
Pagi ini terlihat jika Arya masih berusaha untuk membujuk Hanan agar mau memaafkannya.
Arya memutuskan untuk belum kembali ke rumahnya karena Hanan masih saja merajuk dan tidak mau berbicara kepadanya.
Hal ini membuat Arya benar benar pusing, dia tidak ingin putra semata wayangnya membencinya dan tidak mau lagi berbicara kepadanya.
Arya sudah membujuk Hanan dengan segala cara.
Hanan tipe anak yang jika di buat kecewa maka akan susah untuk memaafkan, bahkan dia akan terus mengingat kesalahan orang tersebut.
Dulu juga pernah terjadi hal seperti ini. Waktu itu Siti pulang dari belanja lupa membeli pesanan Hanan yaitu es krim.
Akhirnya sampai malam tiba Hanan masih saja merajuk dan tidak mah berbicara kepada mamanya, dan Arya lah yang akhirnya membujuk Hanan agar mau memaaffkan mamanya.
Sekarang tiba gilirannya yang membuat putranya marah karena dia tidak datang untuk menemaninya bermain sepeda di taman.
"Sayang maafin papa ya. Besok papa temenin kamu bermain sampai puas, gimana mau kan?"
"Nggak, aku gak mau main sama papa"
Hanan memonyongkan bibirnya kedepan sambil tangannya bersedekap di depan dada.
Arya membuang nafasnya dengan berat. Siti juga sudah berusaha untuk membujuk Hanan namun hasilnya tetap seperti ini, dia tidak mau memaafkan papanya.
"Baiklah jika kamu belum mau memaafkan papa.
Tapi jika kamu sudah mau memafkan papa kamu telepon papa ya.
Mungkin besok papa akan kembali ke rumah papa. Di sini kamu tidak mau memaafkan dan bicara sama papa, lebih baik papa pulang saja."
Arya terlihat merasa begitu menyesal, Siti yang melihatnya pun ikut sedih. Tapi mau bagaimana lagi, Srya mengaku jika dia salah.
Arya yang membawa anaknya ingin menghabiskan waktu libur bersama tapi dia habiskan dengan bekerja, anak mana yang tidak akan kecewa jika orang tuanya tidak menepati janji.
Arya memilih untuk pulang saja, baginya percuma di sini jika sang putra masih marah kepadanya. Mungkin jika dia pulang sang putra akan segera memaafkannya.
Saat Arya berbalik hendak meninggalkan Hanan, tiba tiba sang putra memeluknya dari belakang.
"Papa"
Arya langsung berbalik dan menggendong sang putra. Dia beri ciuman di seluruh wajah putranya dengan berlinangan air mata.
Siti yang melihat adegan itu menitikkan air mata, dia sadar jika dia tidak meisahkan anak dari ayahnya karena terdapat ikatan batin yang kuat di antara mereka.
Rian yang hendak masuk dari pintu samping bersama Ari melihat semuanya.
Ketika Hanan marah sama papanya bahkan saat melihat Siti menitikkan air mata.
Bahkan Ari ikut terharu melihatnya.
__ADS_1
Rian yang melihat Siti menitikkan air mata dan tersenyum sambil berjalan menghampiri Arya merasa cemburu tapi dia tidak bisa berbuat apa apa.
Andre juga melihat semua yang terjadi di dalam rumah makan Siti. Dia yang datang sambil membawa bunga yang hendak di berikan kepada Siti akhirnya menghentikan langkahnya, dia melihat betapa sayangnya Arya kepada sang putra begitu juga sebaliknya.
Andre juga melihat Siti yang tersenyum sambil menitikkan air mata.
Ingin rasanya dia berdiri di samping Siti untuk memeluknya dan menjadikan dia sebagai sandaran terakhirnya.
"Papa, mau pulang?"
"Iya, papa mau pulang saja jika kamu masih marah sama papa"
"Papa mau pulang tapi tidak mengajakku dan juga mama. Apa papa akan meninggalkan kami di sini lagi"
Arya dan Siti di buat bungkam oleh anak mereka. Alasan apa lagi yang harus di pikirkan dan di katakan kepasa Hanan.
Andre, Rian bahkan Ari sungguh tidak menyangka dengan ucapan anak berusia lima tahun tersebut.
Terkadang Ari berharap agar kakak bisa kembali bersama Arya mengingat Hanan yang selalu mencari papanya.
Ada rasa kasihan di dalam hatinya melihat kehidupan keponakannya itu, meskipun masalah finansial tercukupi tapi kasih sayang sudah mulai terbagi.
Ari terkadang merasa takut andai jika Siti dan Arya sudah memiliki pasangan masing masing, bagaimana nasib keponakannya nanti apa lagi jika mereka sudah memiliki anak.
Ari tidak ingin keponanakannya merasa sendiri namun Ari tidak bisa berbuat banyak karena, inialah adalah kehidupan Siri dan Arya dan dia tidak bisa ikut campur di dalamnya namun dia berharap semua bisa baik baik saja.
Di tambah lagi papa belum sarapan.
Nanti kalau papa sakit bagaimana, kamu mau kan nememin papa?"
Yang di katakan Arya memang benar, dia tidak berbohong akan hal ini.
Dan cara yang Arya buat berhasil Hanan mau menemainya makan tanpa meminta jawaban dari pertanyaannya tadi.
Akhirnya Arya memilih dusuk di dekat taman saja, karena di sana lebih adem dan juga dia bisa menemani Hanan bermain.
Siti menyiapkan makanan kesukaan Arya dan Hanan.
Rian dan Andre tidak sadar jika mereka sekarang telah berdiri bersebelahan.
Mereka melihat Siti bwgitu sigap dalam melayani Arya dan Hanan membuat mereka cemburu hingga tanpa sadar Rian mengeluarkan kata.
"Andaikan aku yang di possisi mas Arya sekarang, tentunya aku akan merasa bahagia"
Rian berkata karena dia tidak sadar jika ada orang lain yang berdiri di sampingnya. Dia menyangka jika itu adalah Ari.
"Kamu menyukai Siti juga?"
Andre bertanya karena mendengar ucapan Rian tadi.
__ADS_1
Di dalam hatinya Andre berpikir jika saingannya untuk mendapatkan Siti bertambah satu.
"Maaf, anda siapa ya?"
Rian begitu malu dan celingukan mencari keberadaan Ari karena seingatnya yang berdiri di sampingnya adalah Ari. Makanya dia tidak malu berucap seperti tadi karena Ari sudah tahu akan perasaannya. Di kejauhan terlihat Ari sedang duduk di meja kasir sambil melambaikan tangannya ke arah Rian dan hal itu mebuat Rian begitu kesal.
Namun Rian harus tetap cool di depan Andre meskipun saat melihat penampilan Andre dia merasa tidak percaya diri, krena Andre berpakaian begitu rapi dan pakaiannya mahal.
Sementara Rian hanya memakai celana jeans dan kaos oblong, meskipun mampu membelinya namun dia lebih memilih yang sederhana saja.
"Hei, kamu belum menjawab pertanyaan saya"
"Memangnya apa pertanyaan mas tadi?"
Rian berpura pura lupa dengan pertanyaan Andre.
"Kamu belum menjawab, apa kamu juga menyukai Siti?"
Andre bertanya dengan tangan di masukkan kedalam saku celanya dan sambil melihat Siti yang terlihat sibuk melayani Arya.
"Saya bukan hanya sekedar menyukai mbak Siti tapi saya ingin menjadikannya ratu di dalam hidup saya."
"Say juga menyukai Siti. Dan say juga ingin menjadikan Siti sebagai ratu di dalam hidup dan juga istana saya, dan menjadi ibu untuk anak kami nantinya."
Rian melihat ke arah Andre dan mengulurkan tangannya.
"Perkenalkan nama saya Rian.
Sekarang kita bersaing secara sehat dan juga sportif untuk mendapatkam hati seorang bidadari, bagaimana?"
"Saya Andre, ayo kita bersaing secara sehat dan tanpa melakukan kecurangan.
Dan satu hal lagi jika di antara kita bertiga ada yang di pilih oleh Siti aaya harap tidak ada demdam di dalamnya sehingga kita masih bisa berteman"
"Baik. Tapi siapa sayunya lagi bukankah kita hanya berdua?"
"Arya. Dia tentunya juga akan berusaha untuk mendapat Siti kembali di tambah lagi kamu fengarkan ucapan Hanan tadi dan itu bisa menjadi senjatanya.
Meskipun Arya menginginkan Siti kembali kepadanya tapi Arya tidak akan melakukan hal yang buruk, dan dia tidak akan pernah memaksa Siti."
"Dari kamu tau jika mas Arya menginginkan mbak Siti kembali kepadanya?"
"Itu bukanlah urusanmu. Sekarang ayo kita bergabung bersama Arya dan juga Hanan.
Kita harus bisa mengambil hati anaknya dulu sebelum memiliki hati ibunya. Tapi ingat jangan berbuat curang!"
Rian hanya mengangguk, dia membenarkan ucapan Andre tentang mengambil hati anaknya dulu sebelum hati ibunya.
Akhirnya dia melangkah bersama Andre menuju meja Arya yang sekarang sedang menyantap makanannya.
__ADS_1