sedikit padaku?" Olivia mencoba menahan rasa kesalnya.
" Ck, kau pikir nasi bisa masak dengan sendirinya? Aku ini mau berangkat bekerja, mau makan apa gunanya jau di rumah ini sebagai istri."
" Apa hari sudah siang? Kenapa kau sudah marah-marah melebihi burung beo," kesal Olivia, dia melihat jam dinding masih menunjukkan pukul 6, pagi. Tetapi suaminya itu sudah seperti kebakaran jenggot seakan tidak pernah makan selama satu tahun.
" Aku mau berangkat pagi, jika tidak aku bangunkan pasti kau masih enak-enak tidur. Dasar tidak berguna banget jadi istri," oceh Rendy, dia pun pergi meninggalkan Olivia yang tengah mencoba untuk bersabar.
Padahal dirinya masih sangat mengantuk sekali, gara-gara siapa dia begadang karena harus menenangkan anak yang terus menangis hingga waktu subuh barulah dia bisa tidur nyenyak. Akan tetapi gara-gara suaminya lagi kepalanya menjadi pusing akibat kurang tidur.
__ADS_1
Dengan sangat malas Olivia bangkit setelah memberikan anaknya susu. Dia menguncir rambutnya terlebih dahulu barulah ia menggendong anaknya dan membawanya keluar dari kamar sebelah seisi rumah ini hancur oleh amukan suaminya.
Sesampainya di dapur, Olivia meletakkan anaknya di kereta bayi dan sengaja meletakkannya tak jauh dari dirinya, untunglah Andre begitu pintar sehingga Olivia bisa membuat sarapan untuk suaminya tersebut.
" Masak apa ya? Mana di kulkas kosong belum sempat belanja." Olivia kebingungan karena semua bahan masakannya sudah pada habis. Dia mencari sesuatu yang bisa di masak.
" Cuma ada telor satu." Olivia menuntup kembali kulkas dan membawa telor yang hanya tinggal satu itu.
" Oh iya, kayaknya nasi tadi malam masih ada deh." Dengan semangat dia membuka mejicom. Dan bener saja nasi sisa tadi malam masih ada dan lumayan cukup banyak sehingga cukup untuk dirinya dan juga suaminya itu walaupun telor hanya ada satu, tetapi Olivia tidak mempermasalahkannya, dia bisa mengalah dan memberikan telor tersebut kepada suaminya.
Dengan senyuman mengembang Olivia membuat sarapan, dia berharap suaminya akan menyukai masakannya karena selama ini Rendy jarang sekali memakan masakannya. Dan baru pagi ini laki-laki itu meminta walaupun dengan cara kasar. Namun Olivia ikhlas membuat kan sarapan untuk suaminya tersebut.
Rendy keluar dari kamarnya, dia sudah terlihat sudah sangat rapih dengan kemeja yang dia kenakan serta dasi berwarna abu-abu membuat ketampanannya semakin terlihat. Rendy tak kalah tampannya dengan Rico, keduanya bagaikan pinang di belah dua. Mungkin jika Olivia tidak bertemu dengan Rico lebih dulu, bisa saja dia jatuh cinta padanya.
Rendy membulatkan kedua matanya melihat hidangan yang di siapkan oleh Olivia. Selera makannya menjadi ilang melihat sarapan yang hanya nasi goreng ceplok telur saja.
" Kenapa kau benar-benar tidak bisa menjadi istri yang berguna, aku menyuruhmu untuk membuat sarapan untuk dimakan, bukan untuk ayam!" Marah Rendy membentak hingga suaranya menggema di rumah tersebut.
" Apa masalahnya Rendy, kenapa kau ini begitu cerewet? aku sudah susah payah menyiapkan sarapan, dan seenaknya saja kau hina," balas Olivia.
__ADS_1
" Sarapan apa? Apa masakan ini yang kau sebut sarapan? Apa kau tidak bisa membuat sarapan yang jauh lebih layak?"
Rendy memang sudah sangat keterlaluan dia bahkan menghina makanan yang menurutnya tidak layak karena Rendy memang sangat jarang memakan nasi goreng di pagi hari karena dia pikir nasi goreng itu hanya ada di malam hari saja.
" Memang apa salahnya dengan sarapan nasi goreng dan telur ceplok? Lagi pula makanan ini enak kok, Rico saja sangat suka bahkan selalu memintaku untuk membuat sarapan nasi goreng dan telur ceplok. Kenapa kau begitu pilih-pilih, belajar untuk hidup sederhana apalagi semua bahan-bahan di dapur sudah pada habis semua dan hanya ini yang tersisa." Coblos Olivia lagi-lagi dirinya membandingkan Rendy dan mantan suaminya sontak saja hal tersebut memancing emosi.
Praaaang … satu piring melayang hingga nasi goreng dan pecahan piring tersebut berserakan di lantai Rendy benar-benar emosi karena dirinya dibanding-bandingkan dengan Riko.
Plaaak … bukan hanya piring saja yang melayang melainkan tangannya pun juga melayang seperti kapas yang begitu ringan hingga cap telapak tangan membekas di pipinya Olivia.
" Rico, lagi Riko lagi kenapa kau selalu saja membandingkan aku dengan dia? Apa kau menyesal sekarang, hah!" Emosinya laki-laki itu mudah sekali emosi semenjak menikah dengan Olivia bahkan tidak segan-segan untuk memukul begitu ringan sekali tangannya tanpa memikirkan perasaan istrinya tersebut.
" Iya aku sangat menyesal. Jika seandainya waktu bisa diulang kembali, aku tidak akan pernah mau mengenal dengan dirimu!" Balas Olivia dengan nada tinggi dia tak kalah marahnya, tatapan matanya begitu sangat membenci laki-laki di hadapannya ini.
" Hahahaha, sudah terlambat untuk menyesal Olivia. Sekarang nikmatilah penyesalanmu di neraka ini. Dan jangan pernah berharap untuk bebas dariku, karena aku akan selalu membuatmu penuh dengan penyesalan seumur hidup karena dirimu aku menjadi seperti ini!"
Riko mendorong tubuh Olivia hingga tersungkur tepat dipecahan piring tadi hingga tangannya terluka setelah mengatakan ancaman itu Pendi pergi dari rumah tanpa mempedulikan Olivia yang kini tengah menangis sambil berteriak.
Rendy benar-benar benci dengan Olivia Karena wanita itu hidupnya menjadi hancur, dia kehilangan segalanya. Cinta, kasih sayang dari keluarga angkat, hingga pekerjaan. Begitupun juga dengan teman-teman dekatnya, semuanya menghina dan membenci dirinya dan Rendy pun melampiaskan semua amarahnya kepada Olivia yang menyebabkan semua kehancuran hidupnya itu.
__ADS_1