
Arya masih terus saja menyalahkan dirinya sendiri, sementara Siti hanya air mata yang terus saja mengalir dan berdoa yang bisa di lakukannya saat ini.
Setelah lama menunggu, bahkan Andre dan Rian pun sudah kembali lagi ke rumah sakit setelah mengurus kasus penabrakan yang terjadi kepada Hanan. Mereka juga tidak bisa menuntut pengendara karena yang salah di sini adalah mereka. Mereka yang terlalu fokus dengan kerumunan warga sehingga melupakan Hanan yang sedang bermain dan juga Hanan yang berlari ke jalan dan saat itu ada motor yang melaju dengan kecepatan yang cukup kencang tidak dapat menghindar sehingga Hanan akhirnya tertabrak dan terjatuh ke pinggir jalan. Mereka menyelesaikan hal ini dengan cara kekeluargaan.
Tiba-tiba pintu ruang operasi di buka.
Arya dan Siti bergegas menghampiri dokter yang menangani Hanan.
"Bagaimana keadaan anak saya, dok?"
Terlihat dokter menunduk lesu, hanya menggelengkan kepalanya untuk mengatakan jika Hanan sudah tiada.
Siti yang melihat dokter menggelengkan kepalanya, menarik baju sang dokter.
"Dok, tolong jangan main main dok. Anak saya masih hidupkan dok?"
"Kami sudah berusaha yang terbaik buk. Namun Allah lebih sayang sama anak ibu."
Siti menangis sejadi-jadinya. Hingga akhirnya dirinya pingsan, Ari dengan sigap menggendong sang kakak.
Arya terlihat begitu lemas mendengar pernyataan dari sokter yang mengatakan jika anaknya telah tiada. Hal ini membuat Arya semakin menyalahkan dirinya sendiri.
Ibu Samsiah menunggui Siti yang sedang pingsan. Andre mencoba untuk menenangkan Arya yang terus menangis dan menyalahkan dirinya atas kematian Hanan.
Sedangkang Rian, Ari dan juga pak Ali menyiapkan pemakaman untuk Hanan, dan memberitahu kepada pak Rt jika sang cucu telah berpulang kerahmatullah.
Orang tua mana yang bisa terlihat baik-baik saja di saat sang anak pergi meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.
Siti dan Arya tidak bisa lagi membendung air mata mereka.
Saat sampai di rumah duka, Siti dan Arya duduk di samping Hanan. Hingga tanpa sadar mereka saling menggenggam tangan berusaha untuk menguatkan satu sama lainnya.
Pak Ali yang melihatnya meminta Ari untuk membiarkan saja, karena sekarang semua orang sedang berduka dan tidak terlalu memperhatikan keduanya.
Hanya Andre dan Rian yang melihat itu dengan mata yang sendu.
"Rian, kalau melihat mereka seperti ini, aku rasanya lebih memilih mengorbankan perasaanku dari pada melihat Siti kehilangan orang yang dia sayang. Mungkin dia memang di takdirkan berjodoh bersama mas Arya, dan kita hadir hanya sebagai pelengkap cerita mereka."
"Kamu benar mas. Setelah ini aku akan memilih mundur dan menguburkan perasaanku kepada mbak Siti. Aku hanya berdoa agar dia tetap bahagia bersama siapa pun pilihannya."
Siapa sangka mereka yang awalnya bersaing untuk mendapatkan hati Siti, kini berusaha untuk mengikhlaskan perasaaan yang ada.
*****************
__ADS_1
Sekarang tiba waktunya untuk memakam Hanan.
Siti dan Arya masih terus berpegangan tangan, bahkan Arya sempat memeluk Siti saat jenazah Hanan di masukkan kedalam kubur.
Sungguh hal ini begitu berat di terima oleh mereka berdua. Namun mereka tentunya tidak bisa melawan takdir yang telah di gariskan untuk mereka.
Siti dan Arya begitu terpukul dengan kepergian Hanan yang tiba-tiba tanpa mengucapkan kata perpisahan untuk keduanya.
Dan juga Arya merasa begitu bersalah karena tidak bisa menjaga sang putra hingga kemalangan menimpa dan merenggut nyawanya.
Siti yang melihat Hanan di masukkan ke dalam kubur menangis hingga akhirnya dirinya pingsan untuk kesekian kalinya.
Arya dengan sigap menggendong Siti untuk masuk ke dalam mobil.
Arya merasa begitu bersalah dan terluka melihat Siti seperti ini.
Andre dan Rian yang melihatnya pun ikut merasa sedih.
Rian ingat bagaimana ketika dia kehilangan orang tuanya dalam sebuah kecelakaan mobil saat akan pergi haji. Mereka pun pergi meninggalkan Rian dan saudaranya tanpa pamit, kepergian Hanan ini mengingatkan Rian kepada orang tuanya.
Kehilangan orang yang kita sayang dan cinta itu sungguh teramat pedih namun kita di minta untuk menerimanya dengan lapang dada.
Andre ikut menangis dengan kepergian Hanan. Anak kecil yang selalu terilhat ceria dan selalu sopan kepada semua orang membuatnya merasa kehilangan di tambah lagi melihat Siti yang terus saja pingsan sejak mendengar kepergian Hanan untuk selama-lamanya.
Setelah acara pemakaman selesai semua orang membubarkan diri termasuk Arya dan juga Siti.
Sesampainya di rumah orang tuanya Siti langsung masuk ke kamar dan mengunci pintunya.
Pak Ali yang melihatnya merasa sedih melihat anak perempuannya telah kehilangan anak yang begitu dia sayangi.
Ibu samsiah meminta agar mereka semua tidak ada yang mengganggu Siti, biarkan Siti meluap semua rasanya.
**************
Tiga bulan setelah kepergian Hanan, Siti terlihat sudah mulai mau tersenyum kembali, meskipun saat melihat anak kecil yang sebesar Hanan maka air mata akan selalu jatuh tanpa di minta. Siti yang selalu ingat kepada Hanan bahkan sering memberikan uang untuk anak-anak yang dia temui, baginya hal itu setidaknya bisa sedikit mengurangi rasa rindu kepada sang buah hati yang telah pergi.
Namun pagi ini Siti keluar dari kamarnya membuat semua penghuni rumah tercengang. Bagaimana tidak biasanya ibu Samsiah sudah sering memintanya untuk memakai hijab namun Siti selalu menolaknya dengan berbagai alasa sehingga sang ibu tidak pernah lagi memintanya untuk memakai hijab.
Pagi ini Siti keluar dari kamarnya menggunakan Hijab dan memakai gamis.
Sungguh penampilan Siti sekarang ini menghipnotis semua orang.
Ibu samsiah begitu senang melihatnya.
__ADS_1
"Cantik sekali anak ibu ini"
"Terima kasih bu. Do'akan aku agar tatap istiqomah ya buk."
"Ya, ibu selalu berdoa agar kamu di beri yang terbaik dalam hidup mu. Dan semoga kamu selalu di berikan kesabaran yang luas sehingga kamu bisa kuat dalam menghadapi segala cobaan yang datang."
Mereka akhirnya saling berpelukan. Ari dan pak Ali yang melihatnya menetetskan air mata. Mereka senang setidaknya Siti sudah mulai bangkit lagi setelah kepergian Hanan.
Mereka memulai sarapan pagi ini dengan hati yang bahagia.
"Pak buk, aku ingin mengundurkan diri dalam mengelola rumah makan"
"Kalau kamu mengundurkan diri siapa yang akan mengelola rumah makan kamu nanti. Apalagi sekarang ini rumah makan mu begiitu ramai." Ucap ibu Samsiah.
"Rumah makan itu akan aku serahkan kepada Ari buk. Aku yakin Ari bisa mengelolanya. Aku akan pergi dari sini buk"
Ibu Samsiah yang mendengar ucapan menghentikan makannya dan menatap sang anak.
"Memangnya kamu mau pergi ke mana, nak?" Pak Ali bertanya kepada Siti.
"Aku akan pergi untuk menuntut ilmu agama pak. Aku ingin belajar ilmu agama, aku ingin mendekatkan diri kepada sang pencipata pak."
"Memangnya mbak mau belajar di mana?"
"Mbak akan belajar di sebuah pesantren yang sudah mbak cari tau lewa google. Mbak menyerahkan rumah makan itu kepada mu ya."
Ari mengangguk, baginya tidak ada salahnya jika sang kakak ingin belajar ilmu agama. Setidaknya di pesantren nanti kakaknya akan memiliki banyka teman sehingga bisa mengurangi kesedihannya.
Ibu Samsiah merasa sedih jika Siti harus pergi. Dia sudah kehilangan sang cucu dan dia tidak ingin kehilangan Siti.
"Ndok, apa kamu tidak ada niat untuk kembali rujuk bersam Arya?"
Pak Ali yang mendengar pertanyan dari sang istri untuk anak perempuannya langsung menoleh.
"Buk, itu bukan urusan kita. Biarkan Siti memilih jalan hidupnya. Jangan paksa dia, jangan membuat dia tertekan akan pertanyaan ibu"
Pak Ali begitu kesal kepada sang istri sehingga dia berbicara dengan nada yang cukup keras.
Siti yang mendengar pertanyaan dari sang ibu terdiam.
Dia tau jika selama ini Arya selalu ada untuknya terlebih setelah kepergian Hanan. Arya memutuskan untuk tinggal di kota yang sama dengan Siti. Bahkan tempat tinggalnya tidak jauh dari rumah makan Siti.
Alasan Arya pindah ke sini agar bisa mengunjungi makam sang putra setiap harinya, dan itu memang terbukti. Arya selalu mengunjungi makam Hanan setiap hari tanpa henti.
__ADS_1
Apakah Siti akan mengikuti saran dari sang ibu untuk kembali kepada Arya atau tetap dengan niatnya untuk pergi mwnuntut ilmu agama.