
"Sekarang aku hanya bisa memandang mu dari jauh tapi aku akan tunjukkan diriku kepadamu Siti, dan aku harap kamu gak bar-bar lagi" monolog sang pria yang memperhatikan interaksi antara Siti dan juga Rian.
Ketika Siti dan Rian sedang asyik tertawa bersama tiba-tiba ibu Rahmi datang, itu loh tetangga yang selalu julid sama Siti.
"Maaf nih ya, kita tadi dengar jika nak Rian suka sama mbak Siti. Emang gak salah nak Rian kalau kamu suka sama mbak Siti, yang notabenenya janda dan juga lebih tua dari pada kamu"
Nah, mulai lagi nih orang buat acara drama yang bisa mendatangkan banyak penonton. Tapi Siti tidak mau pusing akan hal ini karena ini sudah biasa baginya. Percuma berbicara panjang kali lebar sama bu Rahmi ngabisin tenaga aja, itu yang Siti pikirkan.
Cara membuat ibu Rahmi diam adalah me membalas ucapannya dengan telak.
"Loh, emangnya kenapa jika saya suka sama mbak Siti?"
"Nak Rian jangan-jangan matanya sudah rabun nih, masa gak bisa bedain yang masih gadis dan juga janda."
"Mulai deh bawa-bawa statusku yang hanya sebagai janda tapi isi kantongnya tebal"
Ibu Rahmi nampak ingin marah mendengar ucapan Siti.
"Masalahnya kalau saya suka sama mbak Siti yang janda ini kenapa? Kan yang suka saya, dan tidak ada dalam hal ini merugikan ibu"
"Nak Rian kan bisa mencari yang masih gadis, itu maksud ibu"
"Buk menikahi janda itu gak jadi masalah jika saya mau menerimanya."
Ibu Rahmi sekarang bertambah kesal kepada Rian, dia menarik kursi untuk duduk di depan Siti dan di samping Rian.
Melihat ibu Rahmi duduk di depannya membuat Siti memijit keningnya.
"Alamat bakalan panjang nih" ucap Siti di dalam hatinya.
"Nak Rian sekarang liat ibuk. Kamu tau kan si Rani anaknya ibu Sarah tetangga di dekat rumah ibu dan juga Siti. Kamu tau kan jika dia masih gadis, cantik pintar lagi. kenapa kamu gak melamar sia aja"
Ibu Rahmi mulai memperkenalkan Rani kepada Rian, kayaknya ibu Rahmi mau jadi mak combalng deh. hihihi
"Ya aku tau Rani buk. Tapi aku gak cinta sama dia aku cintanya sama mbak Siti seorang, gimana dong?"
"Alah cinta-cintaan nanti kalau sudah menikah cinta akan datang."
"Ibuk kenapa ya kok dari tadi ngotot banget pas tau aku suka sama mbak siti.
__ADS_1
Jangan-jangan ibu mau jodohin mbak Siti sama anak laki-laki ibu ya"
"Sembarangan kamu kalau ngomong. Ibu mana mau punya mantu kayak dia" ucapnya sambil melirik sinis ke arah Siti.
Siti yang melihat ibu Rahmi melihatnya seperti jijik saja hanya cuek-cuek aja, baginya masa bodoh yang penting gak ngerugiin aku.
"Terus kalau bukan karena itu, ngapain ibu melarang aku untuk suka dan juga melamar mbak Siti. Kan aku gak salah"
"Hadeuh, Rian Rian, kamu tau jika Siti itu lebih tua dari pada kamu, lebih baik kamu cari yang lebih muda dan juga fresh"
Ibu Rahmi mengatakan tua menghadap ke arah Siti.
"Emang kenapa jika saya lebih tua dari Rian buk. Terus ibu mau bilang kalau saya ini gak fresh gitu. Ikan kali buk masih fresh"
"Ingat Siti percaya diri itu boleh tapi sadari itu lebih penting. Jadi kalau kamu tau jika kamu audah tua makanya jangan godain brondong lagi. Apa lagi kamu mau godain nak Rian juga"
Rian diam memperhatikan ucapan ibu Rahmi dan juga Siti.
"wah nih ibu beneran mau ngajak gulat kayaknya" Ucap Siti di dalam hatinya.
"Buk jika Rian dan anak ibuk dan juga laki-laki yang lain yang pada suka sama saya itu salah saya buk. Ibuk salahkan saja pesona saya yang selalu cetar membahana sehingga membuat mereka terlena."
Rian berucap sambil bertepuk tangan, sedangkan ibu Rahmi wajahnya sudah mulai memerah karena menahan amarah.
"Kamu jangan sombong dan sok cantik ya.
Apa sih kelebihan kamu selain dari janda"
Wah ibu Rahmi benar-benar ingin memancing emosi Siti kayaknya.
Tapi tenang Siti gak akan bar-bar dalam menghadapi ibu Rahmi, pelakor aja dia lawan dengan elegan apalagi ini ibu-ibu julid yang gak sadar akan umurnya.
"Saya kan memang cantik dari dulu buk. Ibunya aja baru tau sekarang. Saya itu primadona ketika masih sekolah dulu asal ibu tau" gak apa-apakan jika Siti menyombongkan diri.
"Dan ibu tadi juga bertanya apa kelebihan saya selain janda. Ibu liat kan rumah makan ini, itu tandanya saya janda kay yang banyak duitnya.
kalau saya menikah sama anak ibuk gak akan sanggup dia penuhi kebutuhan saya. Bener gak buk"
"Memangnya siapa yang mau punya menantu kurang ajar seperti kamu"
__ADS_1
"Bagus kalau ibu gak mau saya jadi mantu, saya sama seperti ibu yang gak mau punya mertua yang julid sibuk ngurusin hidup orang"
Ibu Rahmi nafasnya naik turun, sungguh Siti sudah mempermalukannya.
Rian masih setia memperhatikan perdebatan kedua wanita yang beda generasi tersebut.
Tiba-tiba ibu Rahmi menoleh ke arah Rian.
"Kamu liat kan nak Rian, bagaimana tidak tau sopan santunnya Siti saat berbicara kepada orang tua.
Nyesel kamu nanti jika menikahinya, lebih baik kamu sama Rani aja, anaknya baik loh gak seperti dia"
Siti yang mendengarnya hanya acuh tak acuh.
"Buk, semua orang bisa berlaku sopan sama ibu asalkan ibu tidak memancing emosi mereka. Siti hanya menjawab apa yang ibu katakan dan hal itu bukanlah salahnya."
Ibu Rahmi mendengus kesal karena Rian membela Siti.
"Dan untuk Rani yang ibu bilang baik, dia mungkin memang wanita baik tapi apakah wanita baik-baik akan hamil sebelum melakukan pernikahan"
"Rani tidak hamil, jangan asal bicara kamu nak Rian"
"Saya gak bohong buk, dan ibu juga akan lebih terkejut saat tau siapa laki-laki yang menghamili Rani"
"Memangnya siapa bapak dari anak yang di kandung oleh Rani, jika ucapan mu hanya bualan belaka maka jatuhnya fitnah dan pencemaran nama baik, dan kamu bisa di tuntut karena hal ini"
"Saya gak bohong, ibuk tunggu saja. Ketika semuanya terbuka ibu mungkin akan jatuh pingsan saat mengetahuinya.
Ibu Rahmi menjadi penasaran apa yang di katakan Rian ini benar atau hanya berbohong untuk mengelabuinya.
"Terserah ibu gak peduli. Nak Rian sebaiknya kamu pikirkan lagi ucapan ibuk, jika kamu sampai menikahi Siti maka kamu akan menderita. Dan Siti itu lebih tua dari kamu, gak cocok sama kamu yang masih muda dan gagah ini."
"Ibuk taukan ibunda kita Sayyidah Khadijah yang umurnya 15 tahun lebih tua dari pada nabi kita Muhammad saw dan apakah nabi mempersalahkan itu, tidak buk. Bahkan nabi masih saja menyebut nama beliau meskipun beliau sudah meninggal dan sudah menikah dengan Siti aisyah sehingga membuatnya merasa cemburu. Jadi apa salah jika kita menikahi wanita yang umurnya lebih tua"
"Kamu itu ya , susah di bilangin" ibu Rahmi langsung mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Rian juga Siti dengan hati yang kesal.
Siti dan Rian tertawa melihat ibu Rahmi yang berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.
mohon untuk terus memberi dukungannya ya🥰🥰🥰
__ADS_1