Pergilah Mas

Pergilah Mas
BAB 8


__ADS_3

setelah satu minggu tinggal bersama orang tuanya Siti merasa bosan, karena hanya berdiam diri di rumah. Siti bingung harus melakukan apa, anaknya Hanan sudah mulai bersekolah yang ada di dekat rumah orang tuanya.


"Buk, sekarang apa yang harus Siti lakukan? Siti bosan berdiam diri di rumah terus." ucap Siti kepada sang ibu sambil menonton tv.


"Mungkin kamu bisa melamar kerja di kantor tempat kamu bekerja dulu." ujar sang ibu.


"Tapi kalau aku kerja Hanan nanti gimana buk?"


"Hanan bisa tinggal bersama ibu jika kamu pergi kerja!"


Siti mengangguk-anggukan kepalanya, ia berpikir selama ini ia belum pernah meninggalkan anaknya.


"Bagaimana kalau Siti buka rumah makan di tanah bapak yang ada di persimpangan jalan di depan itu buk?


"Bagus juga jika kamu mau membuka rumah makan, di sana kan tempatnya selalu ramai karena itu jalan besar, dan dekat juga dengan kampus."


Tidak lama datang Hanan yang baru pulang sekolah bersama Omnya Ari.


Hanan langsung berlari menghampiri sang mama dan neneknya.


"Ma, tadi di sekolah aku banyak teman, mereka baik-baik semua sama aku ma"


Hanan berceloteh dengan riangnya.


Siti hanya tersenyum mendengar ocehan putranya.


"Sekarang kita ganti baju dulu ya"


ajak Siti kepada anaknya dan langsung menuju kamar.

__ADS_1


Setelah selesai mengganti pakaian anaknya, Siti kembali ke ruang tv di mana sang ibu masih duduk sambil menonton tv yang di temani oleh Ari. Sebenarnya Ari bukanlah menonton tv ia hanya menikmati makanan yang ada di atas meja.


"Buk, kira-kira kalau Siti buka rumah makan biayanya berapa ya buk?"


"Ibuk juga gak tau, nanti tanya bapakmu aja" ucap ibu Samsiah tanpa menoleh karena matanya fokus melihat sinetron yang sedang tayang di tv.


"Emangnya mbak mau buka rumah makan? di mana mbak?" tanya Ari.


"Di tanah bapak yang ada di persimpangan jalan di depan"


"Bagus kalau mbak mau buka usaha di tanah bapak yang ada di depan itu tapi, mbak harus buat rumah makan kekinian, tema anak muda gitu biar kece, kan di sana dekat sama kampus"


"Benar juga yang kamu bilang Ri, nanti bantuin mbak ya!


"Mbak tenang aja, aku pastinya akan bantuin mbak, kalau jualannya laris aku kan bakal dapat uang jajan dari mbak" Ari mengatakannya sambil cengengesan.


Ari yang mendengar ucapan ibunya hanya tersenyum saja, baginya ini sudah hal biasa jika ibunya berkata begitu. Ibunya tidak pernah tau kegiatan Ari, tapi sang ibu tau jika anaknya tidak berbuat nakal seperti anak muda sekarang. Padahal Ari sudah memiliki penghasilan dengan mengerjakan tugas dan juga skripsi mahasiswa yang ada di kampus yang menggunakan jasanya. Bahkan Ari juga memiliki usaha kafe kecil-kecilan yang dia rintis bersama Rian teman sekampusnya. Mereka bekerjasama dengan membuat kafe untuk menambah pengalaman dan juga menambah saldo rekening mereka, karena mereka anak-anak yang mandiri.


"Buk, bagusnya kita nanti beri nama apa ya untuk rumah makannya?"


"Ibuk gak tau, kamu coba aja cari di internet!


"Mbak aku tau nama rumah makan yang cocok untuk mbak"


Siti yang mendengarnya terlihat antusias, dia senang jika sang adik mau membantunya, dia tau jika Ari akan memberikan nama yang terbaik untuk usahanya nanti.


Ari tersenyum melihat mbaknya yang begitu ingin mendengar nama darinya.


"RUMAH MAKAN JANDA, YANG MASUK BOLEH SIAPA SAJA gimana bagus kan mbak namanya"

__ADS_1


Siti pun langsung melemparkan bantal ke arah sang adik.


"lama-lama mbak pecat kamu jadi adik! gak ada yang lebih jelek dari pada itu apa?!"


Ibu Samsiah pun terlihat kesal dengan putranya, bisa-bisanya dia memberi nama yang menurutnya argh... susah untuk di jelaskan.


Yang di lempar pakai bantal hanya tertawa


"Hahaha, mbak aku kan cuma bercanda. gak mungkinlah aku menyarankan nama usaha mbak dengan embel janda, walaupun itu fakta yang sesungguhnya" Ari terus tertawa, sementara Siti dan ibu Samsiah sudah bersiap-siap menerkamnya.


"RUMAH MAKAN SEDERHANA YANG MASUK BOLEH SIAPA SAJA, gimana mbak bagus gak nama rumah makannya?


"Bagus juga namanya, mbak suka, kita akan buat makanan yang harganya murah meriah tapi rasanya mewah, yang sesuai sama isi kantong mahasiswa dan juga masyarakat sekitar."


"Ibuk setuju sama ide kamu Siti, kita kan harus menyesuaikan dengan ekonomi masyarakat, percuma harga selangit tapi yang beli sedikit. Biarlah harga merakyat yang penting banyak peminat"


Siti dan Ari melongo mendengar ucapan sang ibu karena mereka tidak menyangka jika sang ibu bisa mengucapkan itu, dan mereka berniat untuk menjadi semboyan rumah makan Siti.


sementara ibu Samsiah tampak bingung dengan anak-anaknya yang terus menatapnya tanpa berkedip.


"Kalian kenapa liat ibuk kayak gitu? tanya ibu Samsiah.


Ari dan Siti langsung bertepuk tangan


"Ibuk luar biasa, pokoknya ibuk sudah memberikan ide yang bagus untuk aku dan juga mbak Siti bagaimana caranya agar rumah makan kita bisa laris" ucap Ari sambil memeluk gemas sang ibu.


Ibu samsiah hanya bisa tersenyum saja dengan kelakuan Ari yang memeluk dan menciumnya.


Sementara Siti hanya tersenyum melihat apa yang ada di depan matanya.

__ADS_1


__ADS_2