Penyesalan Seorang Istri

Penyesalan Seorang Istri
bab 28


__ADS_3

Sudah 24 jam Burhan masih dalam keadaan kritis, bahkan kesehatannya memburuk hingga dokter berulang kali menekan detak jantungnya agar stabil dengan menggunakan alat. Olivia dan juga Anna begitu sangat khawatir mereka tak ada henti-hentinya terus menangis dan tak lupa dengan berdoa. 


Sementara Riko dan juga kedua orang tuanya hanya bisa memberikan support dan juga membantu mendoakan keselamatan Burhan. Riko yang selalu setia menemani mantan kekasihnya sambil memeluknya erat agar supaya wanita itu bisa lebih sedikit tenang untuk menghadapi cobaan yang dia alami.


" Aku benar-benar takut, Mas. Aku takut terjadi apa-apa sama papah." Tidak berhenti menangis, dengan perasaan cemas dihatinya yang sangat ketakutan akan kehilangan orang yang dia sayangi. 


" Tidak baik bicara seperti itu, ayo kita berdoa demi keselamatan papah." 


Ricko benar-benar sakit hatinya melihat wanita yang masih sangat dia cintai itu menangis. Dia menghapus air mata di pipi Olivia dan semakin memeluknya erat. 


" Yang sabar ya Jeng, kami tidak bisa berbuat apa-apa selain mendoakan pak Burhan semoga selamat dari masa kritisnya." Sambil memeluk Ana dan mencoba untuk menenangkan. Ibunya Rico begitu sangat peduli dengan mantan besannya itu.


" Terima kasih ya Jeng, kamu masih begitu baik sekali pada kami." Ucapnya sambil memaksakan senyumnya. 


" Walaupun kita bukan lagi keluarga, tetapi kita tetap bersahabat dan sampai kapanpun. Begitu pula dengan mereka." Sinta menunjuk arah Rico dan Olivia.


Ana mengangguk, dia tersenyum senang. Walaupun keluarga Rico sudah dikhianati oleh anaknya tetapi mereka masih begitu baik dan bahkan mau memaafkan semua kesalahan Olivia. Ana merasa sangat bersyukur sekali bisa mengenal keluarga ini. 


Pintu ruangan dibuka, semua orang menoleh arah ya kemudian dengan cepat Ana menghampiri karena pasti terjadi sesuatu dengan suaminya melihat raut wajah dokter tersebut yang murung.


" Dokter apa terjadi sesuatu dengan suami saya?" Tanya Ana cemas, dia takut untuk mendengar ucapan dokter. Hatinya belum siap jika harus menerima kenyataan.


" Beliau sadar," ucap dokter dia masih belum selesai bicara tetapi Olivia sudah memotong ucapannya.


" Apa! Papah sudah sadar?" Olivia tersenyum senang, dia menghapus air matanya. 


" Dokter apa benar suami saya sudah sadar?" Ana agak ragu melihat ekspresi dokter itu lagi-lagi dengan raut wajah sedih.


" Beliau memang sudah sadar, tapi keadaan nya semakin memburuk." Dengan sangat terpaksa dia harus mematahkan semangat keluarga yang tadinya sudah sangat senang terutama Olivia.


" Apa maksud, Dokter?" 


" Siapa disini yang bernama Rico? Beliau ingin bertemu dengannya sekarang." Dokter itu menyampaikan pesan dari Burhan jika di ingin bertemu dengan Rico.


" Saya Rico, Dok." Dengan cepat Rico menjawab, Olivia dan juga Ana saling pandang kebingungan. 


" Mari ikut saya, dan yang lainnya jika mau ikut silahkan tapi mohon untuk tidak berisik dan jangan membiarkan beliau terlalu banyak bicara."


" Baik Dok." Rico menggenggam tangan Olivia, dia tersenyum menatap wanita yang tengah menatapnya itu. Kemudian Rico mengajaknya masuk tanpa melepaskan genggaman tangannya lalu menghampiri Burhan yang sudah membuka mata dengan nafas tersengal.


" Papah …" Olivia mencoba untuk menahan tangisnya, dia menutup mulutnya tetapi air mata terus mengalir. 


Rico mempererat genggaman tangannya. Dia tersenyum menatap Burhan yang menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


" Papah, Rico dan semuanya disini!" Ujar Rico pelan, dia merasakan perasaan tidak enak. 


Burhan mengangkat tangannya perlahan kemudian meraih kedua tangan Rico dan Olivia yang masih bergandengan itu.

__ADS_1


" Rico, Papa punya stu permintaan. Anggap saja ini adalah permintaan terakhir Papa," ucapnya pelan dengan nafas mulai putus -putus.


" Pah, Papah." Ana tak kausa menangis tangisnya, dia memiliki perasaan tidak enak.


" Papah jangan bicara dulu ya," kata Olivia sambil menangis. Burhan menggeleng pelan.


" Papah tidak ada waktu lagi Olive, sebelum Papah pergi papah memiliki satu permintaan pada Rico." 


" Apa permintaan Papah, insyaallah Rico sanggup memenuhinya." Tidak ingin melihat Burhan semakin menderita lagi, mungkin ini memang yang terakhir sehingga Rico membiarkan Burhan menyampaikan keinginannya.


" Kamu memang laki-laki yang baik, Rico. Papah sebenarnya malu ingin mengatakan ini. Tapi Papah tidak memiliki pilihan lain, karena Papah hanya ingin melihat Olive bahagia dan Papah yakin jika bersamamu dia akan hidup bahagia." Rico terdiam, dia mulai paham maksud permintaan Burhan. 


" Pah …" Olivia ingin menolak tetapi Burhan menggeleng.


" Rico, apa kamu mau menerima Olve kembali menjadi istri kamu? Dan memaafkan semua kesalahannya. Papah yakin jika kalian masih memiliki cinta." Burhan mengetahui semuanya jika Rico dan Olivia masih saling mencintai, maka sebab dari itulah dia meminta Rico untuk menikahi kembali anaknya.


" Pah, Olive dan Rico …" 


" Baiklah, setelah masa idahnya selesai, Rico akan menikahi Olivia kembali. Papah tenang saja karena Rico pasti akan membuatnya jauh lebih bahagia lagi sehingga tidak lagi meninggalkan Rico!" Jawab Rico cepat menyetujui permintaan mantan mertuanya itu.


" Mas, Rico!"  Olivia tak percaya jika Rico langsung menyetujui permintaan Papah tanpa pikir panjang. 


Burhan tersenyum senang, air matanya mengalir karena anaknya akan merasakan kebahagiaan bersama laki-laki yang tepat. 


" Olivia jangan lagi melakukan kesalahan yang sama, cintai dan sayangi lah suamimu apapun keadaannya. Papah tidak bisa bertahan lebih lama lagi, dan Papah hanya berharap semoga kamu akan selalu bahagia bersamanya. 


" Maafkan Papa, Mah. Papah masih belum bisa membuat Mama bahagia. Dan Papa tidak bisa menepati janji untuk terus bersama hingga hari tua. Papah terlalu lemah, maafkan Papa." Dengan nada terputus, nafasnya sudah tak beraturan lagi. Tetapi sekuat tenaga dia mencoba untuk mengulurkan tangan pada Ana. 


" Mamah sudah memaafkan semua kesalahan Papa. Mamah tidak pernah marah karena Mama begitu mencintaimu, Pah." Ana menggenggam tangan suaminya erat. Doa berusaha untuk tersenyum, berusaha untuk kuat dihadapan suaminya padahal dalam hatinya begitu hancur.


" Jika Papa ingin pergi, insyaallah mamah akan iklas. Mamah akan berusaha untuk hidup bahagia, dan akan selalu mendoakan papa sampai akhir hayat. Mamah mencintaimu, jangan mengkhawatirkan kami karena mamah yakin Olivia akan bahagia begitupun juga dengan Mamah." 


Terpaksa mengatakan hal itu, Ana yakin jika suaminya tidak bisa bertahan lebih lama lagi sehingga dia mencoba untuk membuat suaminya tenang sebelum pergi meninggalkan dirinya selamanya. Ana menghapus air mata suaminya yang mengalir, lalu dia mengecup lembut kening Burhan dengan air mata yang mengalir.


" Aku mencintaimu," bisiknya, lalu dia mengucapkan dua kalimat syahadat tepat di samping telinga Burhan sambil menahan Isak tangisnya. 


Burhan dengan senyum mengikutinya walaupun tanpa suara kemudian perlahan laki-laki itu menutup kedua matanya dengan wajah senyum tangan masih menggenggam istrinya laki-laki itu pergi untuk selama-lamanya. 


Kemudian Ana menangis dia menangis sejadi-jadinya sambil memeluk erat tubuh suaminya. Suaminya sudah pergi untuk selama-lamanya barulah tangisannya pecah begitupun juga dengan Olivia menangis di dalam pelukan Riko.


" Papah, jangan tinggalin Olive Pah. Papa tidak boleh pergi!" Sambil terus menangis histeris mukul-mukul dada Riko i love you tidak menginginkan kepergian papanya dia masih belum menerima kenyataan.


" Innalillahiwainnailaihirojiun, yang sabar ya Jeng semoga Pak Burhan tenang di sisi Allah dan amal ibadahnya diterima." Sinta mengusap-ngusap punggung Ana yang masih memeluk tubuh suaminya cinta dan juga suaminya turut berduka cita mereka juga sedih dengan kepergian Burhan.


" Papa, Mas. Papah tidak boleh pergi. Aku yakin papah pasti bisa selamat." Masih tidak terima, Olivia memohon kepada Riko jika semua ini tidaklah nyata. Dia yakin jika Burhan tidak benar-benar pergi.


" Papah sudah pergi dengan tenang, sayang. Kamu harus ikhlas ya, kasihan Papah jika melihat kamu seperti ini. Apa kamu kupa dengan apa yang dia katakan tadi, hem. Dia hanya ingin kamu bahagia." 

__ADS_1


Riko terus mencoba untuk menenangkan mantan istrinya sambil memeluknya erat dia menjadi sandaran untuk Olivia yang benar-benar sangat terpuruk atas kepergian Burhan. 


Olivia masih tidak terima hingga dia pun pingsan tidak sadarkan diri di dalam pelukan mantan suaminya itu. Anda menghapus air matanya kemudian dia kembali mengecup kening suaminya untuk terakhir kalinya Ana berusaha untuk ikhlas karena manusia pasti akan meninggalkan dunia ini cepat atau lambat. 


" Selamat jalan suamiku semoga kamu tenang di sana dan jangan khawatirkan kami. Kami akan selalu mendoakanmu. Aku mencintaimu suamiku aku mencintaimu selamanya sampai akhir hayat sampai aku menyusulmu di sana tunggu Aku." 


Sambil mengusap air matanya Ana berusaha untuk tenang dan mengikhlaskan kepergian suaminya itu. Dia mempersilahkan para perawat untuk melepaskan selang-selang yang berada di tubuh suaminya dan mengurus jasad suaminya tersebut.


Proses pemakaman Burhan dilakukan ada banyak warga yang ikut serta menghantar peristirahatan Burhan yang di mana tempat semestinya, ya itu di alam kubur.


Tanah sudah mengubur rapat tubuh Burhan bunga-bunga bertaburan di atas tanah yang masih basah tersebut hanya menghapus air matanya mencoba untuk tidak menangis seperti Olivia yang saat ini histeris sambil memeluk tanah tersebut. Walaupun dalam hatinya sangat hancur namun Ana berusaha untuk mengikhlaskan kepergian suaminya karena dengan ikhlas suaminya itu bisa tenang di alam baka sana. 


" Papa jangan tinggalin Olive, Papa nggak boleh pergi." Sambil berteriak menangis histeris Olive memeluk kuburan Burhan tak peduli tubuh baju yang begitu kotor akibat tanah mengenai dirinya.


Riko hanya bisa menenangkan sambil mengusap-ngusap punggung mantan istrinya.


" Ana kami sekeluarga turut berduka cita atas kepergian Burhan kami tidak menyangka jika beliau akan pergi secepat ini mendahului kita semua. Semoga kamu selalu sabar dan ikhlas menerima semua ini!" Ucap Wisnu papa nyariku mengucapkan belasungkawa. Dan dianggui pula oleh Sinta yang kini merangkul mantan besannya itu.


" Terima kasih ya Pak Wisnu, saya mewakili suami saya untuk minta maaf atas semua kesalahan yang dilakukan oleh suami saya yang disengaja maupun tidak." 


Olivia mewakili suaminya untuk meminta maaf atas perbuatan yang dilakukan oleh Burhan selama masa hidupnya bukan hanya kepada Wisnu dan juga keluarganya melainkan kepada seluruh orang yang mengenal suaminya tersebut seperti rekan bisnis, seluruh karyawan, dan warga sekitar dekat rumahnya.


" Kami sudah ikhlas dan memaafkan semua kesalahan beliau, kami juga sebaliknya meminta maaf jika pernah membuatnya sakit hati dengan kata-kata kamu." 


Saling memaafkan apalagi kepada orang yang sudah tiada tidak ada salahnya, apalagi mereka akan kembali menjadi keluarga lagi seperti dulu. 


Semua orang pergi meninggalkan pemakaman hingga tinggallah Olivia dan juga rigo walaupun Ana sudah berusaha membujuk anaknya untuk kembali pulang tetapi Olivia begitu keras kepala ingin terus berada di sisi ayahnya sehingga membuatnya menyerah dan pulang lebih dulu setelah Riko mengatakan jika dia yang akan menemani Olivia di sini untuk sebentar lagi.


" Olive ayo kita pulang, tidak baik kamu terus menangis seperti ini. Papah kamu pasti akan sedih melihatnya, Olive." Riko terus membujuk agar supaya mantan istrinya itu mau kembali pulang dan mengikhlaskan kepergian mantan mertuanya tersebut.


" Tidak aku tidak mau pergi aku tidak mau meninggalkan Papa pasti dia kesepian di sini Mas." 


Riko menghela nafasnya dia memejamkan mata berpikir dengan cara apalagi membujuk mantan istrinya itu supaya mau ikut kembali pulang ke rumah karena hari sudah mulai mendung hendak hujan deras.


" Jika kamu terus di sini lalu bagaimana dengan Andre? Aku yakin pasti dia begitu sangat sedih dan menangis karena jauh dari ibunya. Apa kamu tidak memikirkan Andre?" Benar mungkin dengan melibatkan Andre Olivia pasti mau mengikutinya pulang.


Dan benar saja mendengar nama anaknya disebut Olivia menghentikan tangisnya kemudian dia bangkit dari tanah menatap mantan suaminya itu.


" Papah kamu juga tidak ingin seperti ini Olivia. Tapi kita tidak bisa melawan takdir, aku yakin Allah memiliki rencana lain dibalik semua ini, dan kamu harus mengikhlaskan kepergian Papa agar supaya dia bisa tenang di sana." 


Riko menghapus air mata di wajah Olivia. 


" Kita hanya bisa mendoakannya semoga beliau tenang di sana dan diterima di sisi Allah. Ayo kita pulang kasihan Andre." 


Riko merangkul Olivia dan mengajaknya pulang dan ajaibnya Olivia menurut dengan berat hati dia melangkah pergi meninggalkan pemakaman tersebut kemudian wanita itu menoleh ke belakang melihat hanya nama ayahnya saja yang tertinggal.


" Selamat jalan Pah, maafkan Olivia selama ini. Semoga papa bisa tenang di sana dan jangan mengkhawatirkan Olivia lagi, dan Olive berjanji akan selalu bahagia sesuai keinginan papa." 

__ADS_1


__ADS_2