
Pagi harinya Lilis sudah sibuk dengan peralatan dapur, dia berniat membuatkan sarapan untuknya dan juga Arya. Lilis masih harus berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan hati Arya. Lilis memasak nasi goreng yang di buat seistimewa mungkin. Sementara Arya masih di dalam kamar dia kembali berbaring setelah melaksanakan sholat subuh tadi. Arya merasa hatinya hampa sekarang tanpa kehadiran Siti dan anaknya Hanan, namun Arya sadar semua ini terjadi karena kesalahannya. sekarang yang harus di lakukan Arya adalah memperbaiki sifat dan sikapnya, karena rasa peduli yang berlebihan hingga akhirnya keluarganya yang hancur. Arya juga harus tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang ayah untuk terus memberi nafkah kepada anaknya. Arya beruntung karena Siti tidak melarangnya untuk berbicara bersama Hanan lewat telepon dan Siti juga tidak membenci Arya tapi, Arya tau jika Siti begitu kecewa dengan sikap Arya. Sekarang Arya ingin menjadi ayah yang baik untuk anaknya Hanan dan juga Zia, bagaimana pun Zia sudah menjadi anaknya sekarang.
Ketika Arya masih sibuk dengan pikirannya tiba-tiba pintu kamar terbuka.
"Mas, ayo kita sarapan sekarang!" ajak Lilis sambil berjalan menghampiri Arya yang sedang berbaring di atas ranjang. Arya mengangguk dan mulai beranjak dari tempatnya semula menuju dapur.
Sesampainya di dapur Arya melihat jika Lilis sudah memasak nasi goreng, Arya tersenyum melihatnya sambil melirik Lilis yang sudah duduk di hadapannya. Arya berusaha untuk setia dengan Lilis, Arya tidak mau kesalahannya terulang kembali.
Setelah mengambilkan nasi goreng Lilis memberikan kepada Arya.
"Ayo di makan mas nasi gorengnya"
Arya hanya mengangguk, Arya sekarang lebih banyak diam, tidak seperti saat dia masih bersama Siti yang selalu ada saja yang membuatnya ingin tertawa, entah itu karena tingkah anaknya ataupun tingkah konyolnya saat bersama Siti.
Lilis tau jika Arya masih sering memikirkan Siti, namun Lilis berusaha untuk tetap sabar dia tidak mau karena sikapnya yang sering bar bar akhirnya membuat Arya hilang respek kepadanya.
...****************...
Sementara itu di kediaman orang tua Siti, mereka juga sedang sarapan.
"Siti bapak sudah mendengar niat mu yang ingin membuka rumah makan di tanah yang ada di depan itu dari ibu, bapak setuju jika kamu mau membuka usaha di sana. Sekarang yang ingin bapak tanyakan apa kamu memiliki uang untuk membuka usaha mu itu? jika kamu belum punya uang kamu bisa memakai uang yang sudah bapak tabung untuk di hari tua nanti"
Siti tersenyum mendengarnya, orang tuanya masih sangat peduli kepadanya, Hanan dan juga Ari.
"Aku punya kok pak uang untuk membuka usaha, aku selalu menabung setiap mas Arya memberi uang untuk keperluan pribadi aku dan juga aku masih ada simpanan saat aku masih kerja dulu, mas Arya tidak boleh menggunakan uang itu Mas Arya menyuruh aku untuk tetap menyimpannya. Di tambah lagi aku juga punya penghasilan dari menulis cerita online yang sebenarnya tidak pernah di ketahui oleh mas Arya. Aku rasa uang itu cukup untuk membuka usaha, aku kan juga punya kontrakan yang sudah mas Arya kasih untuk aku dan Hanan."
"Baiklah jika kamu mau menggunakan uang kamu sendiri tapi, yang perlu kamu ingat jika kamu butuh bantuan bapak dan ibuk jangan sungkan untuk memberi tahu dan juga jika uang mu tidak cukup kamu juga bisa memberi tahu bapak" ucap pak Ali.
Siti menganggukkan kepalanya mendengar ucapan pak Ali tadi. Ada rasa haru di dalam hatinya.
"Oh ya pak, gimana kalau kita pergi melihat tanahnya sekarang aja, mumpung hari masih pagi nanti kita bisa tau apa saja yang harus kita lakukan untuk membangun rumah makan
__ADS_1
"usul Ari.
Siti dan pak Ali setuju dengan ide Ari jika di tunda-tunda maka akan lama juga jadinya rumah makan itu.
"Buk, nanti ibu temani Hanan ke sekolah ya, kita berangkat sama-sama tapi, jika Hanan sudah selesai sekolahnya ibuk langsung pulang aja ya"
Ibu Samsiah menganggukkan kepala pertanda bahwa ia setuju.
Setelah selesai sarapan dan mencuci piring, mereka bersiap untuk mengantar Hanan dan ibu Samsiah ke sekolah. Mereka menaiki mobil milik pak Ali yang di kemudikan oleh Ari.
Sesampainya di sekolah Hanan dan ibu Samsiah pun turun dari mobil, sebelum turun dari mobil Hanan menyalami kakek, Om dan juga mamanya.
"Belajar yang rajin ya nak, doa kan supaya usaha mama bisa berjalan dengan lancar ya"
"Iya ma, nanti kalau mama sudah punya uang kita main ke rumah papa ya ma, aku kangen sama papa" akhirnya keluar juga isi hati bocah usia lima tahun ini yang ternyata merindukan papanya yang sekarang sudah menjadi papa orang lain.
"Ya sayang, nanti kalau mama sudah punya uang kita ke rumah papa. Sekarang kamu harus rajin belajar biar bisa buat papa bangga sama kamu" ucap Siti sambil mengelus puncak kepala sang putra. Setelah mengatakan itu Hanan turun dari mobil dan melambaikan tangannya saat mobil beranjak pergi meninggalkan lingkungan sekolah.
Mobil Pun berhenti di sebuah warung kopi yang ada di dekat tanah pak Ali.
Siti dan Ari hanya mengikuti pak Ali dari belakang.
"Waalaikumsalam, pak Ali" pak Mahmud pun berdiri setelah mendengar salam dari bapak.
" Apa kabar pak Mahmud" tanya bapak kepada pak Mahmud.
"Alhamdulillah baik pak Ali. Tumben sekali pak Ali ke sini, kira-kira ada apa ya?
"Gak ada apa-apa pak Ali, kita ke sini cuma mau melihat tanah saya yang ada di sini"
"Pak Ali itu harusnya buka usaha di tanah bapak itu, soalnya lokasi tanah bapak kan strategis"
__ADS_1
"Oleh sebab itu saya ke sini pak Ali, si Siti punya niat mau membuka rumah makan di atas tanah itu, sekarang kita mau melihat lokasi tanahnya dan menata konsep rumah makan seperti apa yang bagusnya"
"Wah bagus itu jika Siti mau membuka usaha di sana, jadinya kan di sini bisa bertambah ramai" ujar pak Mahmud.
"Baik lah kalau begitu saya permisi dulu ya pak Mahmud mau lihat-lihat lokasinya dulu."
Setelah berpamitan kepada pak Mahmud mereka pun kembali menuju lokasi yang akan di tuju.
Sesampainya di sana, mereka pun turun dari mobil.
"Bagus ya pak lokasi ya di sini, tanah ini letaknya begitu strategis karena berada di persimpangan tempat lalu lalang orang ramai dan juga dekat sama kampus, kost-an mahasiswa dan juga dekat sama SMA" ucap Siti. Dia terus mengamati lokasi sekitar, nampak banyak kendaraan yang sedang berlalu lalang.
"Mbak, konsep rumah makannya nanti yang milenial gitu ya mbak, soalnya sekarangkan sesuatu harus unik, dan jangan lupa kebersihan rumah makan yang tetap harus di jaga"ucap Ari.
"Kamu punya ide gak bagusnya gimana, supaya rumah makan kita bisa ramai?" tanya Siti.
"Oh ya mbak, aku punya teman yang mungkin bisa membantu kita dalam menyelesaikan masalah ini"
"Siti gimana kalau konsep rumah makan ini nantinya yang agak asri gitu, kita buat rumah makan ini dari bambu saja atapnya dari daun biar sejuk. Terus nanti buat juga kolam ikan, san tempat bermain untuk anak-anak. soalnya tanah ini kan lapang, jadi dari pada kosong dan membosankan lebih baik kita buat sesuatu yang menarik" ucap pak Ali panjang kali lebar.
"Aku setuju sama ide bapak, nanti biar aku ajak teman aku ke sini untuk melihat-lihat konsep yang bagusnya seperti apa, karena teman ku itu jurusan arsitek. gimana menurut mbak Siti setuju gak?"
"Aku setuju" jawab Siti.
"kita akan membuat rumah makan yang bagus tapi tetap ada kesan sederhananya, dan juga kita harus mencari karyawan yang bisa ramah kepada setiap pengunjung tanpa membeda- bedakan mereka. Dan kita juga harus menyesuaikan harganya dengan kantong para mahasiswa. kamu ingat jangan lupa untuk terus membantu mbak ya!" tunjuk Siti kepada sang adik.
Ari mengangkatkan tangannya memberi hormat kepada Siti. Pak Ali tersenyum melihatnya.
"Ya sudah, sekarang kita pulang dulu besok kita pikirkan lagi, apa saja yang harus kita lakukan" ucap pak Ali sambil berjalan menuju mobil.
Setelah mereka masuk ke dalam mobil, mereka beranjak dari lokasi tersebut menuju rumah.
__ADS_1
...*Mohon untuk terus mendukung karya ku ya......
mohon maklumi jika ada banyak kesalahan dalam penulisan. Author amatir ini menerima saran dan kritikannya. Namun mohon untuk jangan di hujatπππ*