Pergilah Mas

Pergilah Mas
Bab 36


__ADS_3

Setelah kepergian Siti akhirnya mereka bertiga melanjutkan obrolan mereka yang tertunda dan berakhir dengan kerjasama yang mereka katakan kepada Siti tadi.


Hanan masih sibuk bermain, dia terlihat senang apa lagi dia memiliki teman bermain seumuran dengannya.


Anak anak dari para pengunjung rumah makan Siti ini terlihat senang bisa bermain di taman yang terdapat banyak mainan dan orang tua mereka bisa menyantap makanan dengan tenang sambil mengawasi anak mereka yang sedang bermain.


Arya akan membuka cabang restoran di sini dengan bantuan dari Andre dan juga Rian.


"Eh Rian, di antara kita bertiga kamu kan yang paling kecil.


Kok bisa sih kamu suka sam Siti yang umurnya lebih tua dari kamu?"


Tiba tiba saja Andre bertanya kepada Rian mengapa dia bisa menyukai Siti yang di ketahui umurnya lebih tua dari Rian.


"Memangnya ada larangan menyukai eanita yang umurnya di atas kita?"


"Gak sih, cuma heran aja. Biasanya anak seumuran kamu masih sibuk menghabiskan waktu untuk berpacaran tanpa memikirkan masa depan"


"Itu kan mereka bukan saya. Jadi mas Andre tidak bisa menyamakan semua kaum milenial seperti saya ini dengan mengatakan jika saya masih muda dan harus menghabiskan waktu dengan hal yang tidak penting apalagi itu urusan wanita.


Saya hanya ingin mencari istri tidak mencari pacar.


Percuma pacaran bahkan rela sampai bertahun tahun tapi ujung ujungnya pisah.


Lebih baik jika suka langsung di katakan saja sama yang punya badan.


Saya menghormati wanita makanya saya tidak mau pacaran, jika suka sama suka langsung nikah aja tanpa adanya pacaran."


"Hebat juga pemikiran kamu, Yan."


Arya memuji Rian, menurutnya benar apa yang di katakan Rian percuma pacaran kalau ujung ujungnya berpisah, lebih baik jika suka langsung diucapkan saja.


Tanpa sadar mereka bertiga semakin akrab dan larut dalam obrolannya. Bahkan Hanan pun sudah mulai mau bercengkrama bersama Andre dan juga Rian meskipun terlihat jika dia masih malu malu.


Ari yang melihat sahabat, mantan suami kakaknya bahkan temannya Rian semakin akrab saja.


Bahkan sesekali mereka tertawa bersama.


Ari mendekati Siti dan berkata.


"Mbak mulai saat ini siap siap saja"


"Memangnya mbak harus bersiap siap untuk apa?"


Siti benar benar bingung dengan ucapan Ari.


"Mbak lihat mas Arya, mas Andre dan juga Rian?"


Siti menganggukkan kepalanya pertanda jika dia sedari tadi sudah melihat mereka bertiga.


"Terus masalahnya apa? Sehingga mbak harus bersiap siap"


"Masalahnya mereka bertiga suka sama mbak, dan mbak juga harus menyiapkan hati dan mental mbak mulai saat ini.


Karena, mereka bertiga tentunya akan berusaha mendapatkan mbak"


"Kamu ngomong apa sih, Ri. Mereka bertiga itu cuma mengobrol biasa aja, dan hal ini tentunya tidak ada kaitannya sama mbak"

__ADS_1


"Mbak aku ini laki laki"


"Lah yang bilang kamu banci siapa"


Siti menggoda adik satu satunya.


"Aku kan juga gak bilang kalau aku banci mbak. Maksud aku itu, aku itu laki laki"


Siti dengan cepat memotong ucapan Ari sebelum dia meneruskan apa yang mau di ucapkan. Bagi Siti menggoda adiknya ini sungguh menyenangkan.


"Yang bilang kamu banci siapa. Kan mbak gak bilang. Kamu memang laki laki kan?"


"Tau ah, bikin kesel aja mbak ini"


Ari hendak pergi meninggalkan Siti yang telah membuatnya kesal.


Namun sebelum Ari pergi menjauh darinya dengan cepat Siti menarik kerah baju belakang sang adik.


"Gitu aja merajuk. Katanya laki laki.


Laki laki kok hobinya merajuk


"


Siti masih saja menggoda Ari.


"Mbak yang mulai duluan"


"Ya, ya ya mbak salah.


"Gak jadi. Udah basi"


"Yakin mau marah sama mbak. Nanti mbak gak akan kasih kamu uang jajan lagi, mau?"


"Mbak kok bawa bawa uang jajan ku sih. Jangan di potong dong mbak. Kasihanilah aku."


Meskipun Ari sudah punya penghasilan sendiri namun uang yang di berikan oleh Siti selalu dia tabung. Katanya buat melamar calon istri yang masih di dunia antah berantah.


Bagi Ari mendapatkan uang hasil keringat sendiri adalah suatu kebanggaan. Tapi, mendapatkan uang dari kakaknya adalah suatu nikmat yang membahagiakan.


Setuju gak readers sama pendapat Ari. Hehehe...


"Mbak dengerin ya. Pokoknya jangan di potong sebelum aku selesai ngomongnya!"


"Ya, ya cepetan mau ngomong apa kamu?".


"Aku cuma mau bilang mbak harus siapin mental. Karena sebentar lagi mbak akan di kelilingi sama babang tamvan dan juga tajir melintir. Aku sedari tadi memperhatikan mereka bertiga. Mereka terus saja melihat ke arah mbak. Itu berarti mereka sudah tau akan perasaan mereka masing masing dan saat ini tentunya mereka akan berusaha untuk mendapatkan hati mbak. Gitu maksudku tadi"


"Ooo itu. Mbak gak mau ambil pusing akan hal itu. Yang terpenting bagi mbak adalah Hanan sehat shat terus dan selalu tersenyum bahagia seperti sekarang"


Siti melihat ke arah sang putra yang sibuk bermain di taman bersama teman barunya.


Ada rasa senang di hati melihat semua itu.


"Dan sumber kebahagiaan Hanan itu ada pada mas Arya. Apa mbak mau rujuk lagi sama mas Arya?"


"Entah lah, mbak gak tau akan hal itu. Biar waktu yang menjawabnya."

__ADS_1


Siti benar benar bingung akan perasaannya jika itu mengenai Arya dia tidak apa dia masih cinta atau perasaan itu audah sirna.


"Memangnya mbak mau menjanda seumur hidup"


"Kamu doanya kok jelek sama kakak sendiri"


Siti langsung menjewer telinga Ari, sehingga Ari mengaduh kesakitan.


"Aku kan cuma memastikan pilihan mbak.


Mau punya suami lagi atau menjadi janda seumur hidup"


Siti menjewer telinga Ari dengan sedikit keras.


Sungguh kesal rasa hatinya mendengar ucapan adiknya ini.


Meskipun dia bertanya apakah harus mengatakan jika dia mau menjadi janda seumur hidup.


Tidak ada yang mau menjanda ataupun menduda seumur hidup.


Hanya saja Siti belum tau akan hatinya saat ini harus berlabuh kepada siapa.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Di sisi lain terlihat Lilis yang begitu berbeda.


Ya, akhirnya Lilis memilih untuk belajar ilmu agama, dan dia sudah menceritakan semua kesalahannya di masa lalu kepda seorang ustadzah yang akan membimbingnya.


Kini penampilan Lilis benar benar tertutup, da menggunakan pakaian syar'i yang di berikan oleh ustadzah tersebut.


Lilis begitu senang akhirnya ada tempat yang mau menerimanya yang telah berlumuran dosa ini.


Sekarang Lilis berusaha untuk istikomah untuk menjadi yang lebih baik lagi dari sekarang.


Lilis mulai belajar mengaji bersama ustadzah Ana.


Dan Lilis juga membantu di dapur di pesantren tersebut untuk meringankan biayanya.


Dari hasil membantu inilah dia bisa makan dan menyisihkan sedikit uang untuk jajan Zia dan persiapannya melahirkan nanti, meskipun Lilis masih punya uang, tapi itu untuk jaga jaga saat persalinannya nanti.


Lilis sadar jika kesalahannya begitu banyak, dan dia bertaubat dan memohon ampun kepada sang penguasa.


Suatu saat nanti dia akan meminta maaf kepada orang orang yang telah dia sakiti.


Sekarang Lilis sudah mulai belajar mengaji, belajar tentang adab dengan semua orang.


Jika dulu Lilis terkenal selalu ceroboh sekarang dia berusaha memperbaiki itu.


Dia tidak mau karena kecerobohan dan ketamakannya maka anaknya yang menjadi korban.


Lilis juga menceritakan jika anak yang di kandungnya adalah hasilnya menjual diri dan laki laki tersebut tentunya tidak akan mau bertanggung jawab.


Ustadzah Ana hanya menasehati Lilis agar dia mau bertaubat dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.


Ustadzah Ana juga mengatakan setiap manusia pernah berbuat salah dan setiap manusia tidak terlahir dengan sempurna.


Hanya saja mereka yang mau bertaubat dan berjanji untuk tidak mengulanginya lebih mulia dari mereka yang menyombongkan ibadahnya.

__ADS_1


__ADS_2