Penyesalan Seorang Istri

Penyesalan Seorang Istri
bab 27


__ADS_3

Rendy melihat kepergian Olivia bersama anaknya, wanita itu tidak sama sekali melihat atau menyapa dirinya. Tangan Rendy mengepal kuat, wajah sampai merah menahan emosinya. Apalagi melihat senyum dan tawa mantan istrinya itu yang terlihat sekali bahagia. 


" Dasar ******, kau bahagia diatas penderitaan ku!" Upatnya kesal. Ingin mengejarnya dan memberi nya pelajaran atas apa yang di alami saat ini. Karena wanita itu dirinya ditahan dalam penjara. Tetapi tidak bisa karena saat ini para polisi tidak akan membiarkan dirinya melangkah sedikit pun tanpa pengawasan ketat bahkan kedua tangannya saat ini di borgol. 


" Wah, wah. Liat siapa ini?" Rendy menoleh dia menatap kesal pada seseorang yang sedang menyapanya.


" Apa kabar mantan menantuku?" Tanyanya dengan nada mengejek, laki-laki itu adalah Burhan yang sengaja menghampiri mantan menantunya saat para polisi akan membawanya kembali ketahanan. 


" Kau terlihat jauh lebih baik sekarang," ucapnya lagi-lagi dengan nada mengejek. 


Burhan tersenyum puas melihat keadaan mantan menantunya yang semakin kurus dan wajah penuh lebam itu. Dia mendekatkan dirinya dan berbisik.


" Kalau aku jadi kamu, mending mati saja ketimbang menderita terus." Burhan menepuk pundak Rendy setelah berbisik. Dia tersenyum lebar merasa puas dendamnya terbalas. Tetapi dia masih belum menyudahi penyiksaan yang dia perintahkan untuk terus membuat Rendy sengsara di dalam penjara. Itulah balasan akibat sudah berani menyakiti anaknya.


Rendy menggertakan giginya, tangannya kembali terkepal kuat menahan amarahnya. Laki-laki itu menatap tajam kepergian Burhan. Rendy melihat senjata tajam berada di slip pinggang salah satu polisi. Walaupun dengan tangan yang diborgol tetapi dia masih bisa meraih senjata tajam. 


" Apa yang kau lakukan, hey!" Teriak salah satu polisi yang senjata tajam nya di ambil oleh Rendy. Dia hendak merebut kembali tetapi terlambat karena Rendy sudah melepaskan dua isi senjata tajam itu.


Dor … dor … terdengar dua tembakan hingga membuat semua orang berlarian dengan panik. Rendy langsung di kena tembakan di bagian tangannya hingga senjata tajam yang dia pegang itu jatuh, begitu pula dengan Rendy yang ikut tersungkur. Tetapi dia tertawa puas melihat hasil tembakannya tepat mengenai sasaran.


" Tidak … tidak Papah!" Ana histeris melihat suaminya tersungkur dengan badan yang penuh dengan darah akibat tembakan tepat mengenai punggung belakangnya. 

__ADS_1


Burhan sekarat, dengan cepat orang -orang segera membawanya ke rumah sakit. Ana pun dibawa karena dia pingsan saat ini karena syok.


" Papah …" begitu pula dengan Olivia yang tadinya sudah berada di dalam mobil dia melihat kejadian itu hingga membuatnya menjerit histeris padahal saat ini dia sedang menggendong anaknya. 


" Tidak, Papah. Papah …" Olivia terus berteriak histeris. 


" Olivia tenang, Olivia." Rico baru saja tiba dia langsung memeluk erat mantan istrinya yang sedang histeris tersebut hendak mengejar ambulans yang membawa papahnya ke rumah sakit. 


" Papah, Mas. Aku mau ke tempat papah," ujarnya memohon sambil terus menangis. Dia menatap Rico. 


" Iya, iya kita kerumah sakit sekarang. Tapi tenanglah, kasihan Andre dia ketakutan," ujar Rico lembut dia menenangkan Olivia yang masih dalam pelukannya. 


Rico mengambil alih untuk menggendong Andre karena anak tersebut tak kalah histeris nya akibat kaget dan takut mendengar ibunya berteriak tadi. 


" Jangan menangis lagi, kita doakan saja semoga papah tidak kenapa-napa." Rico menggenggam tangan Olivia kembali menenangkan, sementara Andre sudah mulai berhenti menangis dalam pangkuannya.


" Aku takut terjadi apa-apa sama papah, Mas. Aku tidak mau kehilangan nya," ucap Olivia cemas. 


" Papah adalah laki-laki yang kuat, jangan berpikir yang macem-macem. Papah pasti tidak akan kenapa-napa," yakin Rico. Dia masih setia menggenggam tangan mantan istrinya erat. 


Rico tidak menyangka jika Rendy nekat mencoba melakukan pembunuhan terhadap mantan mertuanya. Rico berpikir mantan sahabatnya itu yang sudah hampir setengah tahun membekam dalam penjara sudah ada perubahan untuk bertaubat. Tetapi ternyata dia salah, Rendy memang bukan lagi manusia tetapi iblis yang berbentuk manusia.

__ADS_1


Sesampai di rumah sakit, Olivia berlari dan untuk menanyakan dimana ruangan ayahnya saat ini. Setelah mengetahui jika Burhan ada di dalam ruangan operasi Olivia langsung bergegas lari menelusuri lorong rumah sakit tanpa menghiraukan Rico dan anaknya masih berada di belakang ketinggalan jauh darinya. Olivia ingin segera mengetahui kabar baik ayahnya itu.


" Mamah, Mamah bagaimana keadaan Papah?" Olivia langsung menghampiri mamanya yang sedang duduk menunggu di dekat ruang operasi sambil terus menangis.


Ana hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia sudah tidak sanggup lagi untuk bicara. Kemudian wanita itu kembali menangis, begitu juga dengan Olivia. 


" Papah …" Olivia memeluk mamanya erat kedua kini sama-sama menangis dalam pelukan.


Rico hanya diam berdiri tak jauh dari keduanya. Hatinya benar-benar sakit melihat kedua wanita itu tengah menangis, sambil terus menggendong Andre yang sudah tidur dalam gendongannya. Rico perlahan mendekat ke arah mereka.


Tak lama kemudian pintu ruangan operasi di buka oleh seseorang yang memakai baju berwarna hijau serta memakai masker. Dengan cepat Olivia berdiri dan menghampiri orang itu.


" Dokter bagaimana keadaan Papah saya?" Tanya Olivia tak sabaran.


" Dokter suami saya baik-baik saja kan?" Kini giliran Ana yang bertanya, dia sangat berharap semoga tidak terjadi apapun terhadap suaminya itu.


Dokter itu melepaskan masker di wajahnya dia melihat wajah kedua wanita yang begitu cemas dan sangat khawatir terhadap dengan pandangan sedih. Dokter itu menghela nafasnya panjang.


" Operasi berjalan lancar, namun keadaan beliau masih dalam keadaan kritis. Kami sudah melakukan sebisa kami sebagai dokter, untuk keselamatannya kita serahkan saja pada yang maha kuasa, dan berdoa berharap pak Burhan bisa melewati masa kritisnya." Dengan berat hati dokter itu mengatakan yang sebenarnya.


" Ya Allah, Papah." Olivia menutup mulut, rasa khawatir kembali menghantui nya. Sementara Ana dia sudah duduk di lantai sambil menangis. Walaupun operasi nya berjalan lancar tetapi keadaan masih kritis belum membuat hatinya tenang.

__ADS_1


" Olivia …" Rico membawanya ke dalam pelukan. Dalam hatinya berdoa berharap mantan mertuanya itu selamat. 


__ADS_2