Pergilah Mas

Pergilah Mas
Bab 21


__ADS_3

Ketika hari ini sudah pagi Arya pun membangunkan Hanan untuk segera mandi dan bersiap-siap mengantarkannya kembali ke rumah orang tua Siti karena hari ini Arya akan kembali ke rumahnya, meskipun sebenarnya berat tapi mau bagaimana lagi nanti jika liburan sekolah tiba dia akan kembali ke sini untuk menjemput Hanan dan membawanya untuk berlibur ke rumahnya.


Setelah semuanya siap akhirnya Arya pun mengantarkan Hanan kembali ke rumah kakek dan neneknya.


"Assalamualaikum" Arya dan Hanan mengucapkan salam ketika sampai di depan pintu rumah orang tua Siti yang masih tertutup.


"Waalaikumsalam, mari masuk nak Arya" ucap ibu Samsiah yang membukakan pintu dan mempersilahkan Arya untuk masuk


"Maaf buk, aku gak bisa mampir mungkin lain kali saja buk. Soalnya aku sudah di tunggu dan akan segera berangkat, aku titip Hanan ya buk, nanti bulan depan aku ke sini lagi untuk menjemput Hanan untuk berlibur bersama ku. Titip salam sama bapak dan yang lainnya ya buk" ucap Arya sembari mencium punggung tangan sang ibu mertua.


Hanan yang melihat papanya akan kembali pergi membuat matanya berkaca-kaca dan dia pun langsung berlari masuk ke dalam dalam kamarnya. Arya yang melihat Hanan berlari masuk ke dalam merasa bersalah namun mau bagaimana lagi jika dia terus tinggal di sini bagaimana dengan restorannya Arya melihat ke arah ibu Samsiah seolah-olah meminta izin untuk menyusul Hanan ke dalam dan ibu Samsiah pun mengangguk dan mempersilahkan Arya untuk menyusul Hanan.


Sesampainya di dalam kamar Arya melihat Hanan sedang menangis sambil berbaring di atas kasur.


"Anak papa kenapa menangis?" Arya bertanya sambil mengelus kepala belakang sang putra dan membawanya ke dalam gendongan.


"Papa di sini saja ya, aku gak mau pisah sama papa lagi!" Hanan mengutarakan isi hatinya kepada sang papa.


Sungguh hati Arya begitu sakit mendengar permintaan sang putra tapi dia tidak tau harus berbuat apa.


"Sayang papa harus bekerja, jika papa di sini bagaimana papa bisa bekerja kalau papa gak kerja terus gimana caranya papa mendapatkan uang untuk jajan jagoan papa ini" ucap Arya sambil mencolek hidung putra yang begitu dia sayangi.


"Terus kapan papa ke sini lagi?"

__ADS_1


"Nanti kalau kamu sudah libur sekolah papa akan menjemput kamu dan kita akan bermain bersama selama liburan, bagaimana?" Arya mencoba membujuk sang putra.


"Tapi kamu harus rajin sekolahnya ya dan jangan nakal, dengerin apa kata mama dan juga nenek, kalau nanti kamu sudah libur sekolahnya kamu telepon papa aja Ok"


Hanan mengangguk dalam menghapus jejak air matanya.


"Ya sudah sekarang papa pulang dulu, ingat kalau kamu sudah libur sekolahnya jangan lupa telepon papa"


"Ya papa, aku akan langsung menelepon papa nanti"


Setelah sang putra sudah mau di tinggal akhirnya Arya kembali memasuki mobil yang akan membawanya kembali pulang ke rumahnya yang dulu selalu ada suara tawa dari sang anak kini berubah menjadi sunyi.


Arya melambaikan tangannya begitu pun sang putra yang ikut melambaikan tangannya.


...****************...


Sang pemilik kafe menerima Lilis karena Lilis mengatakan bahwa suaminya sudah meninggal sedangkan dia harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan juga sang anak, Lilis tidak lah salah sepenuhnya karena suami pertamanya memang sudah meninggal bukan, karena merasa iba akhirnya pemilik kafe menerimanya bekerja paruh waktu agar malamnya Lilis bisa menemani anaknya, namun tanpa sang pemilik kafe ketahui jika malamnya Lilis bekerja di sebuah klub malam sebagai pelayan juga, tapi Lilis senang bekerja di klub malam karena gajinya lebih besar dari dia bekerja di restoran selama ini.


Malam harinya Lilis sudah bersiap untuk bekerja di klub malam dengan kembali menitipkan Zia kepada tetangganya.


Malam ini Lilis merasa begitu lelah karena malam ini begitu ramai pengunjung tapi apa mau di kata karena ini memang pekerjaannya.


Di kulub malam memang sudah hal lumrah jika mereka yang bukan suami istri berciuman bahkan lebih dari itu karena ini memang tempatnya bagi orang-orang yang ingin melampiaskan nafsu.

__ADS_1


Lilis di minta oleh seorang bartender untuk mengantarkan minuman kepada salah satu pengunjung yang sedang duduk sendirian karena dia tidak mau di temani oleh siapa pun. Lilis pun langsung mengantarkan minuman tersebut tanpa banyak bertanya kepada bartender karena baginya cepat di menyelesaikan pekerjaannya maka akan cepat pula dia pulang untuk beristirahat. Bau alkohol tercium di seluruh ruangan ini dan dari setiap mulut pengunjung karena mereka semua adalah penikmat alkohol meskipun mereka sudah tau dampak buruknya bagi kesehatan yang terpenting mereka tengang setelah meminumnya itulah yang selalu di katakan oleh mereka. Ketika sampai di tempat yang di tuju Lilis Pun langsung meletakkan minuman tersebut.


"Ini minumannya tuan"


"Hem" hanya itu yang keluar dari mulut lelaki tersebut, setelah meletakkan minuman di atas meja Lilis kembali ke tempat bartender tadi karena dia nyaman mengobrol dengan bartender tersebut yang bernama Riko.


"Kenapa Lis, capek ya?"


"Hu uh capek, malam ini banyak banget yang datang gak ada habis-habisnya dari tadi." Lilis meletakkan kepalanya di atas meja yang ada di depannya.


"Namanya juga kerja, gak kerja maka gak dapat duit, trus kalau gak dapat duit gak bisa makan namanya juga hidup" Riko sang bartender pun sebenarnya juga merasa lelah namun mau bagaimana lagi inilah pekerjaannya jika tidak kerja bagaimana dia bisa mendapatkan uang, jika dia tidak punya uang siapa yang akan memberi makan adik dan juga ibunya.


Riko bukanlah orang berada dia harus bekerja keras untuk bisa membiayai sekolah adik perempuannya yang masih duduk di bangku SMP dia tidak ingin sang adik berhenti sekolah dan juga harus memberi ibunya uang agar dapur mereka tetap berasap sehingga mereka bisa makan. Ya, Riko hanya tinggal bersama ibu dan juga sang adik setelah ayahnya meninggal ketika dia masih sekolah SMA dulu sehingga dia harus bekerja keras untuk menyambung hidup mereka.


Dan karena adik perempuannya lah membuat Riko tidak mau mempermainkan hati wanita karena dia percaya karma itu pasti berlaku padahal jika Riko mau di tempatnya bekerja sekarang yang sebagai seorang bartender bisa mendapatkan uang dengan menjadi simpanan tante-tante atau apalah yang bisa menghasilkan banyak uang namun dia tidak mau melakukan itu, dia takut jika karena ulahnya maka akan berdampak kepada adik satu-satunya.


"Nanti aku akan mengantarkan mu pulang, aku takut jika kamu pulang sendirian karena sekarang waktunya orang-orang beristirahat hanya orang-orang yang... kamu sendiri taulah"


Lilis mengangguk dia paham apa yang di maksud oleh Riko, dia pun selalu takut pulang sendirian.


"Lis, sebaiknya kamu berhenti saja kerja di kafe karena jika kamu bekerja di kafe maka waktu istirahat mu akan berkurang dan waktu kamu bersama anak mu juga bisa hilang! Memang mencari uang adalah tugasmu namun jangan sampai kamu kehilangan waktu bersama anakmu jangan sampai dia merasa lebih nyaman bersama orang lain ketimbang ibunya sendiri"


Lilis membenarkan ucapan Riko selama ini dia selalu sibuk mencari uang tanpa ada lagi waktu untuk sang putri.

__ADS_1


"Baiklah nanti aku pikirkan saranmu, sekarang ayo kita kembali bekerja."


Mereka pun bekerja kembali, tanpa merasakan kantuk karena ini sudah hal yang biasa bagi mereka.


__ADS_2