Pergilah Mas

Pergilah Mas
Bab 38


__ADS_3

Saat Arya, Andre, Ari dan juga Rian sibuk di berfoto bersama karena di ajak oleh mahasiswi yang sedang makan di rumah makan Siti mendadak berasa menjadi artis.


Siti yang melihat mereka di buru para gadis hany tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, sungguh kehadiran mereka berempat membawa berkah untuk rumah makan Siti.


Rumah makan Siti selalu ramai di kunjungi oleh para mahasiswa kampus yang ada di dekat sini.


Mereka suka konsep rumah makan Siti dan juga di sini makanannya relatif murah di tambah lagi untuk para mahasiswi jika beruntung akan dapat melihat empat laki laki tampan yang sedang bernyanyi di atas panggung yang bisa menyegarkan mata memandang.


Setelah puas berfoto bersama Arya, Andre, Ari dan juga Rian meminta untuk undur diri.


Sebenarnya Arya tidak suka akan hal ini namun menolak permintaan para mahasiswi tersebut rasanya juga tidak etis, mereka yang artis saja masih mau di ajak foto bersama, sementara dia yang bukan siapa siapa ingin berlaku sombong, makanya mau tidak mau Arya menyetujui permintaan mereka untuk berfoto bersama.


Saat mereka yang sedang sibuk ibu Rahmi datang bersama geng sosialitanya.


Dia yang melihat jika ke empat laki laki tampan itu di kerumuni para gadis melirik ke arah Siti seolah oleh dia ingin mengatakan agar Siti sadar diri.


Siti yang melihat jika ibu Rahmi melihatnya dengan sinis terlihat biasa saja, baginya tidak semua orang akan menyukai kita dan tidak semua orang juga akan membenci kita.


"Selamat siang ibu ibu"


Siti sebagai pemilik rumah makan tentu harus selalu bersikap ramah kepada pengunjung yang datang tanpa memandang siapa mereka.


"Siang mbak Siti. Kami mau pesan makanan dan minuman, tapi minta tolong di antar di dekat taman aja ya mbak. Biar adem"


Ibu Ani sebagai istri pak kades yang terkenal ramah memesankan makanan dan minuman yang sudah ada di dalam buku menu.


"Baik bu"


Setelah mencatat pesanan mereka Siti pun pergi meninggalkan mereka untuk meminta para karyawannya untuk membuatkan dan mengantar pesanan ibu Ani dna teman temannya.


Para ibu ibu ini duduk tidak jauh dari tempat duduk rombongan Arya.


Tiba tiba saja ibu Rahmi menghampiri Rian.


Ibu Ani dan yang lainnya menatap heran untuk apa ibu Rahmi menemui Rian. Namun mereka membiarkan saja karena ini bukan urusan mereka.


"Rian"


Panggil ibu Rahmi kepada Rian.


Rian yang mendengar ada yang memanggilnya langsung menoleh kebelakang melihat ke arah sumber suara dan terlihat jika ibu Rahmi berjalan menghampirinya.


Rian yang seakan susah paham akan tujuan ibu Rahmi hanya bisa menghela nafasnya, baginya menghadapi orang seperti ibu Rahmi butuh kesabaran yang esktra.


"Ya, bu. Ada apa ya, ibu memanggil saya?"


"Ibu cuma mau bilang bagaimana dengan tawaran ibu kemarin apa kamu menerimanya?"


Terlihat jika Rian sedang mencoba menahan emosinya.

__ADS_1


Arya, Andre dan juga Ari begitu penasaran dengan apa yang di maksud ibu Rahmi, tawaran apa maksudnya.


"Saya sudah pernah bilang sama ibu jika saya tidak akan menerima tawaran ibu sampai kapanpun. Dan juga untuk apa ibu bersusah payah mengurusi hidup saya"


"Kamu akan menyesal jika kamu tidak menerimanya Rian. Saya itu hanya ingin membantu kamu karena saya tahu orang tua kamu sudah meninggal maka saya berusaha membantu."


"Saya akan menyesal jika menerima tawaran ibu. Ibu tidak perlu mengasihani saya, karena saya tidak butuh untuk di kasihani dan lagian ibu bukan keluarga saya yang berhak mengatur hidup saya."


"Sombong kamu Rian."


"Saya bukan sombong buk. Tapi jika ibu menganggap saya memang sombong maka tidak akan jadi masalah untuk saya. Namun saya hanya ingin ibu bersiap siap jika suatu hari nanti ibu tahu siapa wujud aslinya wanita yang ibu jodohkan kepada saya. Saya harap ibu tidak terkena serangan jantung saat mengetahuinya."


Ibu Rahmi yang mendengar ucapan Rian mencebikkan mulutnya dan pergi meninggalkan Rian.


Ibu Ani yang melihat tindakan ibu Rahmi hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Sungguh dia tidak habis pikir kenapa ibi Rahmi bisa terlalu ikut campur dalam urusan pribadi orang lain.


Namun percuma juga jika dia menasehati ibu Rahmi karena ibu Rahmi tidak mau di nasehati dan juga selalu merasa dirinya benar. Hal itu membuat ibu Ani dan juga yang lainnya memilih diam.


Mereka mulai menyantap makanan dan minuman yang dia antar oleh karyawan Siti dengan nikmat di tambah lagi semilir angin yang sanaht menyejukkan.


Saat mereka sedang menyantap makanan dengan khusuknya tiba tiba terdengar suara keributan di luar rumah makan Siti, terlihat jika orang krang sudah rame dan terlihat juga jika mereka sedang menyeret orang lain.


Merasa penasaran akhirnya Arya, Andre, Rian dan juga Ari berjalan keluar mereka takut jika ada keributan yang bisa berdampak buruk kepada rumah makan Siti.


Terlihat jika di luar sudah di penuhi oleh kerumunan orang orang.


Terlihat juga ada dua orang yang dis eret oleh warga.


Ibu Rahmi yang begitu penasaran akhirnya mencoba menerobos kerumanan untuk melihat siapa yang sebenarnya warga seret dari tadi.


Jiwa kepo ibu Rahmi kembali muncul dan juga dia akan menjadikan hal ini sebagai bahan gosip nantinya itu lah yang ada di pikirannya.


Namun saat melihat siapa yang telah di seret para wargaembuat ibu Rahmi terdiam membisu bahkan lututnya pun terasa lemas.


Rasanya ibu Rahmi tidak sanggup lagi untuk berdiri melihat siapa yang ada di depannya.


Warga yang melihat ibu yang seakan akan oleng menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke bawah.


Bagaimana ibu Rahmi tidak kaget jika sepasang laki laki dan perempuan yang di arak itu adalah suaminya sendiri yaitu pak Abdul dan yang lebih mengagetkannya lagi wanita yang menjadi pasangan yang di arak bersam pak Abdul adalah Rani wanita anak tetangganya dan juga yang akan dia jodohkan bersama Rian.


Mereka di grebek warga saat mereka berdua terlihat berjalan bergandengan tangan saat memasuki hotel, warga yang melihatnya langsung mengambi momen tersebut dan melaporkannya kepada pak kades.


Sungguh hal ini membuat ibu Rahmi malu dan juga marah.


Dia berjalan menuju ke arah Rani dan langsung menamparnya.


Plak plak

__ADS_1


"Dasar wanita murahan! Berani beraninya kamu merayu suamiku!"


Ibu Rahmi menarik rambut Rani hingga membuatnya terjungkal kebelakang. Warga yang melihat jika ibu Rahmi akan bertindak anarkis langsung menahannya.


Sementara itu pak Abdul yang melihat Rani terjatuh langsung membantunya berdiri, ibu Rahmi yang melihat hal itu membuatnya semakin marah.


"Kurang ajar kamu pak! Apa salahku selam ini pak? Sehingga kamu dengan teganya melakukan ini kepadaku"


Ibu Rahmi berkata sambil bercururan air mata, sungguh dia tidak menyangka hal ini akan terjadi kepadanya.


"Maaf bu. Bapak melakukan ini karena bapak sudah tidak tahan dengan sikap ibu. Ibu yang tidak pernah menghargai bapak sebagai seorang suami membuat bapak berpaling. Maafkan bapak buk"


"Kamu gak berpikir sebelum melakukannya pak. Rani itu lebih cocok menjadi anakmu bukan sebagai gundik mu"


"Diam lah buk, semua ini tidak akan terjadi jika ibu bisa mneghargai jerih payah bapak sebagai suami.


Ibu yang terlalu sibuk mengurusi urusan ibu dan menelantarkan bapak. Tapi jika bapak tidak memberikan uang kepada ibu, maka ibu akan marah marah dan mencaci bapak"


"Kan memang tugas suami mencari nafkah"


Ibu Rahmi masih belum mau mengalah terhadap suaminya.


"Tapi bapak sebagai kepala rumah tangga juga ingin di hormati buk"


Warga yang melihat situasi yang semakin memanas terpaksa membawa pak Abdul dan juga Rani ke balai desa.


Sementara itu ibu Rahmi masih saja menangis dan juga bwrteriak histeris.


Siti yang melihatnya mwrasa iba terlepas dari semua yang telah ibu Rahmi lakukan kepadanya.


Ibu Ani mencoba menengkan ibu Rahmi yang masih menangis.


Saat berjalan melewati Siti, ibu Rahmi masih saja melihatnya sijis san berkata.


"Puas kamu Ti. Kamu senangkan melihat keluarga saya hancur. Dasar janda tidak tahu diri"


Siti yang mendengar ucapan ibu Rahmi hanya bisa mengelus dadanya.


Padahal sedari tadi dia tidak mengucapkan sepatah katapun tapi entah mengapa ibu Rahmi marah marah kepadanya.


Ibu Ani yang melihat ibu Rahmi marah kepada Siti hanya bisa terdiam, sungguh dia tidak habis pikir apa ibu Rahmi tidak bisa menyadari kesalahannya kenapa pak Badul bisa berselingkuh.


Ternyata masalah ini tidak membuka hati ibu Rahmi. Justru yang ada ibu Rahmi melampiaskan kemarahannya kepada orang lain.


Astaghfirullah Hal Adzim...


Tobat buk tobat.


introspeksi buk, jangan hanya mau menyalahkan tanpa mau di salahkan.

__ADS_1


__ADS_2