
Lilis kembali pulang ke rumah orang tuanya karena dia tidak memiliki tempat tujuan selain rumah orang tuanya dan sekalian bertemu Zia yang di titipkan kepada orang tuanya.
"Assalamualaikum" ucap Lilis dengan suara bergetar karena habis menangis setelah di usir oleh Arya dan juga karena dia takut orang tuanya marah kepadanya.
Saat memasuki rumah orang tuanya Lilis melihat jika orang tuanya sudah duduk di ruang tamu yang tidak terlalu besar dengan Zia yang duduk di pangkuan sang nenek.
Plak plak
Suara tamparan terdengar menggema di dalam rumah orang tua Lilis dan sang pelaku penamparan adalah ayah Lilis sendiri yang marah dengan kelakuan anaknya. Lilis sudah menyangka jika ini akan terjadi.
"Maaf pak, buk" ucap Lilis dengan menangis sambil memegang kaki bapaknya.
"Mau kamu apa sebenarnya Lis? dulu kamu merusak rumah tangga Arya dengan cara merebut Arya dari Siti, setelah menikah dengan Arya kamu membuat Arya marah dengan cara memberi perhiasan yang dia beli kepada orang lain baru kamu kenal secara percuma, kemana pikiran mu Lis! ucap pak Yahya dengan emosi yang begitu meluap-luap.
Dia begitu malu saat tadi ada tetangga yang memberi tahunya jika Lilis memberi perhiasan yang baru di beli oleh Arya kepada orang lain dengan mengatas namakan investasi, di tambah lagi banyak para tetangga yang menghina Lilis yang di katakan tidak bersyukur, sudah merebut Arya sekarang malah memberi perhiasan kepada orang lain. Sungguh bapak Yahya dan ibu Romlah begitu malu dengan kelakuan Lilis.
"Maaf kan Lilis pak, buk" Lilis mengulangi permintaan maafnya kepada orang tuanya.
__ADS_1
"Bapak malu Lis, semua orang di kampung ini sekarang sedang membicarakan mu. Sungguh bapak merasa gagal dalam mendidik kamu, dulu bapak sudah mengatakan kepada mu agar jangan menganggu rumah tangga Arya dan Siti tapi kamu tidak mau mendengarkan bapak dan ibu, sekarang pun kamu kembali membuat bapak dan ibu malu"
"Lis, ibu sungguh kecewa sama kamu, benar apa yang di katakan tetangga jika kamu tidak pernah bersyukur. Siti itu baik saat kamu merebut suaminya dia masih bersikap tenang walaupun hatinya sakit. Jika itu ibu sudah pasti ibu akan mencakar-cakar wajah mu. Namun kamu tidak pernah merasa puas bahkan perhiasan yang di beli Arya pun raib karena ulah mu, ibu juga tau jika Arya selalu memberikan uang untuk keperluan pribadi mu namun kamu gunakan untuk hal-hal yang tidak berguna. Sekarang saatnya kamu merasakan karma karena perbuatan mu sendiri." Sang ibu begitu kecewa dengan anak perempuannya.
"Sekarang kamu pergi dari sini Lis, bapak sama ibu sudah tidak mau menanggung malu karena ulah mu. Pergi lah mencari kebahagiaan mu sendiri, bapak sudah tidak peduli lagi. Dan bawa Zia bersama mu bukan karena bapak dan ibu tidak mau merawatnya namun agar kamu sadar mencari uang bukanlah hal yang mudah" bapak Yahya begitu kecewa, sehingga dia lebih memilih mengusir Lilis dari rumahnya.
"Tapi pak aku gak punya uang. Aku hanya punya uang tiga juta sisa pemberian mas Arya bulan kemarin. Dan mas Arya tidak memberi ku uang saat dia menyuruhku pergi dari rumahnya tadi" ucap Lilis sambil menatap kedua orang tuanya.
"Buat apa juga Arya memberi mu uang jika perhiasan yang dia belikan untuk mu saja kamu beri kepada orang lain" ucap pak Yahya sambil melirik Lilis dengan sinis.
"Itu urusan mu Lis, sekarang kamu pergi dari sini dan jangan pernah kembali jika kamu belum merubah sifat tamak dan tidak tau diri kamu ini" ucap ibu Romlah dengan menyerahkan Zia kembali kepada ibunya.
"Kamu sudah dengarkan apa yang ibu mu katakan, jangan kembali sebelum kamu merubah semua sifat kamu itu. Sekarang silahkan kamu pergi dari sini!" ucap pak Yahya sambil menarik keluar koper Lilis, sebenarnya dia tidak rega melakukan ini kepada anak semata wayangnya namun dia mau anaknya berubah dan semoga anaknya jera.
Lilis yang melihat bapaknya menyeret kopernya keluar akhirnya menyusul sang bapak yang sedang berdiri di atas teras bahkan banyak tetangga yang melihatnya.
"Ingat Lis, jangan kembali sebelum kamu menyadari semua kesalahan mu" ucap pak Yahya sembari berjalan masuk ke dalam rumahnya bahkan dia langsung menutup pintu rumahnya.
__ADS_1
Lilis pun menyeret kopernya meninggalkan rumah orang tuanya, dia tidak tau harus ke mana karena dia tidak mempunyai kenalan.
Di tambah lagi dia harus menyeret koper sambil menggendong Zia, sungguh Lilis begitu kesal dengan keadaannya yang seperti ini. Lilis begitu kesal ternyata dia sudah di tipu di tambah lagi dia begitu marah kepada Arya karena telah menceraikan dirinya bahkan sudah mengusirnya dari rumah tersebut sebelum Lilis bisa menguasai harta milik Arya. Lilis akan membuat Arya merasa menyesal karena telah menceraikannya. Dia akan melakukan segala hal agar bisa menjadi orang kaya.
Setelah lelah berjalan Lilis melihat pangkalan ojek dia akan minta antar ke terminal Lilis sudah bertekad meninggalkan kampung halamannya dan akan kembali setelah menjadi istri orang kaya.
sementara di rumah orang tua Lilis ibu Romlah terus saja menangis karena dia tidak tega melihat Lilis pergi dari rumahnya.
"Pak, gimana jika terjadi sesuatu yang buruk kepada Lilis dan Zia pak?
"Lilis akan baik-baik saja buk, dia sudah dewasa sudah bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Jika terus di biarkan maka Lilis tidak akan sadar dengan perbuatannya. Sekarang ibu tidak perlu memikirkan Lilis lagi" ucap pak Yahya sambil berjalan ke dapur meninggalkan sang istri yang tengah menangis.
Pak Yahya sebenarnya juga tidak tega melakukannya ini terhadap Lilis dan cucunya yang masih kecil, namun jika terus di bela maka Lilis tidak akan pernah berubah Lilis akan melakukan semua apa yang dia mau tanpa pernah memikirkan akibat dari kelakuannya tersebut.
Sekarang dia hanya bisa berdoa agar Lilis dan anaknya baik-baik saja, dan semoga Lilis bisa segera berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan sadar akan semua kesalahannya.
Lilis sudah sampai di kota yang dia tuju sekarang dia bingung harus tidur di mana.
__ADS_1
Lilis masih duduk di halte sambil memikirkan ke mana arah tujuannya, dia tetap bertekad agar Arya menyesal dan membungkam mulut para tetangga jika dia sudah menjadi kaya.