Pergilah Mas

Pergilah Mas
Bab 7


__ADS_3

Siti sampai di rumah orang tuanya malam hari. Suasana di sekitar rumah orang tuanya sudah sepi. Orang tua Siti tinggal di kota sebelah, jarak tempuhnya sekitar 10 jam dari tempat tinggal Arya. Karena setelah menikah dengan Arya, Siti pun ikut pindah ke kota asal Arya dan tinggal di sana.


Siti jarang pulang jarang pulang ke rumah orang tuanya, mengingat jarak tempuh dan kesibukan Arya mengurus restoran. Mereka hanya pulang jika ada saudara yang akan menikah atau pun meninggal, bahkan terkadang mereka hanya pulang saat lebaran saja.


"Siti alhamdulillah akhirnya kamu sampai juga nak, ibu cemas sama kamu" ucap sang ibu yang bernama Samsiah sambil memeluk anaknya yang baru saja turun dari mobil.


"Alhamdulillah Siti baik-baik aja bu."


"Buk, kok malah ngobrol di luar, ajak anaknya masuk dulu! ucap sang bapak.


"hehehe... ibu lupa pak. sekarang kita masuk dulu, Hanan biar bapakmu yang bawa masuk, ingat pak gendong cucunya jangan sampai dia bangun!" ujar sang ibuk.


Siti masuk ke dalam rumah bersama sang ibu di susul bapaknya yang sedang menggendong anaknya.


"Pak langsung gendong ke kamar aja, kamar Siti sudah ibu bersihkan."


Bapak pun berlalu menuju kamar Siti untuk membaringkan sang cucu. Sementara Siti duduk di ruang keluarga bersama ibunya.


"Siti kok bisa sih Arya berbuat begitu sama kamu, dia peduli sama orang lain tapi tidak peduli dengan perasaan istri dan anaknya. gak habis pikir ibu sama Arya."


"Buk, biarkan Siti istirahat dulu! besok baru kita bicara lagi. Dia sekarang pasti capek." ujar pak Ali mengingatkan istrinya.


"Baiklah, sekarang kamu istirahat dulu besok kita bicara lagi." Siti hanya mengangguk dan kemudian berdiri berjalan menuju kamarnya yang sudah lama ia tinggal. Jujur saja badannya saat ini pegal-pegal semua, apalagi di mobil dia terus memangku sang anak yang sedang tertidur.

__ADS_1


Bapak dan ibuk Siti keluar rumah membantu pak sopir mengangkat barang-barang yang di bawa Siti masuk ke dalam rumah.


Setelah selesai sang sopir pun pamit untuk langsung pulang ke rumahnya.


...----------------...


Pagi harinya Siti sudah sibuk membantu ibunya menyiapkan sarapan. Ibu Samsiah menyiapkan begitu banyak makanan, katanya untuk menyambut anak dan cucunya.


"Bu, makanan sebanyak siapa yang menghabiskannya? tanya Siti.


"Ya, kamu sama anak mu lah! ibu kan, senang melihat kalian pulang dalam keadaan selamat" ujar ibu Samsiah sambil terkekeh.


"Oh ya buk, kok aku dari tadi malam gak liat Ari ya? ke mana dia buk?


Siti menanyakan keberadaan adik satu-satunya karena dia hanya memiliki satu saudara laki-laki saja.


Baru sebentar ibu Samsiah mengatakan anak laki-lakinya akan pulang, sekarang Ari sudah ada di dapur.


"Hai mbak Siti, apa kabar? lama kita tidak berjumpa, dulu kalo gak salah kita ketemu mbak masih punya suami kan? kok sekarang sudah jadi janda aja? Ilmu pelet mbak udah habis ya ? ujar sang adik sambil menggoda kakak satu-satunya. Bahkan dagu sang kakak tidak lupa di colek olehnya.


Memang, seperti ini lah Ari, terkadang otaknya lebih sering bergeser dari tempat yang seharusnya. Jika otaknya sudah bergeser maka akan timbul sifat absurd nya, yang sering membuat orang rumahnya merasa jengkel.


Pletok..

__ADS_1


Suara kepala Ari yang di pukul sang ibu menggunakan centong nasi.


"Kamu itu ya, baru juga pulang udah godain kakak aja. Harusnya kamu itu beri semangat untuk kakak dan juga keponakanmu, paham! ujar ibu samsiah dengan suara yang tinggi.


Siti hanya tertawa melihat adiknya di pukul oleh ibunya, memang seperti inilah keadaan mereka, selalu saja di buat kesal oleh Ari. Bahkan Hanan pun tertawa terbahak-bahak melihat Om-nya di pukul sang nenek.


Pak Ali hanya menggeleng-geleng kan kepala melihat tingkah mereka.


"Baik lah, aku akan memberi ucapan semangat untuk mbak Siti dan juga keponakan ku tersayang" ucap Ari dengan wajah yang di buat seserius mungkin.


"Baik lah mbak akan mendengar ucapan semangat dari kamu, sekarang mulai lah! ucap Siti yang mulai mengikuti drama yang di buat sang adik.


"Wahai mbak ku yang cantik jelita meskipun sudah menjadi janda, tahan buk, jangan marah dulu aku belum selesai. nanti kalo sudah selesai terserah ibu mau lanjut marah atau gak! Ari berkata begitu karena melihat sang ibu yang sudah siap-siap ingin memukulnya.


"Baik lah sekarang aku lanjutkan. Wahai mbak ku yang cantik jelita meskipun sudah menjadi janda. Ingat menjadi janda bukanlah sebuah aib, tapi... menjadi janda adalah kesempatan emas untuk mencari suami yang lebih KAYA" setelah mengatakan itu Ari pun berlari meninggalkan dapur langsung masuk ke kamarnya dan tidak lupa mengunci pintu karena, ia tau sang ibu saat ini sedang marah kepadanya.


Benar saja, ibu Samsiah yang melihat Ari berlari langsung menggedor-gedor kamarnya.


"Ari awas kamu ya! gak akan ibu beri uang jajan! berani sekali kamu mengatakan itu kepada mbak mu, awas saja kamu nanti" ucap ibu Samsiah dengan marah, karena merasa kesal pintu kamar Ari tidak di buka-buka akhirnya ibu Samsiah meninggalkan kamar Ari.


Sementara di dalam kamar Ari tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.


Begitu juga yang terjadi di dapur, Siti dan pak Ali tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Benar yang di ucapkan oleh adik mu itu, ti. Menjadi janda bukanlah aib, jadi kamu tidak perlu merasa malu." ucap sang bapak setelah berhenti tertawa. Siti hanya mengangguk.


Sekembalinya ibu Samsiah dari mengejar Ari mereka langsung menyantap makanan yang telah tersedia di atas meja tanpa kehadiran Ari karena, Ari masih takut keluar dari kamarnya. Ia takut jika keluar maka sapu akan melayang di tubuhnya.


__ADS_2