
" Olivia Mama boleh bicara?" Tanyanya dengan nada serius.
" Kenapa kamu menolak pergi bulan madu bersama Riko Olivia?" Langsung bertanya pada intinya.
Olivia menatap mama Ana, kemudian dia menghela nafasnya. Kok mama bisa tahu apa mungkin Rico mengadu, tapi apa iy? Olivia bertanya dalam hatinya.
" Mama kan tahu jika pergi bulan madu berarti Olive harus meninggalkan Andre. Andre masih kecil, apalagi dia belum pernah berpisah dari Olive, Olive takut dia kenapa-napa," ujar Olivia, dia meraih bawang merah laku mengusap kulitnya.
" Kan ada Mama yang menjaga Andre, apa kamu tidak percaya sama Mama?" Kesal dengan alasan anaknya, Ana mencuci sayuran yang habis dia potong tadi.
" Bukannya tidak percaya, tapi Olive rasa pergi bulan madu itu tidak terlalu penting."
" Apa nya yang tidak terlalu penting." Sambil membanting mangkok, Ana begitu sangat marah.
" Kalian baru saja menikah Olivia, tentu saja bulan madu itu begitu penting untuk kalian. Apa kamu tidak menghargai jasa suami kamu, dan juga mertua kamu? Dan asal kamu tahu Riko sudah merencanakan semua ini sejak dulu Olivia, dan sekarang kamu malah mematahkan semangatnya." Ana menarik nafasnya kemudian menghembuskan nya dalam.
" Mama tidak mengerti di mana jalan pikiran kamu Olivia, apa kamu ingin mengulangi kesalahan lagi dan mengecewakannya?" Mulut bicara tangannya tetap bekerja. Ana memotong -motong wortel dengan kesal.
Olivia bungkam, bahkan dia sampai menghentikan mengupas kulit bawangnya melihat sang mamah yang begitu sangat marah. Olivia bukan tidak ingin mengecewakan suaminya itu, hanya saja dirinya tidak ingin jauh-jauh dari anaknya, itu saja. Apa dirinya salah?
" Dan apa kamu tahu Olivia, jika Rico sama sekali tidak menyalahkan kamu. Justru malah dia menyalakan dirinya sendiri karena tidak memikirkan perasaanmu," ucap Ana, nadanya sudah mulai merendah.
" Sekarang lebih baik kamu jelaskan pada mertua kamu atas penolakan kamu pergi bulan madu. Karena mereka yang sudah menyiapkan semuanya." Ana tidak ingin membuat besannya itu kecewa, jadi dia menyuruh Olivia untuk menjelaskan pada mereka.
" Pergilah, cuci dulu tangan kamu. Biar Mama yang akan memasak." Sambil mengambil alih pekerjaan Olivia, Ana mengusir anaknya pergi dari dapur untuk mendatangi mertuanya.
Olivia tidak membantah sama sekali, dia tahu jika saat ini mamanya itu sedang marah padanya. Olivia memilih menurut dari pada terus di omeli. Sebelum mendatangi mertuanya yang sedang bermain dengan Andre, Olivia mencuci tangannya menggunakan sabun karena bekas mengupas bawang, dia tidak ingin kan bau bawang tersebut tercium oleh kedua mertuanya itu.
Setelah selesai Olivia mengelap tangan sampai kering, dia melihat ke arah ruang keluarga. Saat ini mama Sinta sedang mengajari anaknya berjalan sementara mertua yang laki sedang duduk di sofa dengan kaki bersila sambil merekam istri dan cucunya. Olivia menarik nafasnya dalam, kemudian ia hembuskan lalu mulai melangkah menuju ruang keluarga.
" Wah kelihatan bya asik banget, Andre lagi bermain sama Oma dan Opah ya." Olivia duduk di matras dia basa basi berbicara pada anaknya.
" Olivia, dimana Rico?" Tanya mama Sinta. Dia terus memegangi Andre karena cucunya itu hendak berdiri.
" Mas Rico lagi tidur Mah, mungkin kecapean. Nanti sebelum maghrib Olive bangunkan." Olivia bertepuk tangan melihat tumbuh kembang anaknya semakin baik.
" Kenapa kamu gak istirahat juga, kamu pasti capek. Biar Andre kami yang menjaganya," imbuh Wisnu. Laki-laki itu begitu pengertian dengan menantunya.
" Tidak, Olive tidak bisa tidur di jam seperti ini. Yang ada nanti malam bakalan begadang karena tidak mengantuk lagi."
" Aduh bukannya itu bagus, kalian bakalan bermain di waktu yang lama … ups." Mama Sinta menutup mulutnya, dia keceplosan lalu menyengir sambil garuk-garuk kepalanya.
Olivia hanya tersenyum malu saja dengan wajah yang merona.
" Kamu ini Mah, liat tuh menantu kita sudah sangat merah wajahnya," canda Wisnu, mama Sinta pun tertawa kecil.
" Tapi betul kan," godanya, mereka pun tertawa. Sementara Olivia hanya tersenyum saja. Dia bingung bagaimana cara menjelaskan penolakannya yang sudah di rencanakan Rico ingin pergi bulan madu itu. Rasanya tidak enak melihat mereka yang begitu baik.
" Oh iya Olivia, sebenarnya Rico sudah meminta Papa untuk menyiapkan villa. Tapi jika kamu tidak ingin pergi ya sudah, biar Mama sama Papa yang akan kesana," ucap Wisnu sambil menghirup kopi nya.
" Loh kok kita?" Sahut Sinta.
__ADS_1
" Iya, lagi pula kita kan sudah lama tidak pergi bulan madu," goda Wisnu sambil mengedipkan sebelah matanya. Sinta pun tersipu malu.
" Baiklah, lagi pula bulan madu untuk semakin mempererat hubungan kita. Walaupun sudah tua tapi pergi berdua untuk berbulan madu sangatlah penting dalam rumah tangga agar supaya langgeng sampai akhir hayat." Sinta duduk disamping suaminya, mereka begitu terlihat sangat romantis sekali padahal usia tidak lagi muda.
" Sesibuk apapun pekerjaan, sedekat apapun hubungan dengan anak tetapi ada waktunya untuk kita berduaan saja." Sinta menyandarkan kepalanya di bahu Wisnu.
Olivia terdiam sambil memangku Andre. Dia menyadari kesalahannya pasal menolak mentah keringanan suaminya itu. Olivia sadar, orang pergi bulan madu bukan hanya untuk awal pengantin baru yang belum memiliki anak saja. Ternyata usia sudah tidak muda lagi pun memerlukan waktu pacaran agar supaya semakin mempererat hubungan suami istri. Olivia begitu bodoh, dirinya lagi-lagi hanya mementingkan egois nya saja.
" Emmm … Pah, Mah. Olivia minta maaf, tapi tolong biarkan kami yang pergi ke villa itu untuk berbulan madu," ucap Olivia gugup, dia benar-benar sangat malu sekali di hadapan kedua mertuanya itu.
Sinta dan Wisnu saling pandang, keduanya mengaktifkan sebelah mata kemudian tersenyum penuh makna.
" Loh bukannya kamu tidak setuju untuk pergi bulan madu bersama Riko?" Tanya Sinta.
" Kalau kamu memang tidak setuju, nggak apa-apa jangan dipaksakan. Lagipula tidak bagus juga jika memaksakan diri, jiwa dan ragamu disana, tapi pikiran dan hati kamu merasa tidak tenang. Kami takut nantinya akan semakin membuat Rico sangat merasa bersalah," lanjut Sinta. Dia ingin memastikan saja.
" Olivia tidak menolaknya, hanya saja Olivia tidak tega meninggalkan Andre. Apalagi dia baru saja sembuh dari sakitnya. Tapi melihat dia begitu senang dan sangat ceria Olivia yakin jika Andre tidak akan mencari Olivia saat ditinggal nanti, mungkin inilah saatnya agar dia belajar untuk tidak terlalu menempel dengan Olivia."
Olivia memberikan mainan kepada anaknya yang sedang nyerocos tidak karuan itu Andre sama sekali tidak menampakkan wajah sedihnya bahkan Andre tidak ingin berada di pangkuannya malah anaknya itu ingin lepas bebas dan bermain sendiri.
Sinta dan Wisnu tersenyum kemudian mereka mengganggu memberikan kunci villa yang sudah mereka kepada Olivia. Sebenarnya Sinta dan Wisnu memang sengaja berkata demikian untuk menyindir menantunya itu dan ternyata berhasil dalam hati mereka dan mereka akan meminta bonus pergi ke Jepang ada sebagai imbalan hadiah karena sudah berhasil membuat Olivia menyetujui pergi berbulan madu.
" Terserah kamu saja yang penting jangan terlalu khawatir soal Andre Mama akan membantu Mama Ana untuk menjaganya bahkan jika perlu Mama akan menginap di sini." Dengan tulus wanita itu sangat menyayangi cucunya walaupun bukan cucu kandung tetapi mereka begitu sangat senang saat bersama dengan Andre.
" Terima kasih Mah, Pah. Olivia akan bicarakan lagi dengan mas Riko."
" Baiklah pergilah ke kamar bicaralah baik-baik dengan suamimu, lagi pula sebentar lagi waktunya magrib Sudah saatnya anak nakal itu bangun takutnya nanti kebablasan." Sambil mengusap lembut pucuk kepala Olivia. Sinta tersenyum lembut penuh kasih sayang.
Perlahan Olivia naik ke tempat tidur lalu memandangi wajah suaminya yang sangat begitu tampan perlahan tangan Olivia mengelus dengan lembut.
" Suamiku begitu tampan, mengapa aku begitu bodoh bisa sampai mau berpaling darimu Mas. Dan hampir saja Aku kehilanganmu, maafkan aku ya." Kemudian Olivia mengecup lembut bibir suaminya.
Saat hendak mengangkat wajah tiba-tiba tangan kekar menahan Tengkuk lehernya dan melahap bibirnya habis. Suaminya itu walaupun mata terpejam. Tapi tetap saja bibirnya terus bergerak mencecap dan melahapnya hingga Olivia membuka mulutnya dan membalas ciuman yang diberikan oleh suaminya itu hingga lidah mereka menari-nari di dalam sana.
" Sejak kapan kamu bangun Mas?" Dengan nafas ngos-ngosan Olivia mengusap mulutnya yang basah dia tidak tahu jika suaminya itu sudah bangun entah sejak kapan.
" Sejak tadi saat kamu membuka pintu," ujarnya tersenyum lebar. Jarak mereka masih begitu dekat, posisi mereka pun masih rebahan dengan Olivia yang di atas tubuh Riko.
" Dasar curang Aku pikir kamu masih tidur nyenyak tadi." Sambil mencubit perut suaminya karena sudah berhasil mengerjai dirinya dia sangat malu sekali bahkan tadi sempat mengucapkan penyesalan ya yang hampir kehilangan selamanya suaminya itu.
" Hehehe kalau nggak begitu kamu nggak mungkin dong mau mencium aku duluan," ujarnya semakin mempererat pelukannya. Olivia tersenyum lalu dia merebahkan kepalanya di dada suaminya yang bidang itu.
" Mas …"
" Hemmm …" Olivia diam sejenak..
" Ayo bangun terus mandi bentar lagi waktunya magrib habis itu kita sholat bersama berjamaah." Sebenarnya Olive ingin mengatakan jika dirinya setuju untuk pergi berbulan madu di puncak namun biarlah itu menjadi kejutan saja di hari esok.
Kemudian Alifia bangkit dia menarik tangan suaminya karena Riko belum juga bangkit dari tidurnya.
" Ayo Mas bangun, dasar pemalas."
__ADS_1
" Mandiin," mintanya dengan manja Olivia pun menggeleng kemudian dia berlari lalu menjulurkan lidahnya saat dirinya sudah diambang pintu.
" Weeeek, mandi sendiri." Kemudian menutup pintu.
Riko hanya menggeleng-geleng Sambil tertawa saja, kalau dia bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah menuju kamar mandi untuk segera mandi karena waktu memang sudah magrib dan lagi pula dirinya sudah begitu sangat lengket sekali.
Setelah usai salat berjamaah Olivia melipat mukenanya lalu dia membantu pelayan rumahnya untuk menyiapkan makan malam bersama sementara Riko masih menggunakan sarung dan juga peci dia menghampiri sang anak yang sedang bermain yang ditemani oleh pengasuhnya.
" Kamu pergilah shalat, biar saya yang akan menemani Andre," perintahnya pada Mbak Eni pengasuhnya Andre.
" Terima kasih Pak." Mbak Eni pun bergegas menuju kamarnya untuk melaksanakan salat magrib.
" Anak Papah yang tampan udah pintar sekali sekarang ya nggak nangis lagi." Dengan gemas Riko mencium pipi gembul Andre. Anaknya tertawa bahkan mengoceh tak jelas. Andre mengambil salah satu mainan di sampingnya kemudian ia memberikannya kepada Riko.
" Untuk Papah? Duh baik sekali terima kasih ya." Kembali mengecupi gembulnya kemudian dariku mengambil mainan yang diberikan oleh anaknya tersebut lalu mereka bermain bersama sampai waktunya Olivia memanggil untuk makan malam yang sudah disiapkan.
Malam hari pun telah tiba Sinta dan juga Wisnu sudah berpamit untuk pulang mereka tidak bermalam di rumah Ana karena besok sudah kembali bekerja. Dan sekarang Olivia sedang menidurkan anaknya setelah Andre terlelap Olivia pun membawa Andre ke box bayi lalu menutupinya dengan selimut kemudian mengecupnya dengan lembut di bagian kening.
" Selamat malam sayang tidur yang nyenyak ya, Nak." Perlahan Olivia meninggalkan kamar Andre dan pergi ke kamarnya sendiri yang ada di sebelahnya. Saat membuka pintu kamarnya ia melihat suaminya setengah memangku laptop dia tersenyum saat suaminya mendengar kemudian melambaikan tangan menepuk tempat tidur agar dirinya duduk di samping suaminya itu.
" Andre sudah tidur?" Tanya Riko dia melepaskan kacamatanya kemudian merentangkan tangan agar Olivia duduk bersandar di dalam pelukannya.
" Iya Mas, kamu masih sibuk?" Tanya Olivia dia tidak ingin mengganggu kesibukan suaminya.
Berikut tersenyum kemudian dia mengecup kening Olivia sekilas lalu menutup laptopnya karena dia ingin berduaan dengan istrinya itu ketimbang bekerja yang bisa dilakukan hari esok.
" Belum selesai tapi besok Mas bisa melanjutkannya lagi pula tidak terlalu penting kok karena sebagian sudah dikerjakan oleh papa dan juga Sofyan." Sofyan adalah asistennya yang selama ini membantu dirinya mengurus perusahaan saat berada di rumah sakit.
" Oh …" Olivia manggut-manggut." Aku hanya tidak ingin mengganggu kamu bekerja."
Riko menggeleng kemudian dia meraih wajah istrinya lalu mengecup bibir Olivia yang terasa begitu manis itu yang membuatnya candu.
Olivia memejamkan kedua matanya kemudian tangannya melingkar ke leher Riko dan membalas ciuman Riko dengan hangat dan lembut.
" Ayo, sebaiknya kita juga tidur agar supaya besok badan terasa lebih sehat," ajak Riko setelah mencium istrinya dia mengusap lembut bibir yang basah itu kemudian mengecup kembali kening Olivia lalu mengajaknya untuk tidur karena jam sudah pukul 09.00 malam. Riko tidak ingin istrinya itu kecapean karena Riko tahu berapa hari ini Olivia kurang tidur.
Olivia tertegun dengan suaminya yang mengajak dirinya tidur bukan untuk melakukan hubungan suami istri yang sudah tertunda selama 3 hari.
" Tidur?" Ucapnya tak percaya. Riko menyerngit dia menatap istrinya penuh tanda tanya.
" Kenapa kamu mau ngajak aku begadang, hem?" Canda Riko. Sebenarnya dia ingin sekali begadang malam ini tetapi dia tidak ingin memaksa karena mengerti keadaan Olivia yang pasti sangat lelah sekali karena selama 3 hari di rumah sakit kurang tidur.
Riko membeli surai rambut istrinya yang hitam panjang. Lalu mengecup ujung rambutnya.
" Aku tahu kamu capek jadi aku tidak akan meminta aku malam ini."
Mata Olivia berkaca-kaca dia begitu sangat bodoh karena dulu Sudah menghianatinya padahal suaminya itu begitu sangat pengertian sekali. Dan dirinya hampir saja melakukan kesalahan yang sama lagi karena menolak pergi bulan madu padahal kesempatan itulah dirinya menyenangkan suami tetapi Dengan bodohnya dan dengan egoisnya Olivia tidak menyetujui ajakan suaminya itu yang ingin pergi berbulan madu padahal hanya cuma dua hari saja seharusnya tidak masalah mengingat Andre sudah sehat dan kembali ceria seperti sedia kala.
" Hey, kamu kenapa?" Riko kaget melihat air mata istrinya mengalir membasahi wajah cantiknya. Dengan cepat Riko mengusap air mata tersebut.
" Aku minta maaf Mas, aku bener-bener minta maaf," ucapnya menangis.
__ADS_1
Riko kebingungan maaf untuk apa bahkan sampai istrinya itu menangis apa Olivia kembali melakukan kesalahan tetapi kesalahan apa selama ini semuanya baik-baik saja berikut tidak mengerti.